Pelaku Wisata Khawatir Wisatawan Turun Gara-Gara Ini

Pelaku Wisata Khawatir Wisatawan Turun Gara-Gara IniIlustrasi hotel - JIBI
21 Mei 2019 08:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peringatan keamanan dari Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) dan Singapura jelang pengumuman hasil Pemilu 2019 pada Rabu (22/5) dikhawatirkan dapat berpengaruh pada angka kunjungan wisatawan.

Ketua Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) DIY, Udhi Sudiyanto mengatakan

peringatan keamanan bagi warga Amerika Serikat di Indonesia adalah hal yang wajar. Bagaimana pun juga, negara berusaha melindungi warga negaranya sehingga tak ingin warganya mendapatkan masalah.

Karena itu, kata dia, menjaga keamanan bagi dunia pariwisata sangat penting. Dia pun berharap pihak yang berwajib untuk sepenuhnya menjaga keamanan pasca-pengumuman pemilu, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi sebentar lagi akan masuk masa high season untuk tamu asal Eropa, sehingga situasi yang kondusif sangat diperlukan.

“Pemilu kan sudah berlalu. Pasti ada yang kalah ataupun menang dan itu wajar saja. Kalau ada kecewa boleh-boleh saja. Akan tetapi jangan sampai kekecewaan itu mengorbankan kehidupan berbangsa dan ber-Tanah Air khususnya pariwisata, karena untuk mendapatkan citra yang baik itu tidaklah mudah. Siapapun yang menang kita harus dukung,” ucap Udhi kepada Harian Jogja, Senin (20/5).

Meski saat ini belum ada laporan resmi dari biro wisata di DIY, dia menuturkan ada tamu yang meminta batal atau mundur. Karena itu, dia berharap jelang dan pasca-pengumuman hasil pemilu tidak ada kerusuhan yang menimbulkan suasana menjadi tak aman. 

Meminimalkan Risiko

Dosen Politik dan Pemerintahan UGM, Arya Budi menilai AS dan Singapura mengeluarkan imbauan karena menilai ada risiko yang mungkin terjadi. “Sah enggak ada yang salah, hal yang wajar dikeluarkan,” ucap Arya.

Namun, tegas dia, apakah risiko itu benar terjadi atau tidak, tugas negara adalah meminimalkan. Jika benturan terjadi, Arya menuturkan citra demokrasi di Indonesia akan terpuruk. Padahal Indonesia adalah negara paling demokratis di Asia Tenggara.

Meski begitu, Arya mengungkapkan presentase terjadi benturan kecil, karena kubu 01 pendukung Capres Cawapres Jokowi-Maruf Amin tidak memobilisasi masa. “Kalau keduanya [Kubu 01 dan Kubu 02] mobilisasi masa kemungkinan lebih tinggi, tetapi kalua sekadar demonstrasi besar mungkin,” ujarnya.

Guna  menghindari benturan itu, para elit seharusnya melakukan rekonsiliasi. Sebab suara pemimpin yang dapat menciptakan disharmoni atau sebaliknya.

 

Harga Tiket

Di sisi lain, Udhi menilai kabar penurunan ambang batas untuk harga tiket pesawat belum berdampak signifikan. “Kabar penurunan ambang atas untuk tiket belum berdampak signifikan dan belum bisa mengembalikan kegundahan masyarkat dan pelaku pariwisata akan mahalnya tiket pesawat,” ucap dia, Sabtu (19/5).

Menurutnya, hal ini cukup membuat risau pelaku pariwisata. Pihaknya khawatir apabila high season tidak seperti musim-musim sebelumnya karena mahalnya tiket pesawat. Padahal sebentar lagi juga libur Lebaran dan libur sekolah. “Nah kalau seperti ini terus bisa saja cukup riskan bagi pariwisata DIY khususnya wisatawan yang dari luar Jawa, karena moda transportasi utama pasti adalah dengan menggunakan pesawat,” katanya.

Keterlibatan pemerintah secara serius sangat dibutuhkan, agar supaya pariwisata tidak berhenti dan maskapai juga tidak gulung tikar. Harus ada jalan tengah menyelesaikan masalah ini.

Ia juga mempertanyakan pesawat asing yang beroperasi di Indonesia harganya bisa lebih murah. Sementara yang punya dalam negeri lebih mahal. “Tentu hal ini menjadi pertanyaan bagi kami. Mungkin ada in-efeciency dalam manajemen atau ada hal lain,” ucapnya.

Khusus pesawat low cost carrier (LCC), Udhi menilai harga ideal tiket Jakarta-Jogja secara psikologis dikisaran Rp600.000-Rp700.000. Saat harga tiket melonjak, dia menilai hal itu membuat khawatir pelaku pariwisata. Beruntung, di Pulau Jawa, masih ada transportasi alternatif seperti kereta api.