Mulai Jalankan Jasa Komersil, Bank Daerah Mulai Bergairah

Mulai Jalankan Jasa Komersil, Bank Daerah Mulai Bergairah Ilustrasi replika uang di Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (4 - 4).Bisnis Indonesia/Abdullah Azzam
20 Januari 2020 07:07 WIB Maria Elena & Ipak Ayu H.N Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencetak kinerja fungsi intermediasi yang cukup baik di tengah perlambatan penyaluran kredit industri yang hanya tumbuh 6,08% pada 2019. Sejak dua-tiga terakhir, BPD mengalami perubahan model bisnis yang besar. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit berdasarkan kepemilikan bank dari BPD naik 10,15% secara tahunan (year on year/yoy). Angka pertumbuhan dua digit tersebut dicapai setelah 2015 konsisten pada pertumbuhan satu digit. Pertumbuhan kredit yang tinggi dialami salah satunya oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB).

Head of Corporate Secretary Division Bank BJB Muhammad Asadi Budiman mengatakan kredit perseroan sepanjang 2019 diperkirakan tumbuh 10%-11% yoy. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan portofolio kredit dari segmen korporasi dengan sektor infrastruktur sebagai kontributor utama. Di samping itu, segmen usaha mikro, kecil, dan menengah, serta konsumer turut menjadi penggerak pertumbuhan. Alhasil, pada 2020 ini perseroan memproyeksikan kredit mampu tumbuh lebih tinggi, yakni di kisaran 10%-12% yoy.

"Segmen yang kami harapkan memberikan kontribusi tinggi yakni infrastruktur dan UMKM untuk melengkapi pertumbuhan kredit konsumer yang tumbuh cukup baik," katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Jumat (17/1).

Direktur Keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk Ferdian Satyagraha mengatakan kredit perseroan per November 2019 sudah tumbuh 15,51% yoy menjadi Rp38,3 triliun. Penyumbang kredit terbesar masih berasal dari sektor kredit konsumsi yang naik 7,64% menjadi Rp22,9 triliun. Pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor kredit komersial yang naik 37,73% yoy menjadi Rp9,4 triliun.

"Posisi Desember 2019 memang turun sedikit growth kredit menjadi sekitar 13% dikarenakan ada skim kredit pelunasan di akhir tahun," katanya.

Dari sisi penghimpunan dana, Ferdian mengemukakan per November pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 18,37% menjadi Rp62,72 triliun. Menurutnya sampai akhir tahun lalu posisi DPK masih stabil pada angka tersebut. PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Bank Sulselbar) juga mencapat pertumbuhan kredit yang meningkat signifikan.

Direktur Pemasaran Bank Sulselbar Rosmala Arifin mengatakan kredit perseroan tumbuh di kisaran 15,74% pada 2019. Kredit produktif menjadi kontributor utama sebagai penggerak pertumbuhan.

"Pertumbuhan kredit produktif Bank Sulselbar, yakni modal kerja dan investasi meningkat 21,48%, sedangkan kredit konsumtif tumbuh 14,23% di 2019," katanya.

Melihat pertumbuhan yang tinggi perserbur, perseroan pun mematok kredit tetap tumbuh double digit tahun ini, yaitu di kisaran 14%.

Corporate Secretary Bank Sumut Syahdan Ridwan Siregar mangatakan realisasi penyaluran kredit perseroan per Desember 2019 sebesar Rp23,7 triliun atau naik 8,91% yoy dibanding periode 2018.

Sementara pada 2020 ini, target pertumbuhan kredit Bank Sumut sebesar 9,5% dengan fokus kepada sektor-sektor unggulan perseroan. "Di antaranya kredit UMKM, kredit konsumsi termasuk kredit pensiun dan kredit kredit program pemerintah seperti KUR dan KPR FLPP," kata Syahdan.

 

Target Jelas

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah menilai kredit BPD tumbuh membaik karena target pasar utamanya pegawai pemda. Begitu pula tahun ini juga dipastikan masih stabil tumbuh baik.

Sayangnya, share pertumbuhan kredit BPD masih sangat kecil atau di bawah 10% terhadap pertumbuhan kredit nasional. Untuk itu pertumbuhan kredit BPD yang masih bisa cukup tinggi bukan gambaran ekonomi daerah yang sudahh mulai bergairah dan sudah bisa menunjang ekonomi nasional.

"Pertumbuhan kredit nasional ditentukan oleh arah perkembangan ekonomi nasional yang bergantung keadaan kondisi global dan kebijakan moneter fiskal dan sektor riil," ujarnya.

Meski demikian, Piter memperkirakan untuk tahun ini perekonomian nasional akan lebih baik daripada tahun lalu kendati masih ada risiko ketidakpastian.

Pengamat Perbankan dari Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto berpendapat capaian pertumbuhan kredit BPD yang tinggi pada 2019 disebabkan baik karena pola bisnis BPD yang saat ini berubah maupun karena faktor politis yang membuat keran kredit BPD mengalir deras. Menurut Doddy, sejak dua-tiga tahun terakhir, terjadi perubahan model bisnis terutama pada BPD besar, yang mulai beralih menjalankan bisnis perbankan komersial.

"Dulu BPD capnya kan bendahara pemda, jadi cara berpikirnya tidak komersial. Mereka mendapat dana dari pemerintah daerah (pemda) dan pajak daerah, tidak perlu kemana-mana. Sekarang mulai modelnya pada perbankan komersial," katanya.

Menurut Doddy, sejumlah BPD sudah mulai agresif mengincar nasabah, yakni untuk menghimpun DPK dan menyalurkan kredit. Doddy menilai hal tersebut juga didorong oleh pemimpin daerah atau gubernur yang menginginkan BPD berkontribusi lebih kepada pemda dalam mencetak penghasilan.

Di samping itu, Doddy mengatakan juga terdapat faktor politis pada 2019 yang merupakan momentum Pilpres, banyak daerah yang memilih berafiliasi kepada koalisi pemerintah, salah satu tujuannya agar mendapat kucuran dana Pemerintah Pusat. "Biasanya salah satu yang menunjang ekonomi daerah adalah pengucuran dana dari Pusat, jadi pemda mendorong BPD lebih agresif agar lebih terlihat kinerja pertumbuhan ekonomi daerah," jelasnya.

Doddy memproyeksikan kondisi ekonomi yang cenderung belum bergerak kencang pada 2020 masih akan menjadi kendala bagi industri perbankan, tidak terkecuali BPD. "Saya kira financing BPD ini masih pelengkap, jadi saya agak ragu, mungkin tidak banyak dari pelaku usaha yang akan bergantung dari pembiayaan BPD, kecuali yang dipromotori oleh pemda," tutur Doddy.

Dia menilai kredit 2020 BPD tidak akan tumbuh signifikan, malah capaian BPD sudah mencapai peak pada 2019 dan hal ini merupakan capaian luar biasa mengingat pertumbuhan industri hanya mencapai 6,08%. 

Sumber : Bisnis Indonesia