Pelaku Wisata Butuh Dukungan Modal

Pelaku Wisata Butuh Dukungan ModalIlustrasi wisata Jogja. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
13 Agustus 2018 10:30 WIB Mediani Dyah Natalia Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peluncuran aturan pelaksanaan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) untuk sektor pariwisata yang selama ini dianggap masih sulit mendapatkan pembiayaan, disambut baik oleh para pelaku wisata. Pasalnya masih banyak pelaku wisata yang membutuhkan dukungan modal.

Ketua DPD Asita DIY Udi Sudiyanto menyambut baik aturan KUR khusus pelaku wisata yang disahkan pada pada Juli lalu. Menurutnya hal itu bisa sangat membantu bagi pihak-pihak yang berkecimpung di bidang pariwisata. Baik tour travel, kuliner, penginapan, suvenir ataupun subsektor lainnya. Apalagi di Jogja, Udi menyebut masih banyak pelaku wisata yang skalanya menengah dan kecil.

Udi mencontohkan pengusaha tour travel di Jogja mayoritas masih pemain skala kecil dan menengah. Sehingga kendala terkait permodalan sangat dirasakan oleh mereka. Jika suatu perusahaan tour and travel mendapatkan pesanan dalam jumlah banyak, 100 paket misalnya, mereka terkadang kesulitan menerima pesanan tersebut. Pasalnya mereka harus menyiapkan bujet untuk urusan booking akomodasi dan menyediakan transportasi dalam jumlah yang tidak sedikit. Padahal jika menggunakan seluruh dana dari pemesan, maka mereka tidak punya cadangan untuk operasional.

"Urusan permodalan jadi penting karena meski seluruh anggota ASITA sudah berbentuk PT, masih banyak yang menengah dan kecil. Jika tidak bisa mengambil pesanan dalam jumlah besar, usahanya tidak berkembang. Maka modal mutlak diperlukan," katanya kepada Harian Jogja, Minggu (12/8).

Tak hanya sektor tour and travel, Udi menyebut banyak subsektor lainnya yang mayoritas pelakunya merupakan UMKM. Misalnya objek wisata kerajinan ataupun juga penyedia suvenir. Mereka lah yang menurutnya butuh dukungan penuh pemerintah dalam hal permodalan. Dengan adanya KUR Pariwisata ini mereka akan mendapatkan amunisi untuk mengembangkan skala usahanya. Begitu pula dengan subsektor lainnya.

Terkait pengawasan terhadap kredit macet yang mungkin bisa terjadi, Udi berharap dapat bekerja sama dan bersinergi dengan pihak perbankan. Khususnya untuk sektor tour and travel. Caranya dengan pemberian rekomendasi dari ASITA terkait perusahaan tour and travel yang mengajukan KUR pada perbankan. Jika dari hasil penilaian ASITA rekam jejak usahanya baik maka KUR bisa diberikan, begitu pula sebaliknya. "Kami menawarkan diri untuk kolaborasi dengan perbankan dalam meminimalkan adanya kredit macet di sektor pariwisata ini," katanya.