Hadapi Revolusi Industri 4.0, Kualitas SDM Harus Ditingkatkan

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Kualitas SDM Harus DitingkatkanWakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X memukul gong dalam pembukaan Rapimda Kadin DIY di Sahid Jaya Hotel & Convention Yogyakarta, Sleman, Senin (22/7)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
23 Juli 2019 07:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan dalam era Revolusi Industri 4.0. SDM yang berkualitas menjadi kunci untuk bisa bersiang di dunia usaha dan industri yang berkembang saat ini.

Hak tersebut menjadi pembahasan utama dalam Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY di Sahid Jaya Hotel & Convention Yogyakarta, Sleman, Senin (22/7). Ketua Umum Kadin DIY GKR Mangkubumi mengatakan perubahan dunia saat ini tengah memasuki Revolusi Industri 4.0 dan teknologi informasi menjadi basis kebutuhan manusia dan mengubah aktivitas manusia.

"Tantangan Revolusi Industri 4.0 harus direspons dengan cepat dan tepat oleh pemangku kepentingan. Tujuannya agar mampu meningkatkan daya saing," ungkap dia di sela-sela Rapimda Kadin DIY, Senin.

Salah satu upaya yang dilakukan Kadin adalah menandatangani nota kesepahaman dengan IHK (Kadin) Trier Jerman yang dilakukan di sela-sela Rapimda. Kerja sama ini memungkinkan Kadin DIY mengintegrasikan pendidikan kejuruan di tempat belajar industri ke dalam pendidikan kejuruan profesi sehingga perusahaan di DIY bisa berperan aktif dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM). "SDM jadi sangat penting bagi pembangunan di DIY. Kami meyakini untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkualitas, harus diikuti peningkatan SDM sehingga ini sangat penting," kata dia.

Selain bekerja sama dengan Kadin Trier Jerman, Kadin DIY juga menandatangani kerja sama dengan PT Asuransi Asei Indonesia (Asuransi Ekspor Indonesia). 

Produktivitas Tertinggal

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani mengungkapkan SDM merupakan kunci dari keberhasilan suatu bangsa. Secara historis bangsa yang maju adalah bangsa yang SDM-nya terus bisa beradaptasi dan mampu meningkatan produktivitas. "Kendala yang dihadapi adalah produktivitas dari tenaga kerja kita. Produktivitas kita masih ketinggalan dari negara tetangga dan negara ASEAN lainnya," kata dia.

Ia mengungkapkan lima tahun ke depan ada tantangan bagaimana meningkatkan kualitas SDM. Hal ini harus dilakukan secara besar terukur dan terstruktur. "Kalau enggak ya agak lama. Kalau dilihat kita enggak mungkin bisa mendorong semua SDM masuk universitas sehingga program vokasi sangat penting," jelas dia.

Menurutnya, pembangunan manusia merupakan pembangunan jangka panjang. Pembangunan SDM tidak bisa dilakukan sendiri melainkan harus melibatkan semua pemangku kepentingan.

"Tantangan di revolusi industri dalam konteks manusia yakni memiliki SDM yang sesuai kebutuhan industri. Tenaga siap pakai kita kadang enggak sesuai kebutuhan sehingga harus dilatih lagi, jadi cost lagi. Perubahan digital sangat cepat, bidang pekerjaan yang dulu pernah ada, jadi hilang. Pekerjaan baru bisa saja muncul," terang dia.

Ia mengatakan pemerintah harus beradaptasi baik dari segi peraturan dan kurikulum. Perlu penambahan skill dan peningkatan kemampuan pekerja.

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X mengungkapkan Revolusi Industri 4.0 mendorong inovasi teknolog dan memicu perubahan fundamental di masyarakat. Revolusi Industri 4.0 dalam lima tahun ke depan bisa menghapus 35% jenis pekerjaan, dan dalam 10 tahun akan menghapus 75% jenis pekerjaan. Hal itu disebabkan pekerjaan yang diperankan manusia secara bertahap akan digantikan digitalisasi produk.

"Dampaknya proses produksi menjadi lebih cepat dan mudah diidistirbusikan secara masif dengan keterlibatan manusia yang minim. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 literasi data dibutuhkan semua orang untuk meningkatkan kemampuan mengolah dan meganalisis data untuk kepentingan peningkatan pelayanan publik dan bisnis," jelas dia.

Literasi teknologi dibutuhkan untuk menunjukkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mengolah data dan informasi. Sementara, literasi manusia wajib dikuasi karena menunjukkan elemen soft skill atau pengembangan karakter individu untuk bisa berkolaborasi adaptif dan menjadi arif di era banjir informasi.

"Dengan adanya Revolusi Industri 4.0, saya berharap kita semua untuk mau dan selalu belajar menguasai teknologi dan informasi untuk menghindari ketertinggalan dan mampu bersaing dan survive di era Revolusi Industri 4.0. Tanpa penguasaan kita akan tertinggal jauh dalam segala bidang," ungkap dia.

Perwakilan IHK (Kadin) Trier Jerman Andreas Gosche mengungkapkan banyak tantangan yang dihadapi untuk meningkatkan kapasitas SDM. Ia menyoroti dalam sistem pendidikan kejuruan banyak aktivitas siswa dihabiskan dengan duduk atau belajar di kelas dan kurang terampil ketika terjun ke dunia pekerjaan. "Kami ingin mengembangkan bagaimana sekaligus belajar, sekaligus praktik di industri. Saat lulus nanti, para anak muda sudah mengumpulkan ketrampilan dan bisa bekerja," terang dia.