82% Warga Indonesia Pilih Bepergian Tanpa Uang Tunai

82% Warga Indonesia Pilih Bepergian Tanpa Uang TunaiGeneral Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto Agus Pandu Purnama (tengah) bersama pemimpin dan perwakilan Bank BUMN serta Bank Indonesia menunjukkan kartu e-money menandai diresmikannya penerapan pembayaran parkir secara non tunai di Gate Timur Parkir Utara Bandara Internasional Adisutjipto, Senin (31/12). - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
06 September 2019 12:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berdasarkan studi Consumer Payment Attitudes 2018 yang dirilis Visa, mayoritas masyarakat Indonesia terlihat semakin siap untuk menghadapi masa depan tanpa tunai sebab delapan dari 10 (82%) responden menyatakan mereka telah mencoba bepergian tanpa tunai. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan menjelaskan sejalah dengan cetak biru, diharapkan ke depan dalam kurun waktu tertentu penggunaan uang tunai makin berkurang. "BI sudah meluncurkan beberapa channel permbayaran dan yang terakhir Bank Indonesia meluncurkan standar Quick Response (QR) Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesian Standard (QRIS). Tahapannya tentu perku sosialisasi dan edukasi kepada masyarakar sehingga nanti penggunaan tunai berkurang," kata dia melalui sambungan telepon, Kamis (5/9).

Hilma mengungkapkan BI akan terus mendorong nontunai karena banyak manfaatnya yakni lebih efisien, murah, aman, dan praktia. Selain itu, jangkauan nontunai lebih luas ke manapun sepanjang masih ada jaringan.

Meski demikian, Hilman tidak menampik ada kendala yang dihadapi dan akan terus diperbaiki. Di DIY sendiri dari sisi inklusi keuangan suang bagus dan nomor dua terbaik setelah DKI Jakarta. Artinya, masyarakat semakin melek keuangan yang sifarnya bank ataupun nonbank.

Masyarakat sebetulnya semakin banyak yang memanfaatkan nontunai ketika menggunakan ojek online dengan pembayaran dari dompet daring. Tanpa disadari, masyarakat sudah terpapar dan memanfaatka nontunai sehingga literasi dan inklusi keuangan meningkat. "Tetapi, di beberapa tempat memang masih ada blank spot. Ini tantangan infrastruktur. Selain itu, pengetahuan masyarakat menjadi tantangan tersendiri karena ada juga kelompok masyarakat yang memerlukan penjelasan lebih komprehensif mengenai program nontunai," terang dia. 

Studi Visa

Berdasarkan studi Consumer Payment Attitudes 2018 yang dirilis Visa, mayoritas masyarakat Indonesia terlihat semakin siap untuk menghadapi masa depan tanpa tunai sebab delapan dari 10 (82%) responden menyatakan mereka telah mencoba bepergian tanpa tunai. "Studi tersebut menunjukkan jumlah konsumen yang melek digital semakin bertumbuh di Asia Tenggara dan mengindikasikan masyarakat Indonesia semakin menyadari manfaat pembayaran nontunai dan tertarik dengan masa depan tanpa tunai," kata Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman kepada wartawan di Roaster and Bear, Jogja, Selasa (3/9).

Ia menjelaskan berdasarkan studi Visa Consumer Payment Attitudes, 77% masyarakat Indonesia memperkirakan akan semakin sering menggunakan pembayaran nontunai dalam jangka waktu 12 bulan ke depan. Selain itu, 41% juga meyakini Indonesia akan mewujudkan masyarakat tanpa tunai dalam kurun waktu tiga tahun.

Hal ini merupakan sebuah peningkatan dibandingkan dengan hasil studi tahun lalu, mayoritas responden memperkirakan masyarakat tanpa tunai akan terwujud dalam kurun waktu delapan hingga 15 tahun. Saat ini, semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki akses terhadap pembayaran nontunai sehingga lebih percaya diri bepergian tanpa tunai.

"Menjalani gaya hidup nontunai menjadi lebih mudah dan menarik bagi masyarakat Indonesia karena banyaknya opsi cara membayar, mulai dari pembayaran menggunakan kartu, teknologi nirkontak, hingga yang berbasis kode QR. Konsumen juga menginginkan proses pembayaran yang lebih cepat, mudah, dan aman yang mendorong mereka semakin mengurangi penggunaan uang tunai dan memulai gaya hidup nontunai,” ujar Riko.

Keamanan bertransaksi tetap menjadi prioritas utama sebab sembilan dari 10 responden mengatakan memastikan keamanan informasi pribadi saat bertransaksi menggunakan ponsel menjadi salah satu fokus utama mereka. Saat ditanya mengenai masa depan pembayaran, masyarakat Indonesia menunjukkan minat  yang tinggi untuk menggunakan perangkat pembayaran wearables (76%), di mana smartwatch dinilai sebagai wearables yang paling nyaman dipakai untuk melakukan pembayaran (53%).

'Selain itu, 69 persen masyarakat Indonesia juga berminat menggunakan teknologi biometrik untuk autentikasi pembayaran, 60 persen responden menilai teknologi pemindaian jari sebagai opsi yang paling nyaman," ungkap dia.

Semakin sedikit masyakarat Indonesia yang membawa uang tunai dalam jumlah besar karena mereka sudah berpindah ke pembayaran elektronik dan mulai meninggalkan uang tunai (82%), serta merasa lebih aman menggunakan pembayaran nontunai (77%) dan ingin proses pembayaran secara fisik dihilangkan (68%).

Sebanyak tujuh dari 10 masyarakat Indonesia (71%) tertarik untuk bertransaksi menggunakan kartu nirkontak, sementara 79% tertarik dengan pembayaran nirkontak berbasis mobile. Mayoritas menunjukkan minat untuk menggunakan pembayaran nirkontak di supermarket (73%), toko retail (71%), dan gerai makanan cepat saji (64%). Kecepatan, kenyamanan, dan keamanan adalah alasan utama tertarik menggunakan pembayaran nirkontak.

Sebesar 82% masyarakat Indonesia merasa tertarik menggunakan pembayaran berbasis kode QR, lebih tinggi dibandingkan dengan hasil studi tahun lalu yang hanya 50%. Responden menilai pembayaran berbasis kode QR dapat menghemat waktu, mudah digunakan, tidak ribet, aman, dan menyenangkan.

“Studi Consumer Payment Attitudes yang dirilis Visa menunjukkan masyarakat Indonesia semakin percaya diri untuk bepergian tanpa tunai, dengan keamanan informasi pribadi menjadi fokus utama mereka. Karenanya, Visa berkomitmen untuk menghadirkan teknologi pembayaran dan keamanan digital terbaru, seperti Visa Contactless dan Visa Token Service, agar konsumen dan pelaku usaha di Indonesia dapat semakin percaya diri saat bertransaksi,” tambah Riko.