BEI DIY Target Penambahan 8.340 Investor

BEI DIY Target Penambahan 8.340 InvestorKepala BEI DIY Irfan Noor Riza (kiri) berfoto bersama mempelai pengantin yang menikah dengan Mahar ETF.
11 Januari 2020 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY optimistis dapat mengejar target 55.000 investor, hingga akhir 2020.

“Per November 2019 jumlah investor di DIY berjumlah total 46.660 investor, maka target penambahan kami adalah 8.340 investor, untuk mencapai 55.000. Melihat fundamental ekonomi Indonesia dan potensi di DIY tahun 2020 ini, kami sangat optimis target tersebut akan tercapai,” ucap Kepala BEI DIY, Irfan Noor Riza, Jumat (10/1).

Dikatakan Irfan untuk mencapai target tersebut pihaknya akan lebih bekerja keras dan bekerja cerdas dalam menggapai target tersebut. Saat ini BEI DIY mempunyai mitra 36 Galeri Investasi BEI di kampus-kampus di DIY, dengan galeri-galeri investasi di kampus tersebut rencana akan diciptakan galeri-galeri satelit di desa-desa menjadi galeri investasi desa dan di sekolah-sekolah tingkat SMU menjadi galeri edukasi. “Dengan bersinergi bersama mereka, kami optimistis dapat mencapai target tersebut. Kami juga akan lebih meningkatkan kuantitas program-program edukasi kami seperti Sekolah Pasar Modal serta program-program edukasi lain yang variatif yang didukung oleh 16 Perusahaan Sekuritas Anggota Bursa yang ada di DIY,” ucapnya.

Pihaknya juga berencana pada 2020 ini akan menyelenggarakan kegiatan penciptaan investor bersifat massal yang bertujuan menumbuhkan investor pasar modal di DIY. Rencana pendirian Perusahaan Efek Daerah juga nantinya akan membantu BEI DIY dalam lebih menumbuh kembangkan jumlah investor pasar modal di DIY. “Kami optimistis target kami akan tercapai. Kami akan bergandengan tangan dengan pihak-pihak terkait untuk berupaya menumbuh kembangkan investor pasar modal di DIY,” katanya.

 

Saham Gorengan

Guna mengedukasi masyarakat, Irfan juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali saham gorengan yang pergerakan harganya dimanipulasi oleh oknum pelaku pasar. Cirinya, kata dia, pada saat lantai bursa dibuka, pelaku pasar mulai menawarkan sesuatu yang lebih dengan tujuan menaikkan harga saham tersebut.

Ada sejumlah ciri-ciri saham gorengan antara lain. Pertama, memiliki kapitalisasi pasar yang kecil, biasanya di bawah Rp1 triliun. Dengan nilai pasar yang kecil, maka saham pun dapat dengan mudah digerakkan harganya atau digoreng.

Kedua, volume transaksinya turun naik secara drastis. Seringkali volume perdagangannya naik sangat tinggi seolah-olah sahamnya banyak diburu para pelaku pasar. Padahal dalam kesehariannya, saham tersebut terbilang sepi atau jarang diperdagangkan.

Ketiga, pergerakan harga tidak didukung fundamental perusahaan. Harga saham, sewajarnya mengikuti perkembangan fundamental perusahaannya. Bila perusahaan mencetak keuntungan, sudah sewajarnya harga naik. Namun, untuk saham gorengan, seringkali pergerakan harganya malah tidak sesuai dengan kinerja fundamentalnya. Saham gorengan justru seringkali harganya bergerak naik dan turun secara drastis hingga batas auto reject BEI.

Sebelumnya, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Untung Nugroho mengatakan BEI selaku regulator di pasar modal telah menindak untuk mencegah, melindungi atau setidaknya mengurangi potensi kerugian investor dari adanya saham gorengan ini, antara lain BEI telah memiliki sistem yang mampu mendeteksi pergerakan nilai saham emiten yang tidak normal dengan melakukan auto reject, selanjutnya mencatat saham tersebut ke dalam Unusual Market Activity sebagai aktivitas yang tidak biasa di pasar modal. “Terhadap saham-saham yang terindikasi sebagai saham gorengan ini BEI akan melaporkan kepada OJK untuk dapat ditindaklanjuti,” kata Untung.