Terracota Sisipkan Pesan & Nilai pada Tiap Produk

Terracota Sisipkan Pesan & Nilai pada Tiap ProdukDini Pramesti dan Eric Anindita memperlihatkan produk Terracota, Jumat (30/11). - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
03 Desember 2018 08:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bermula dari keinginan untuk mendanai penelitian secara mandiri, Dini dan Eric memulai bisnis Terracota. Mengusung tagline Make Gerabah Great Again, ada begitu banyak optimisme yang mereka selipkan dalam bisnis ini.

Dini Pramesti dan Eric Anindita mulanya sama sekali tak tahu menahu dunia gerabah. Perkenalan mereka dengan gerabah bisa dibilang cukup unik. Saat masih duduk di bangku kuliah Prodi Biologi UGM, mereka seringkali bergelut dengan penelitian dan konfrensi-konfrensi. Suatu kali, abstrak yang mereka kirimkan lolos untuk konfrensi di Melbourne, Australia. Padahal kala itu, mereka hanya memiliki waktu dua minggu dari pengumuman hingga pelaksanaan kegiatan. Urusan visa dan dana untuk mengikuti konfrensi tersebut belum beres sama sekali.

“Dari situlah kami berpikir untuk bisa mendanai penelitian dan konferensi, hal yang sama-sama kami senangi, kami harus mandiri secara finansial. Pasalnya untuk biaya kegiatan itu tidak kecil,” katanya saat ditemui Harian Jogja, Jumat (30/11).

Mereka berdua pun mau tidak mau harus memutar otak, memikirkan bisnis apa yang bisa dikerjakan berdua. Kemudian keduanya memilih untuk menekuni hobi melukis. Mulai untuk melukis di medium biasa seperti kanvas dan kertas, kemudian merambah ke suvenir seperti bantal. Melalui medium-medium tersebut, mereka melukis hewan-hewan yang mereka geluti setiap hari di bangku kuliah. Setelah berjalan beberapa waktu, mereka kemudian beralih melukis pada medium gerabah, salah satu medium yang punya banyak tantangan. “Pada 2016, ide bisnis kami berhasil memenangkan kompetisi di tingkat nasional. Sejak saat itulah kami mulai serius menggarap bisnis ini karena sudah mendapatkan ilmu dari mentor dan masukan-masukan,” katanya.

Menggeluti gerabah, menurut Dini, bukanlah hal yang mudah. Ada begitu banyak tantangan, baik dari medium ataupun segmentasi pasar. Dini menjelaskan gerabah punya karakter yang cukup unik. Ia tidak bisa sembarangan dilukis karena warnanya yang cenderung kusam, alat untuk melukisnya pun harus melalui trial and error. Melukis di gerabah, menurutnya tidak bisa maksimal jika dilakukan dengan kuas karena tidak menutup pori-pori dengan sempurna. Maka dalam menjalankan bisnis ini, Dini dan Eric selalu melakukan eksplorasi medium.

Belum lagi urusan segmen pasar. Dini mengakui pemasaran produk gerabah yang mereka beri label Terracotta di Jogja tidak mudah. Pasalnya kebutuhan membeli gerabah bagi masyarakat Jogja merupakan kebutuhan tersier. Apalagi Jogja sangat dekat dengan produsen produk ini. “Beda dengan di kota besar seperti Jakarta, produk kami relatif mudah diterima,” ujarnya.

Namun demikian, Dini mengaku hal itu malah menjadi motivasi mereka berdua untuk terus berinovasi mengambangkan produk Terracotta. Mereka mengeksplorasi bentuk yang tak biasa dengan pesan yang mendalam. Misalnya mereka membuat desain gerabah berupa pot berbentuk pohon yang tumbang, tetapi diwarnai serupa harimau. Ini menurutnya merupakan respons mereka terhadap berjuta-juta hektare hutan di Sumatra dan Kalimantan yang dibabat habis untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Padahal hutan tersebut merupakan habitat harimau. Pesan-pesan dalam produk seperti inilah yang membuat mereka berbeda dengan produk gerabah lainnya.

Terracota juga membuka workshop khusus bagi mereka yang ingin tahu bagaimana cara pembuatan gerabah mulai dari nol. Sebab menurut Dini, membangkitkan kepedulian tentang pesan yang berusaha disampaikan oleh Terracotta dapat tercapai jika mereka ikut langsung, merasakan pengalaman produksi hingga produk jadi. Dengan begitu, konsumen lebih bisa menghayati pesan-pesan yang tersirat dari produk Terracota. Meskipun pada akhirnya, kesempatan untuk berangkat belum berhasil mereka raih, Dini mengaku setidaknya hal itu menjadi pintu gerbang mereka untuk mengangkat derajad gerabah. Memberi dimensi pesan dan nilai yang baru pada produk tanah liat yang kini makin tak dilirik oleh masyarakat.