WINNA JAYA ABADI : Butuh Proses untuk Sukses

WINNA JAYA ABADI : Butuh Proses untuk SuksesOwner WJA Property Tata Wina./ Ist - Dok Pribadi
28 Mei 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kesuksesan tidak bisa dicapai dengan cara instan. Butuh kerja keras dan perjuangan memeras keringat. Nilai itu pula yang ditanamkan di CV Wina Jaya Abadi atau yang lebih dikenal dengan nama WJA Property. 

Tata Wina merupakan pemilik dari WJA Property yang bergerak di dunia usaha properti. Ia sudah cukup lama berkecimpung di bisnis properti dan kemudian berhasil membuat CV-nya sendiri pada 2017. "Saya suka bisnis properti karena fleksibel dan properti itu nilainya tiap tahun naik jadi merupakan peluang investasi yang baik. Saya sukanya itu," papar dia kepada Harian Jogja di Sleman beberapa waktu lalu.

Ia menemukan keasyikan tersendiri ketika bisa membantu konsumen mendapatkan properti yang diinginkan. Kliennya pun berasal dari berbagai kalangan termasuk pejabat hingga artis.

Menurutnya, keberhasilan upaya penjualan tak lepas dari efektivitas iklan. Ia pun memanfaatkan situs-situs penjualan properti yang terpercaya untuk berpromosi. "Kuncinya sosial media. Saya ada tim khusus. Kami juga ada situs sendiri selain di situs penjualan rumah. Bahasa yang kami gunakan untuk promosi juga dibuat semenarik mungkin," kata dia.

Kepercayaan klien adalah hal yang utama. Menurutnya, untuk memenangkan kepercayaan klien, WJA Properti harus memberikan pelayanan dengan baik dan profesional. "Kami all out. Kami akan bantu terus. Walaupun harga belum cocok, kita akan bantu sampai klien dapat properti. Kita juga bantu sampai ke notaris," jelas dia.

Ia memastikan aset ataupun properti yang dijual tidak bermasalah di kemudian hari. Oleh karena itu faktor legal sangatlah penting.  Sebelum menjual, dia akan menyeleksi terlebih dahulu, apakah aset tersebut bermasalah atau tidak.

 

Dari Semua Kalangan

Wanita asli DIY ini mengenyam pendidikan di STTKD. Ketika masih kuliah, ia juga bekerja di salah satu maskapai penerbangan. Namun, karena suatu alasan ia memutuskan keluar dan bekerja di bidang lain. Lapangan pekerjaan di rumah sakit hingga perhotelan sempat ia rasakan sebelum terjun ke dunia properti.

Di dunia properti ia menemukan keasyikan. Awal mula, ia menjadi marketing properti dan menjual kavling. Ia sempat akan patah semangat karena menjual kavling dan properti tidaklah perkara mudah. Namun, ketika ia berhasil menjual kavling, semangatnya terlecut kembali. "Saya bisa closing itu rasanya senangnya sekali. Saya tekuni terus, saya ikut seminar properti, selling properti. Intinya sabar dan semangat," jelas dia.

Ada satu nilai yang ia pegang yakni sebuah kesuksesan tidak bisa dicapai dengan cara instan. "Need process for success. Itu yang saya pegang. Ada jatuh bangun," kata dia.

Nilai itu pula yang ia tanamkan kepada karyawannya di DIY, Bali, dan Jakarta. Para karyawan ditarget dalam waktu satu bulan harus bisa closing dalam jumlah tertentu. Hal itu bertujuan agar para karyawan bersemangat dalam bekerja dan semakin mengasah kemampuannya.

"Karyawan harus semangat, harus menjaga loyalitas termasuk loyalitas kepada konsumen, dan disiplin termasuk disiplin waktu," jelas dia.