Atsiri Turun, Ganti Ekspor Tutup Kepala Meningkat

Atsiri Turun, Ganti Ekspor Tutup Kepala MeningkatIlustrasi minyak atsiri - Ist./infopeluangusaha
08 Januari 2019 15:31 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jika pada pertengahan 2018 ekpor minyak atsiri terus meningkat, jelang akhir tahun nilai ekspor komoditas ini malah menurun. Peningkatan terbesar komoditas ekspor didominasi oleh produk tutup kepala dan plastik serta barang-barang dari plastik.

Kepala badan Pusat Statistik (BPS) DIY JB Priyono menuturkan ekspor minyak yang menjadi bahan baku pembuatan parfum ini nilainya turun paling besar berdasarkan data November 2018 yakni sebesar 39,43%. Disusul ekspor barang-barang rajutan yang turun sebesar 20,95% dan pakaian jadi bukan rajutan sebesar 19,18%. Penurunan tiga dari sepuluh komoditas ekspor utama tersebut menurut Priyono menyumbang penurunan nilai ekspor dari Oktober ke November 2018 (month to month) sebesar 9,12%, yakni sebesar US$34,2 juta [Rp482,1 miliar] dibanding bulan sebelumnya sebesar US$37,6 juta [Rp530,01 miliar]. Penurunan tersebut juga dipengaruhi oleh penurunan nilai ekspor tujuh dari sepuluh negara tujuan utama, yakni Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Australia, Belgia, Prancis, dan Belanda.

Namun jika dihitung nilai ekspor kumulatif Januari-November 2018 dibandingkan dengan kondisi setahun yang lalu Januari-November 2017 (year on year), ada peningkatan sebesar 9,83%. Sebab tujuh dari 10 komoditas utama menunjukkan peningkatan nilai ekspor. Priyono menyebut untuk November 2018, komoditas utama ekspor DIY adalah produk pakaian jadi bukan rajutan 31,45%, diikuti perabot, penerangan rumah sebesar 13,88%, dan barang-barang rajutan sebesar 12,08%. "Dari 10 komoditas utama, komoditas dengan nilai ekspor terendah adalah tutup kepala sebesar 2,49 persen. Di sisi lain, komoditas ini punya persentase kenaikan terbesar yakni 63,30 persen," katanya, Senin (7/1).

Priyono menuturkan negara tujuan utama komoditas tutup kepala ini adalah Jepang dengan persentase sebesar 26,59%. Sementara Tiongkok masih menjadi tujuan terbesar ekspor minyak atsiri dan kosmetik serta wewangian dengan persentase 39,41%. Tak hanya tutup kepala, jika hitung dari Oktober ke November 2018, komoditas plastik dan barang dari plastik mengalami peningkatan terbesar yakni 47,88% yang banyak dikirim ke Inggris.

"Jika dihitung per negara, tiga besar negara tujuan utama ekspor pada November 2018 adalah Amerika Serikat dengan total nilai ekspor mencapai US$12juta [Rp16,9 miliar]atau 35,16%, Jerman dengan total nilai US$2,9 juta [Rp40,9 miliar]] atau 8,37%, dan Inggris dengan total nilai US$2,6 juta [Rp36,6 miliar] atau 7,64%. Sedangkan nilai ekspor terendah dikirim ke Belanda yakni senilai US$929.200 [Rp13,098 miliar] atau 2,72%," ujarnya.

Priyono menambahkan khusus kawasan ASEAN, total nilai ekspor mencapai US$1,51 juta [Rp21,2 miliar]. Tiga besar negara tujuan ekspor di kawasan ASEAN adalah Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Namun menurut Priyono total nilai ekspor ke kawasan ASEAN selama November 2018 mengalami penurunan sebesar 24,63% dibanding bulan sebelumnya atau sebesar US$2,01 juta [Rp28,3 miliar]. "Ini karena pengaruh ekspor ke Singapura yang turun 47,87% dan Vietnam sebesar 16,63%. Padahal ke negara lainnya naik," ujarnya.