PENJUALAN MOBIL : Diprediksi Stagnan, Apa Penyebabnya?

PENJUALAN MOBIL : Diprediksi Stagnan, Apa Penyebabnya?
19 Maret 2015 20:20 WIB Arief Junianto Ekbis Share :

Penjualan mobil di Indonedia dihantui kelesuan.

Harianjogja.com, JOGJA – Tren penjualan mobil secara nasional selama 2015 diperkirakan akan stagnan, bertengger di posisi tidak jauh dari 1,2 juta unit.

Berdasarkan catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), selama Januari penjualan mobil nasional hanya berjumlah 81.193 unit. Tak heran jika hampir semua perusahaan mobil di Indonesia tak mematok target yang berbeda dari 2014 lalu, pada tahun ini.

Begitu juga dengan perusahaan mobil yang ada di wilayah DIY-Jateng. Nasmoco misalnya, untuk 2015,
perusahaan yang menaungi mobil merek Toyota ini memasang target penjualan yang kurang lebih sama dengan tahun lalu, sekitar 29.000 unit. Operation Manager South Area PT New Ratna Motor Agus Partono mengakui, sejak 2014 lalu, penjualan mobil memang cenderung stagnan. Sepanjang tahun nyaris tak ada lonjakan yang signifikan.

"Beruntung, penjualan kami pada 2014 lalu mencapai target yang ditetapkan," ucapnya saat ditemui di sela-sela acara Golden Moment With Nasmoco di Hotel Royal Ambarrukmo, Selasa (17/3/2015) malam.

Kelesuan pasar industri mobil tersebut bisa sedikit ditutupi dengan dominasi Avanza di kelas Low MPV. Ia mengklaim penjualan Avanza pada 2014 terbilang fantastis jika dibandingkan merek lain di kelas yang sama. Tak heran jika, total penjualan mobil Toyota, hampir 50% berasal dari penjualan Avanz. Pada 2015 ini, pihaknya baru akan merilis Avanza tipe terbaru. Setidaknya pada semester kedua Maret ini, pihaknya akan merilis empat mobil baru kelas yang jauh lebih tinggi. Ketiganya adalah Camry, Rush, Alphard, dan Vellfire.

Hal sama dialami Suzuki Sumber Baru Mobil. Erwin, Marketing Manager Suzuki Sumber Baru Mobil
mengakui, terulangnya stagnasi penjualan mobil nasional sudah terlihat sejak Januari 2015 lalu.

Dikatakan dia, dari total penjualan mobil seluruh brand di DIY pada bulan pertama 2015 yang mencapai 1.833 unit, 14,6% atau sekitar 268 unit di antaranya merupakan kontribusi dari Suzuki. Sementara di tingkat nasional, total penjualan yang mencapai 81.193 unit, Suzuki menyumbang kontribusi sebesar 11.687 atau sekitar 14,4%.

Jika Toyota memilih 'bertarung' di kelas Low MPV, berbeda halnya dengan Suzuki. Dikatakan Erwin, pihaknya merasa lebih nyaman jika harus bertarung di kelas Medium MPV dengan mengedepankan Ertiga sebagai ikon. Di kelas tersebut, setidaknya Ertiga harus bersaing dengan 600-an unit mobil lain dari semua merek setiap bulannya. Diakuinya, hingga kini Ertiga terbilang mampu bersaing dengan menguasai hampir dari 15% pasar yang ada.

"Kalau jumlah unit yang terjual sekitar 90-100 unit per bulan. Itu catatan tahun lalu ya," ucapnya.

Untuk 2015, di kelas Medium MPV tingkat nasional dari total 20.745 unit mobil yang beredar, market share Ertiga adalah 18,3% atau sebanyak 3.800 unit. Sedangkan untuk tingkat DIY, dari total 681 unit mobil yang terjual di kelas yang sama, Ertiga diakui mampu menguasai pasar hingga mencapai 12,8% atau sebanyak 87 unit. Namun, dari tiga kelas yang diunggulkan, yakni Medium MPV (Low Bonnet), LCGC, dan Pick Up Low, ia mengakui kelas Pick Up Low yang hingga kini masih merajai penjualan Suzuki.

"Setidaknya, di tingkat nasional Januari 2015 lalu, kami menguasai pasar hingga 39 persen atau sebanyak 5.183 unit dari total 81.193 unit pick up low yang terjual. Sementara di tingkat DIY, market share kami sebesar 14,6 persen atau sebanyak 268 unit dari total keseluruhan 1.883 unit pick up low yang terjual," terangnya.

Gaikindo menegaskan, target penjualan mobil tahun ini dipatok sama dengan 2014, yakni di kisaran 1,2 juta unit. Penjualan kendaraan selama 2014 sudah turun 1,8% dibanding 2013. Jika pada 2013 sebanyak 1.229.916 unit yang terjual, pada 2014 sebanyak 1.208.019 unit.

Menurut Ketua Umum Gaikindo Sudirman, penyebab utama penurunan pada 2014 adalah kondisi politik di mana ada perhelatan pemilihan umum. Selain itu, di akhir tahun, pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.