Permintaan Domestik Karet Perlu Ditingkatkan, Ini Alasannya

Permintaan Domestik Karet Perlu Ditingkatkan, Ini AlasannyaMenteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita membuka 12th ANRPC Annual Rubber Conference di Hotel Tentrem, Jogja, Senin (7/10)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
08 Oktober 2019 10:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Industri karet tengah mengalami anomali sebab harga karet cenderung turun di tengah stagnasi permintaan dan pengendalian suplai. Pengembangan industri karet perlu dilakukan agar tidak disetir oleh pasar salah satunya dengan meningkatkan domestic demand. Hal itu menjadi salah satu fokus pembahasan dalam 12th ANRPC Annual Rubber Conference di Hotel Tentrem, Jogja, Senin (7/10). 

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita mengatakan konferensi tahunan ini menjadi sangat penting karena di industri karet saat ini ada sedikit anomali yaitu kondisi harga karet yang cenderung turun di tengah permintaan yang tidak turun dan suplai yang dikendalikan International Tripartite Rubber Council (ITRC). "Beberapa waktu lalu sempat ada kenaikan, tetapi turun lagi. Enggak mudah kendalikan ini dan ini harus ditangani secara serius," ujar dia kepada wartawan di sela-sela pembukaan 12th ANRPC Annual Rubber Conference di Hotel Tentrem, Jogja, Senin (7/10).

Meskipun sama-sama bergerak di bidang karet, ITRC berbeda dengan Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC). ITRC terdiri dari tiga negara produsen karet terbesar yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia, sedangkan ANRPC terdiri dari 13 negara yang di dalamnya ada negara produsen dan konsumen karet. "Kita ke depan harapkan asosiasi ini bisa juga berfungsi sebagai tempat untuk berdialog untuk bicarakan berbagai hal. Fokus sekarang dan ke depan bentuknya research and development. Kemudian ini menjadi relevan lagi dan keterkaitan sangat besar artinya bagi Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) dalam upaya kita melakukan perundingan bilateral dan multilateral.

Dirjen PPI melihat ada beberapa isu komoditas yang menjadi prioritas bagi Indonesia dalam memimpin delegasi untuk perundingan ini. Menurutnya, tidak bisa jika Indonesia hanya berpegang pada satu komoditas saja dan tidak bisa hanya mau menang di satu komoditas itu saja. Pasalnya banyak pemangku kepentingan di Indonesia yang meminta kemudahan fasilitas seperti bea masuk dan fasilitas lainnya. Hal ini lah yang membuat negara lain mengapresiasi Indonesia. "Kita juga enggak mau terlalu didikte oleh pasar. Paling efektif adalah membuat domestic demand. Kalau enggak membuat domestic demand maka habis kita ditekan," kata dia dalam acara yang juga dihadiri Chairman ANRPC Sunan Nuanphromsakul itu. 

Kebutuhan Domestik

Ia menjelaskan kebutuhan domestik meningkat. Seiring dengan program B20 dan sebentar lagi B30 dan akan menuju B50. Menurutnya, kebutuhan domestik akan meningkat, begitu juga dengan kebutuhan karet. Karena itu, perlu segera didorong penggunaan karet misalnya dengan jalan karet atau rubberized road. "Kalau enggak pohon karet akan semakin ditebang. Market pohon karet paling besar itu Tiongkok. Teknologi untuk memanfaatkan kayu karet itu Tiongkok cukup tinggi. Itulah beberapa hal yang jadi sorotan dan diskusi, termasuk mengenai penyakit karet [pestalotiopsis fungal]," ujar dia.

Penyakit ini tidak hanya terjadi di  Indonesia yakni di Sumatra Utara dan Sumatra Selatan, tetapi juga di Myanmar dan beberapa negara lain. Penyakit ini harus ditangani dengan hati-hati. Petani tidak akan mampu menangani sendiri tanpa ada kehadiran Pemerintah. Oleh karena itu diperlukan kehadiran Pemerintah dan harus tepat langkah yang diambil.

Ia menjelaskan selain mendorong permintaan domestik, ekspor karet Indonesia juga perlu didorong. Ekspor karet Indonesia kini turun menjadi US$4,16 miliar. Sebelumnya, ekspor karet Indonesia mencapai US$5 miliar. Konsumsi karet juga diharapkan bisa meningkat dari sekitar 630.000 MT menjadi satu juta MT dalam lima tahun ke depan.

Ia mengungkapkan adanya anomali itu mengindikasikan kesepakatan di ITRC untuk pembatasan suplai tidak efektif. "Tidak pegang betul kesepakatan itu. Permintaan meningkat, kita kendalikan suplai dan suplier di tiga negara produsen besar kecuali Vietnam, maka sisi suplai harusnya agak direm, tetapi ini masih belum. Sekarang mulai rasakan dengan penyakit ini maka sisi suplai akan turun dan demand meningkat di tengah ketidakpastian tetapi masih enggak bisa hentikan kebutuhan untuk bahan bahan. Kemungkinan besar harga akan terkoreksi. Kita harus berunding. November akan ada ITRC meeting, sebelum itu kita siapkan task force untuk merumuskan rekomendasi," kata dia.

Kemitraan Smallholders

Sektor produksi karet alam yang didominasi oleh petani kecil memiliki keterbatasan untuk mengadopsi norma keberlanjutan untuk NR yang diprakarsai dan sebagian besar ditetapkan oleh industri manufaktur ban mobil. Biaya tambahan untuk mengadopsi praktik-praktik yang ditentukan, biaya untuk mempertahankannya, dan biaya tinggi yang tidak wajar untuk sertifikasi, menyulitkan petani plasma untuk ikut serta ketika industri karet dunia bergerak menuju rantai nilai yang berkelanjutan. Rantai nilai hanya dapat bertahan jika melibatkan jaringan terlemah yang merupakan sektor perkebunan plasma dalam hal industri karet dunia. Mengingat dominasi petani plasma dalam produksi dunia, pengembangan berkelanjutan rantai nilai sektor NR dunia tak pelak lagi membutuhkan norma-norma serta sistem sertifikasi yang dapat disesuaikan dengan petani yang kurang sumber daya. Dalam konteks ini, konferensi berupaya mengidentifikasi standar dan norma yang cocok untuk diadopsi petani plasma serta dapat diterima oleh segmen lain dari rantai nilai industri.

Program Kemitraan

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengungkapkan kemitraan dengan petani (smallholders) yang mengelola lahan karet perlu dijalin lebih jauh lagi. Ia mengungkapkan hal yang kurang dilakukan di negara produsen adalah hampir tidak adanya kemitraan antara industri karet alam dengan smallholder. "Apalagi smallholder harus ikuti standar, harus ini harus itu. Diharapkan dari pertemuan ini ada rekomendasi, ada task force dan hasil diskusi di Jogja ini seperti apa. Diharapkan juga ada sinergi antara ITRC dan ANRPC. ITRC berpesan untuk replanting, meningkatkan konsumsi domestik dan mengontrol suplainya. Ini pesan yang konkret," kata dia.

Disinggung soal meningkatkan permintaan domestik, menurutnya, semua negara penghasil karet alam sedang menghadapi hal yang sama termasuk membangun jalan karet (rubberized road). Ada beberapa teknologi untuk menerapkan rubberized road ini. Ia mencontohkan di Thailand setelah jalan selesai diaspal akan dilapisi dengan karet sehingga air tidak bisa meresap dan merusak aspal. Indonesia mulai melakukan rubberized road, tetapi masih percobaan. Pembangunan infrastruktur jalan dengan karet ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan industri karet untuk semakin berkembang.

"Kalau rubberized road juga akan berkaitan dengan peralatan yang dimiliki kontraktor agar sesuai. Untuk sumber daya manusia, nanti berhubungan dengan teknisi-teknisi yang berhubungan dengan pembangunan jalan, bagaimana mencampur [karet] dalam salah satu material mereka," kata dia.

 Gambaran Industri Karet Indonesia

-Ekspor karet alam 2,95 juta MT (metrik ton), US$4,16 miliar [Rp triliun]

-Area 3,67 juta ha

-Produksi 3,63 juta MT

-2,5 juta smallholder

-323 unit pengolahan dan pemasaran bahan karet

-Penyakit pestalotiopsis fungal menyerah lebih dari 380.000 ha, mengurangi produksi minimal 15% setara dengan 540.000 MT

 

Konsumsi domestik: 633.785 MT

-Industri ban 40%

-Sarung tangan 5%

-Vulkanisir ban 15%

-Alas kaki 15%

-Lainnya 25%

 

Rubberized road

-65,79 km

-Target menyerap 110.000 MT karet alam

Penerapan produk: Rubberized asphalt, bantalan jembatan, segel karet, rainguard

Produk yang dikembangkan: pemblokiran kanal, bantalan seismik, fender dock, ban padat, blok paving karet

Sumber: Kemendag