Konsumsi Listrik di Awal 2020 Melambat Karena Ini

Konsumsi Listrik di Awal 2020 Melambat Karena IniIlustrasi jaringan PLN - Bisnis/Paulus Tandi Bone
09 Maret 2020 07:27 WIB Yanita Petriella Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Penjualan listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada Januari 2020 mengalami pertumbuhan yang rendah yakni hanya sebesar 3,8%. 

Executive Vice President Pemasaran dan Pelayanan Pelanggan PT PLN (Persero) Edison Sipahutar mengatakan pertumbuhan penjualan listrik pada Januari tahun ini lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang dapat mencapai 5,69%. Pertumbuhan penjualan listrik di Januari yang hanya 3,8% ini disebabkan oleh konsumsi listrik industri yang tumbuh negatif sebesar -1,61%.

"Februari data belum rilis. Di Januari penjualan listrik keseluruhan hanya tumbuh 3,8 persen ini dikarenakan sektor industri yang tumbuh negatif konsumsi listriknya minus 1,61 persen, padahal Januari tahun lalu (year on year/yoy) konsumsi listrik industri capai 3,79 persen," ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Minggu (8/3).

Rendahnya konsumsi listrik sektor industri di awal tahun ini dikarenakan turunnya pemakaian tekstil (-6,5%), besi baja (-5.4%), kimia (-3.5%) dan semen (-4,3%). Untuk konsumsi listrik rumah tangga di Januari 2020 tumbuh 6,13%, sedikit lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 6,5% dan lebih tinggi bila dibandingkan konsumsi rumah tangga sepanjang 2019 yang mencapai 5,94%.

Konsumsi listrik bisnis di Januari tahun ini mencapai 5,5%, lebih rendah dibandingkan dengan Januari tahun 2019 yang mencapai 7,16% dan sepanjang tahun lalu yang mencapai 6,01%.

Menurutnya, rendahnya konsumsi listrik di awal tahun ini disebabkan sejumlah faktor yakni banjir yang kerap terjadi di Januari sehingga menyebabkan beberapa wilayah mengalami pemadaman. "Ada pengaruh banjir tetapi dampaknya mengurangi pertumbuhan sekitar 0,15 persen. Banyak pemadaman sehingga menyebabkan energi tak terjual maksimal," kata Edison.

Pihaknya juga masih mengkaji apakah merebaknya virus Corona (Covid-19) di sejumlah negara juga turut serta berdampak pada konsumsi listrik. "Corona belum menghitung belum merilis tetapi yang pasti rendahnya konsumsi industri," ucapnya. 

Ekonomi Lesu

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana menuturkan faktor yang mempengaruhi melemahnya pertumbuhan penjualan listrik ini salah satunya karena lesunya kondisi ekonomi.

Dia menampik ekonomi yang lesu dan terjadinya penurunan penjualan disebabkan oleh tarif listrik yang tak kompetitif. Pasalnya, tarif listrik untuk sektor industri di Indonesia masih lebih rendah bila dibandingkan dengan Singapura dan Filipina. "Ada keterlambatan di sektor industri. Apa kemudian terkait dengan harga listrik yang terlalu mahal untuk mereka sehingga produknya tidak kompetitif, tetapi ternyata juga enggak. Kami bandingkan dengan yang di ASEAN, masih kompetitif. Ini sudah rendah juga dibandingkan kawasan ASEAN. Jadi, kalau industri lesu, bukan karena harga listriknya mahal," tuturnya.

Pertumbuhan listrik yang melambat juga diperkirakan karena adanya banjir yang melanda di sejumlah wilayah dalam dua bulan ini. Selain itu, juga kemungkinan merebak virus Corona turut serta berdampak pada berkurangnya konsumsi listrik industri.

 

Kelebihan Pasokan

Saat ini, lanjutnya, kondisi neraca daya PLN menunjukkan kelebihan pasokan akibat konsumsi listrik yang rendah dan juga beroperasinya beberapa pembangkit dari program 35.000 Mega Watt (MW). Tentu saja hal ini sangat dikhawatirkan dan menjadi fokus pemerintah karena penyerapan listrik yang tak maksimal dan pasokan listrik berlebih akan berdampak pada keuangan PLN. Karena itu, sejumlah cara dilakukan agar konsumsi listrik meningkat. Terlebih tahun ini target penjualan listrik PLN sebesar 262,35 TWh.

Salah satunya, Rida mengimbau agar PLN melakukan aksi korporasi mencari pasar baru. Investasi PLN untuk sementara tak lagi difokuskan untuk membangun pembangkit, tetapi lebih banyak dialokasikan untuk menambah transmisi dan distribusi dalam rangka memperkuat pasar.

"Pasarnya siapa saja? Pertama dengan smelter berpotensi dapat sekitar 5.000 MW hingga 6.000 MW. Lalu, pasokan listrik untuk kawasan industri, pariwisata khusus, perikanan dan kawasan ekonomi khusus yang diperkirakan potensinya ada 16.000 MW lebih besar karena lebih banyak dan itu harus dikejar PLN," terangnya.

Tak hanya itu, Kementerian ESDM pun meminta agar perusahaan pelat merah yang menggunakan pembangkit sendiri agar beralih ke PLN. Selama ini, banyak BUMN yang menggunakan pembangkit sendiri yakni pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), sehingga dengan beralih konsumsi ke PLN tentu biaya listriknya akan lebih murah.

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mendorong agar sektor industri memenuhi kebutuhan listriknya dari PT PLN agar listrik yang ada saat ini tersedia dapat terserap dengan baik. Cadangan daya saat ini diperkirakan di atas 30% sehingga memungkinkan untuk bisa menarik industri untuk menyerap listrik. Pasokan yang ada saat ini, pada awalnya mengikuti asumsi pertumbuhan listrik yang cukup tinggi.

"Dahulu kan pemerintah membangun pembangkit listrik berdasarkan asumsi pertumbuhan listrik yang tinggi yakni 6,5 persen per tahun. Namun, kenyataan yang terjadi, pertumbuhan hanya 4 persen, karena itu pasokan listrik yang berlebih harus disalurkan agar tidak ada pembangkit yang idle," tuturnya.

Sumber : Bisnis Indonesia