Advertisement
Kelompok Masyarakat dengan Pengeluaran Rp5 Juta Sering Berutang, Ini Faktanya

Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—BI melaporkan rumah tangga dengan tingkat pengeluaran Rp3 juta-Rp5 juta per bulan menjadi mayoritas kelompok yang mengajukan pembiayaan pada Desember 2023.
Mengutip Survei Penawaran dan Permintaan Pembiayaan Perbankan, kelompok dengan pengeluaran rentang Rp3 juta-Rp5 juta mendominasi pengajuan pembiayaan dengan pangsa mencapai 39,2%.
Advertisement
Angka ini turun dari yang November 2023 yang mencapai 45,3%. “Selanjutnya 38,7 persen rumah tangga dengan tingkat pengeluaran Rp1 juta-Rp3 juta per bulan yang mengajukan pembiayaan, sedikit meningkat dibanding November 2023, [yaitu 38,1 persen]," tulis BI yang dikutip Minggu (21/1/2024).
Sedangkan, rumah tangga dengan tingkat pengeluaran di atas Rp5 juta perbulan yang mengajukan pembiayaan mencapai 22,1%, lebih tinggi dibanding November 2023, sebesar 16,6%.
Pada laporan yang sama, BI juga mengukur permintaan pembiayaan oleh rumah tangga melalui utang atau kredit terpantau tetap tumbuh. Hal ini terindikasi dari responden rumah tangga yang melakukan penambahan pembiayaan melalui utang atau kredit pada Desember 2023 sebesar 11,9% dari total responden, relatif stabil dibanding dengan bulan sebelumnya yang sebesar 10,7%
“Sumber utama pemenuhan pembiayaan rumah tangga pada Desember 2023 berasal dari pinjaman bank umum dengan pangsa sebesar 35,8% meningkat dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 33,2%,” tulis BI.
Sementara itu, alternatif sumber pembiayaan lain yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan rumah tangga adalah koperasi dan leasing dengan pangsa masing-masing 23,1% dan 15%, keduanya menurun dibanding bulan sebelumnya.
Adapun, porsi sumber pembiayaan dari perusahaan teknologi finansial (tekfin) dan BPR mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya.
Berdasarkan jenis penggunaan, mayoritas pembiayaan yang diajukan oleh responden rumah tangga pada Desember 2023 adalah Kredit Multi Guna (KMG) sebesar 41,5%, turun dibanding November 2023 yaitu 43,3%.
Lalu, jenis pembiayaan lain yang diajukan adalah Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) 20,9% dari sebelumya 23,8%, kredit peralatan rumah tangga tercatat 15,2% dari sebelumnya 12,8%.
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi 8% dibanding November 8,1%, dan kartu kredit menjadi 4,4% dari yang sebelumnya 4,3% Masih dalam hasil survei periode Desember 2023, permintaan kredit rumah tangga yang terjaga terutama didukung oleh peningkatan pengajuan kredit peralatan rumah tangga.
BACA JUGA: Dorong Anak Muda Berwiraswasta, Gibran Sediakan Kredit Startup
Di sisi lain, rencana penambahan pembiayaan oleh rumah tangga ke depan diperkirakan meningkat. Hal ini terindikasi dari porsi responden yang berencana melakukan penambahan pembiayaan ke depan, tercatat sebesar 7,4% pada Desember 2023, meningkat dibanding bulan sebelumnya 6,9%.
Apabila berdasarkan, rencana waktu pengajuan pembiayaan, sebagian besar akan dilakukan pada 12 bulan ke depan, diikuti lebih dari 12 bulan, dan 3 bulan yang akan datang. Kemudian, pada rencana pengajuan pembiayaan rumah tangga ke depan, bank umum diperkirakan masih menjadi sumber utama pembiayaan sebesar 53,4% terpantau meningkat dibanding hasil survei periode sebelumnya 46%. "Sumber pembiayaan lainnya untuk memenuhi pembiayaan rumah tangga ke depan adalah koperasi 16,3% dan leasing 12,7%," demikian isi laporan BI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Berikut Dampak Kebijakan Trump Terhadap Harga Emas dan Nilai Tukar Rupiah Menurut Pakar
- Pengamat: Rupiah Melemah Karena Perang Dagang AS
- Arus Balik, KAI Daop 6 Yogyakarta Berangkatkan 28.319 Pelanggan
- Neraca Perdagangan Indonesia Surplus, Tapi Kini Terancam Kebijakan Tarif Donald Trump
- Donald Trump Berlakukan Tarif Timbal Balik di Hari Pembebasan
Advertisement

Pembangunan Taman Budaya Sleman Terhambat Pemangkasan Anggaran
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Perdana Menteri Kanada Sebut Kebijakan Tarif Trump Bakal Ubah Fundamental Perdagangan Global
- Kebijakan Tarif Donald Trump Bisa Memicu Resesi Ekonomi di Indonesia
- Neraca Perdagangan Indonesia Surplus, Tapi Kini Terancam Kebijakan Tarif Donald Trump
- IHSG Sempat Anjlok, BEI DIY Sebut Tak Turunkan Minat Investasi
- Jaga Stabilitas Harga, Disperindag DIY Gelar Pasar Murah 6 Kali Selama Ramadan 2025
- Okupansi Hotel Turun 20 Persen Saat Libur Lebaran 2025, PHRI DIY: Daya Beli Masyarakat Menurun Penyebabnya
- Alasan Donald Trump Terapkan Kebijakan Tarif Timbal Balik
Advertisement
Advertisement