Kejurda MMA DIY 2026 Jadi Ajang Cetak Atlet Potensial
Kejurda IBCA-MMA DIY 2026 di Jogja jadi ajang pembinaan atlet muda dan pencarian bibit potensial menuju level profesional
Ilustrasi uang rupiah/Reuters
Harianjogja.com, JOGJA- Pemda DIY melalui Disperindag DIY meyakini sejumlah perusahaan manufaktur yang berada di DIY dapat mengatasi persoalan pelemahan rupiah. Jenis usaha di DIY yang didominasi usaha mikro kecil menengah (UMKM) diklaim tidak terkena dampak signifikan terhadap pelemahan rupiah karena sebagian besar bahan impor yang dipakai relatif kecil.
Kepala Disperindag DIY Tri Saktiyana menjelaskan sebagian besar usaha di DIY kelasnya UMKM atau industri rumahan. Jumlah perusahaan manufaktur dengan skalan besar sangat sedikit bahkan bisa dihitung dengan jari. Padahal industri rumahan yang saat ini berjalan hasil produknya adalah kerajinan. Sehingga biaya terbesar yang banyak dikeluarkan yaitu unsur tenaga kerja.
"Contohnya kain batik misal harganya Rp200.000 itu upah tenaga kerjanya Rp110.000, kemudian yang Rp90.000 itu bahan baku seperti kain, malam, warna dan lainnya. Nah dari Rp90.000 bahan itu yang harus diimpor dengan dolar itu paling cuma Rp5.000 untuk warna tertentu," ucapnya, Kamis (6/9/2019).
Sakti mengakui memang ada pengaruh pelemahan rupiah terhadap UMKM namun sangat kecil. Setiap produk UMKM diperkirakan hanya sekitar 2,5% saja bahan yang harus mengimpor karena lebih banyak menggunakan bahan lokal. UMKM yang mampu mengekspor dengan harga dolar justru akan mendapatkan keuntungan yang lumayan besar. Sayangnya banyak UMKM di DIY yang ekspornya masih dibeli dengan kurs rupiah.
Berbeda dengan sejumlah perusahaan manufaktur skala besar seperti di Tangerang, Karawang, Surabaya maka dampaknya sangat terasa. "Ya ada memang kenaikan tetapi tidak seperti yang dirasakan seperti di kota-kota lain," ujarnya.
Ia mengatakan ada sejumlah perusahaan manufaktur di DIY dengan banyak komponen impor. Menurutnya, sejumlah perusahaan itu sebenarnya sudah berupaya menggunakan bahan dari lokal dengan mengurangi komponen impor. Tetapi mengimpor bahan memang masih dilakukan perusahaan tersebut.
Trisakti meyakini sejumlah perusahaan manufaktur di DIY sudah berpengalaman dalam melewati proses krisis sehingga mereka sudah memiliki kiat untuk mengantisipasi kemungkinan adanya goncangan ekonomi. Sehingga Sakti yakin perusahaan manufaktur di Jogja akan tetap stabil dan tidak sampai berdampak pada PHK karyawan.
"Seperti Kubota itu kan perusahaan cukup lama sehingga berpengalaman menghadapi semacam ini," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kejurda IBCA-MMA DIY 2026 di Jogja jadi ajang pembinaan atlet muda dan pencarian bibit potensial menuju level profesional
Apple mulai uji produksi chip iPhone dan Mac di Intel untuk kurangi ketergantungan pada TSMC di tengah tekanan AI dan geopolitik
Tech3 resmi perpanjang kontrak jangka panjang dengan KTM demi hadapi regulasi baru MotoGP 2027. Tetap dapat pasokan motor spesifikasi pabrikan.
Pelajar 17 tahun tewas usai diduga dianiaya menggunakan senjata tajam di Kotabaru Jogja. Polisi masih memburu pelaku.
Google menghapus 28 aplikasi Android palsu CallPhantom yang mengaku bisa memata-matai WhatsApp dan riwayat panggilan pengguna.
Bisnis ternak sapi dan kambing jelang Iduladha 2026 masih menjanjikan, tetapi peternak harus menghitung modal dan risiko secara matang.