Konsumen Pilih Tunda Pembelian Hunian

Konsumen Pilih Tunda Pembelian HunianIlustrasi rumah murah bersubsidi - JIBI
29 Desember 2018 11:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tahun politik mendatang diyakini tidak akan memengaruhi bisnis properti di DIY. Kendati daya beli konsumen properti sangat tinggi, penundaan pembelian produk properti tetap akan terpengaruh.

“Pengaruhnya tidak besar, hanya untuk konsumen dari luar Jogja kemungkinan akan menunda pembelian. Salah satunya mungkin karena kondisi pemilu di daerah masing-masing akan memberi dampak pada ekonomi atau daya beli konsumen itu sendiri,” ujar Ketua Real Estat Indonesia (REI) DIY Rama Adyaksa Pradipta kepada Harian Jogja, Jumat (28/12).

Rama menuturkan iklim politik saat pemilu di DIY selalu dinilai kondusif. Berbagai sektor bisnis yang ada masih bisa bertahan dan cenderung berjalan normal, termasuk daya beli konsumen terhadap produk properti.

Namun Rama tak menampik adanya pengaruh selama penyelenggaraan pesta demokrasi Indonesia pada 2019. Mengingat sebagian besar konsumen produk properti seperti hunian di Jogja lebih didominasi dari luar daerah.

“Karena mahalnya harga tanah di Jogja akan berdampak pada mahalnya harga produk hunian yang dikembangkan. Sebagian besar konsumen yang mampu membelinya, ya, dari luar DIY,” ungkap Rama.

Hal itu juga turut memengaruhi lokasi-lokasi pengembangan hunian. Rama menjelaskan semakin dekat lokasi pengembangan hunian dengan kawasan perkotaan, maka tanah atau lahan yang ditawarkan akan semakin tinggi. Hal itu tentunya akan memengaruhi harga penjualan rumah atau produk hunian di masyarakat.

“Suplai produk [hunian] pun juga akan semakin terbatas, karena sulitnya mencari lokasi karena mahalnya harga tanah. Mau tidak mau harga produk [hunian] juga akan menyesuaikan, semakin mahal maka semakin sulit juga dijangkau masyarakat,” ujar Rama.

Tak heran apabila kini, sejumlah pengembang mulai melirik Bantul dan Kulonprogo sebagai target lokasi pengembangan produk hunian bagi masyarakat DIY. Pengembangan bandara baru di Kulonprogo juga menjadi salah satu faktor kian tidak terkendalinya harga tanah di sejumlah wilayah di Kulonprogo.

Rama mengungkapkan euforia dibangunnya New Yogyakarta International Airport (NYIA) sedikit banyak telah memberi dampak pada peningkatan harga tanah di Kulonprogo. Intervensi pemerintah dalam mengendalikan harga tanah, kata Rama, dinilai perlu, agar harga tanah dan hunian dapat terkendali, sehingga masyarakat Jogja mampu menjangkaunya.

“Sementara lahan di sekitar bandara belum di-keep, euforia bandara ini menyebabkan harga lahan di sekitarnya menjadi tidak terkendali, antara lain semakin maraknya spekulan tanah di kawasan tersebut,” papar Rama.