Rupiah Melemah, Manufaktur Justru Tumbuh

Rupiah Melemah, Manufaktur Justru TumbuhIlustrasi emas dan dolar. - JIBI
14 Mei 2018 06:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tak hanya mengakibatkan sejumlah pelaku industri berbahan baku ekspor kelimpungan, melemahnya nilai tukar rupiah ternyata justru menguntungkan sejumlah sektor industri, salah satunya manufaktur. Seperti diketahui, Pekan ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masuk ke zona Rp 14.000. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, sejak triwulan IV/2017 hingga triwulan I/2018, sektor industri manufaktur untuk kategori industri besar dan sedang (IBS) di DIY menunjukkan adanya pertumbuhan positif yakni sebesar 2,56%. Sedangkan secara nasional, industri ini tumbuh sekitar 0,88%. 

Kepala BPS DIY, JB Priyono mengatakan pertumbuhan IBS DIY itu sejalan dengan pertumbuhan produksi IBS di tingkat nasional. Menurutnya pertumbuhan IBS manufaktur itu tak lepas dari pertumbuhan yang juga dialami oleh industri makanan. 

"Pertumbuhan IBS tersebut didongkrak oleh tumbuhnya industri makanan yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,24 persen. Selain itu, ditopang juga oleh industri pakaian jadi, industri furnitur, serta industri karet, barang dari karet dan plastik yang masing-masing tumbuh positif," kata Priyono, Minggu (13/5/2018). 

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY Iwan Setiawan mengatakan pelemahan nilai rupiah memang memberikan keuntungan pada sektor-sektor industri yang berorientasi ekspor.

Kondisi menguatnya dolar terhadap rupiah ini diakuinya membawa berkah bagi industri garmen yang berorientasi ekspor. 

"Tahun lalu, dunia industri juga pernah dihadapkan pada persoalan yang sama," ucap dia. 

Gejolak melemahnya rupiah yang pernah terjadi memberikan pengalaman berharga bagi para pelaku industri ini. Iwan menilai dengan kondisi seperti saat ini, dari sisi pengusaha sudah lebih siap dan sejauh ini masih bisa menjaga kondisi ini. 

"Di DIY, industri pertekstilan ini lebih dipelopori oleh garmen, dan di asosiasi ini, [garmen] anggota terbesar. Jadi, justru kami diuntungkan dengan naiknya dolar," ucap Iwan. 

Terbebani

Kendati pada satu sisi industri tekstil ini diuntungkan dengan menguatnya dolar, tidak dipungkiri jika kondisi tersebut cukup membebani dari sisi hulu. Bahan baku yang digunakan industri ini, kata Iwan, sebagian besar masih sangat bergantung pada impor, terutama untuk bahan-bahan baku dari fiber. 

Sisi hulu, atau dalam hal ini aspek bahan baku, diakuinya memang masih banyak bergantung pada mata uang dolar. "Sedangkan penjualan produk tekstil masih menggunakan rupiah. Tentunya pelaku industri ini harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama dalam pembelian material. Karena tentu saja akan berdampak," ujar Iwan. 

Dia menjelaskan ketergantungan bahan baku impor masih sangat tinggi, yakni sekitar 95%. Menurutnya, untuk bahan-bahan polyster masih bisa diproduksi sendiri, tetapi untuk bahan baku fiber sejauh ini memang masih harus impor.