Aan Vega Jualan Tenun dengan Teori Tulang Ikan

Aan Vega Jualan Tenun dengan Teori Tulang Ikan Aan Vega dan salah satu produk Tenunesia, Jumat (28/9). - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
29 September 2018 12:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meski di era daring seperti saat ini berjualan semudah memotret produk dan mengunggahnya ke media sosial atau market place, berjualan offline juga perlu dilakukan. Ada trik dan teori khusus yang harusnya dipahami oleh para pelaku bisnis.

Aan Vega sudah menjalankan bisnis menjual kain tenun ini selama kurang lebih tiga tahun. Itu jika dihitung sejak ia mulai memasarkannya di Jogja dan aktif menggunakan media sosial untuk berjualan produk. Namun jika dirunut ke belakang, bisnis ini sudah berjalan turun temurun sejak puluhan tahun lalu di Desa Troso, Jepara, Jawa Tengah, asal daerah istrinya. Maka tak heran kain tenun yang diproduksi lebih dikenal sebagai kain troso, merujuk pada daerah tempat produksinya.

Meski sudah berjalan lama, distribusi kain troso hasil produksi industri rumahan tersebut belum bisa menjangkau secara maksimal daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa. Aan lantas berinisiatif untuk mulai memasarkannya lewat media daring, melalui Istagram dengan mengusung nama Tenunesia. Kala itu, Aan mengenang dunia jual beli daring belum seramai sekarang. Market place atau e-commerce belum berkembang pesat. "Namun sedikit demi sedikit saya menambah pengetahuan dan pengalaman juga. Saat e-commerce mulai berkembang, saya ikut pelatihan-pelatihan atau inkubasi untuk memajukan bisnis penjualan online ini," katanya kepada Harian Jogja, Jumat (28/9).

Namun sebagai pemain bisnis lama, Aan sadar betul ia tak bisa hanya bergantung pada penjualan daring saja. Maka ia pun mulai membagi cara kerjanya dalam dua langkah dan dua tujuan yang berbeda, yakni pasar retail dan grosir. Pasar retail disasarnya lewat penjualan daring, melalui media sosial dan market place. Hal itu menurutnya cukup efektif untuk menjaring pembeli dari wilayah luar Jawa, seperti Makassar bahkan Papua. Sedangkan pasar grosir juga ia tekuni dengan menerapkan teori tulang ikan.

Aan menjelaskan teori tulang ikan merupakan analogi untuk menekuni bisnis. Ada tulang utama dan cabang-cabangnya. Artinya dalam menjalankan bisnis, selain menjalankan cara utama, pebisnis harus mau mencoba kemungkinan-kemungkinan lain yang tersedia di kanan kirinya. "Ada jalan utama. Ada juga gang-gang kecilnya. Nah saya menyempatkan waktu dan tenaga untuk keliling, bahkan ke gang-gang kecil untuk ketemu langsung dengan para calon konsumen. Entah tukang tas, panjahit baju, atau bahkan pedagang-pedagang pasar untuk menawarkan kain ini. Pasti ada dua tiga yang "nyantol" dan jadi langganan," ucapnya.

Memang cara tersebut menurutnya butuh ketekunan yang tinggi. Tapi bagaimanapun Aan sadar betul konsumennya bukan cuma anak muda yang berbelanja dengan klik dan bayar. Ada pula konsumen potensial dari golongan tua yang biasanya ogah ribet dengan smartphone, mereka lebih yakin jika bertemu langsung dengan penjual. Pasar itulah yang berusaha ia sasar melalui cara berjualan ala teori tulang ikan. Cara itu terbukti sukses, hingga kini ada beberapa penjahit dan produsen tas ataupun kerajinan lainnya yang kulakan bahan produknya ke Tenunesia. Jumlahnya pun tak main-main, puluhan hingga ratusan kain bisa diambil dalam jangka waktu berkala, sebulan sekali misalnya. "Saya juga rajin keliling ke Pasar Beringharjo. Kalau ke lantai I, yang jual kain-kain, semua pasti tahu kain troso Aan," katanya dengan sumringah.

Tak hanya teori tulang ikan, Aan menyebut teori obat nyamuk pun bisa diterapkan. Pebisnis harus mulai menyasar pasar-pasar kecil di sekitarnya untuk dapat berkembang menjadi bisnis yang lebih besar. Persis seperti poros obat nyamuk bakar. Keseriusannya menerapkan teori-teori tersebut, membuat Aan punya banyak pelanggan grosir. Sebut saja pedagang Pasar Beringharjo yang rata-rata mengambil barang hingga 300 potong dalam sekali stok. Artinya dalam sekali ambil saja, Aan sudah bisa mendapatkan uang sebesar Rp10 juta, belum lagi pelanggan-pelanggan lainnya.

Niat awalnya untuk mendistribusikan produk tenun yang selama ini stagnan akhirnya bisa terwujud, bahkan berkembang. Apalagi Aan menyebut produksi tenun di Troso mayoritas industri rumahan yang menyerap tenaga kerja setempat dengan jumlah cukup banyak. Pasalnya tiap-tiap proses, punya ahlinya sendiri-sendiri. Jika distribusi mandek, tak pelak para tenaga kerja itupun tak bisa mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya. Sebaliknya jika distribusi lancar, kesejahteraan mereka terangkat.

Oleh sebab itu, Aan berulangkali berpesan, ada banyak pihak yang terlibat dalam mata rantai bisnis dengan ujung tombak distribusi. "Jika mau serius menekuni bisnis, kita tidak bisa berpikir sektoral. Harus memikirkan orang-orang yang ada di belakang kita, memikirkan cara-cara terbaik agar produk tersebut sampai ke konsumen dan membawa manfaat bagi mata rantai bisnis ini," imbuhnya.