Rupiah Melemah, Tamu Asing Pilih Tambah Transaksi Saat Menginap

Rupiah Melemah, Tamu Asing Pilih Tambah Transaksi Saat MenginapIlustrasi hotel - JIBI
10 Juli 2018 16:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menguatnya nilai mata uang dolar memberikan keuntungan bagi industri perhotelan. Tamu asing tidak hanya berbelanja kamar untuk menginap, tetapi juga membeli paket lainnya. 

Selama ini, sebagian besar penjualan kamar hotel dilakukan melalui online travel agent (OTA). Kendati demikian, penjualan kamar masih mengandalkan mata uang rupiah, sehingga kenaikan dolar dinilai tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada bisnis hospitality. 

"Sejauh ini tidak ada pengaruhnya. Penjualan kamar hotel melalui OTA juga masih ramai," ujar Marketing Communcations Manager The Phoenix Hotel Yogyakarta, Maria Perwitasari kepada Harian Jogja, Senin (9/7). 

Hotel bintang lima tertua di Jogja ini sejak lama dikenal sebagai hotel yang banyak menerima tamu asal mancanegara. Meski kondisi rupiah melemah dan dolar menguat, tak memberikan pengaruh negatif pada transaksi di hotel ini. 

Marketing and Communications Manager Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel Khairul Anwar mengungkapkan dolar yang menguat tidak akan memberikan pengaruh terhadap penjualan kamar hotel di OTA. Pasalnya, penjualan kamar menggunakan basic rate dengan mata uang rupiah. 

"Jadi malah sebenarnya harga kamar yang ditawarkan tampak lebih murah.Misalnya dulu rupiah ratenya Rp13.000, kami dikisaran US$85 [Rp1,2 juta]. Kalau dolar naik, maka harga tersebut jadi tampak senilai US$80 [Rp1,1 juta]," kata Awang. 

Penjualan kamar hotel, baik untuk tamu lokal maupun mancanegara, tetap menggunakan mata uang rupiah. Hal itu sudah sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang mensyaratkan penerapan rate hotel dan sektor pariwisata harus menggunakan rupiah. 

"Harga dolar yang di OTA itu, sudah dikonversi dari harga rupiah masing-masing hotel. Bukan pembedaan rate per market," jelas Awang. 

Awang menambahkan kondisi naiknya dolar selama beberapa bulan lalu, dirasakan menguntungkan bagi perhotelan. Pasalnya, tamu tak hanya menghabiskan uangnya untuk sewa kamar. 

"Tidak hanya belanja kamar, tetapi mereka juga spend untuk tur, food trip dan suvenir. Bagi hotel bagus, bagi Jogja juga bagus. Menguntungkan juga untuk promosi pariwisata ke depannya," kata Awang.