DOC Ayam Petelur Anjlok, Pinsar Ingatkan Risiko Kelangkaan Telur saat Nataru

Rika Anggraeni
Rika Anggraeni Rabu, 28 Oktober 2026 21:27 WIB
DOC Ayam Petelur Anjlok, Pinsar Ingatkan Risiko Kelangkaan Telur saat Nataru

Telur Ayam - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga jagung pakan yang mencapai lebih dari Rp8.000 per kilogram di tengah rendahnya harga telur di tingkat peternak memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan usaha ayam petelur. Pinsar Petelur Nasional (PPN) memperingatkan kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan telur menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Lebaran, terutama jika peternak kesulitan melakukan peremajaan ayam.

Ketua PPN Yudianto Yosgiarso mengatakan harga jagung yang ditawarkan pedagang saat ini berkisar Rp7.800 per kilogram hingga lebih dari Rp8.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur di tingkat peternak hanya berada pada kisaran Rp19.500–Rp20.000 per kilogram.

“Ketersediaan jagung saat ini, kami masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan jagung dengan harga yang wajar. Jagung memang ada pedagang-pedagang menawarkan, dengan harga minimal itu Rp7.800, bahkan ada yang Rp8.000, Rp8.000 lebih,” kata Yudianto saat dihubungi Bisnis, Rabu (28/10/2026).

Ketimpangan antara biaya produksi dan harga jual tersebut membuat peternak semakin sulit menutup pengeluaran operasional. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menggerus modal usaha dan menghambat kemampuan peternak mempertahankan populasi ayam petelur.

Biaya Pakan Dominasi Produksi Telur

Yudianto menjelaskan pakan menyumbang sekitar 80% dari biaya pembentukan harga pokok produksi (HPP) telur. Dari keseluruhan komponen biaya pakan, jagung berkontribusi sekitar 50%, konsentrat 35%, dan dedak 15%.

Besarnya porsi pakan membuat kenaikan harga jagung langsung menambah tekanan terhadap biaya produksi. Yudianto mencontohkan, apabila harga jagung meningkat dari Rp6.000 per kilogram menjadi Rp8.000 per kilogram, peternak harus menanggung tambahan biaya Rp2.000 untuk setiap kilogram jagung yang digunakan.

Tekanan tersebut semakin terasa karena kebutuhan pakan untuk menghasilkan telur cukup besar. Peternak membutuhkan sekitar 3 kilogram pakan untuk menghasilkan 1 kilogram telur, sehingga mahalnya bahan baku dapat memperbesar selisih antara biaya produksi dan pendapatan dari penjualan.

Harga DOC Layer Turun hingga Rp3.000 per Ekor

Selain mahalnya jagung pakan, tekanan terhadap industri ayam petelur juga terlihat dari anjloknya harga bibit ayam petelur atau day-old chick (DOC) layer. Yudianto menyebut harga DOC yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000–Rp14.000 per ekor kini turun menjadi Rp3.000–Rp4.000 per ekor.

“DOC layer yang kemarin dijual Rp9.000 sampai dengan Rp13.000, Rp14.000, saat ini DOC itu sudah di harga Rp3.000 sampai dengan Rp4.000,” ucapnya.

Menurut Yudianto, penurunan harga DOC mencerminkan melemahnya minat peternak untuk menambah populasi ayam. Biaya pemeliharaan yang masih tinggi menjadi salah satu tekanan, sementara ayam yang telah berproduksi juga belum memberikan keuntungan bagi peternak.

Situasi tersebut berpotensi menghambat peremajaan atau replacement ayam petelur. Padahal, penggantian populasi ayam dibutuhkan agar peternak dapat menjaga keberlangsungan produksi telur.

Yudianto mengatakan kerugian yang terus berlangsung dapat membuat peternak tidak lagi memiliki modal yang cukup untuk melakukan peremajaan. Apabila jumlah ayam yang diganti semakin berkurang, kapasitas produksi telur pada periode berikutnya berisiko ikut tertekan.

“Kondisinya tiap hari rugi, kalau kondisi seperti itu diteruskan, berarti kan kekuatan untuk replacement dari peternak, nggak ada. Nah ini yang kami khawatirkan, kalau ini terus menerus begitu, di bulan-bulan tertentu besok bisa terjadi kekurangan telur, ini yang harus dipikirkan dengan baik,” ujarnya.

Pasokan Telur Dikhawatirkan Terganggu saat Nataru dan Lebaran

PPN mengingatkan risiko kekurangan telur perlu menjadi perhatian karena tekanan biaya produksi dapat memengaruhi keputusan peternak untuk mempertahankan atau menambah populasi ayam. Jika peremajaan terus dikurangi, kemampuan produksi telur berpotensi terganggu ketika permintaan meningkat.

Periode yang menjadi perhatian ialah Natal dan Tahun Baru serta Lebaran, ketika kebutuhan telur berpotensi meningkat. Yudianto menegaskan mahalnya pakan yang tidak sebanding dengan harga jual telur membuat peternak kesulitan mempertahankan usaha sekaligus menyiapkan modal untuk mengganti ayam petelur.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan keberlanjutan produksi pada bulan-bulan mendatang. Apabila peternak terus mengalami kerugian dan tidak mampu melakukan peremajaan, pasokan telur berisiko mengalami kekurangan pada periode tertentu, sebagaimana diperingatkan PPN.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online