Kopi Pacewetan Angkat Kopi Specialty Pacitan

Kopi Pacewetan Angkat Kopi Specialty PacitanFerroza Dharmagtha - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
03 September 2018 16:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bisnis kopi yang kian marak membuat kopi-kopi daerah dikenal masyarakat luas. Misalnya Kopi Pacewetan dari dataran tinggi di Nawangan, Pacitan, Jawa Timur.

Bertahun-tahun lalu, daerah Kecamatan Nawangan, Pacitan terkenal sebagai penghasil jeruk dengan kualitas terbaik. Bahkan hasil panen masyarakat berhasil masuk ke pasar-pasar retail besar. Namun sayangnya kejayaan tersebut kini tak lagi tersisa. Tak ada lagi jeruk Nawangan yang dijual di pasar retail, bahkan kebun-kebun jeruk tak lagi dapat ditemukan. Mirisnya lagi, varietas jeruk Pacitan masih ada hingga kini namun berasal dari Malang. "Kini, kebun-kebun jeruk sudah jadi kebun kopi, cengkeh, dan vanili," ujar pemilik kebun sekaligus Marketing Kopi Pacewetan Ferroza Dharmagtha kepada Harian Jogja, Jumat (31/8).

Tak ingin hal yang sama terjadi pada robusta Pacitan, Oza pun menggandeng petani yang kerap dijuluki sebagai profesor kopi Gde Putut Prasetyo. Selain itu, kelompok tani setempat yang masih punya tanaman kopi di kebun juga diajak serta. Sebab menurutnya jika tak digarap secara serius, robusta asal Nawangan dengan citarasa yang unik dan beda dari daerah lainnya bisa saja terlupakan. Oza menyebut robusta yang ditanam di tanah Nawangan yang dahulu dipakai untuk menanam jeruk punya ciri khas. Jika pada umumnya robusta dominan dengan rasa pahit, robusta yang ditanam di Desa Pakis, Nawangan pada ketinggian 964 mDPL ini dominan dengan rasa jeruk.

Namun menurut Oza usaha mengangkat kopi yang diberi label Kopi Pacewetan tersebut tak lantas berjalan dengan mudah. Pasalnya kini banyak petani yang mulai mengganti tanaman kopinya dengan pohon sengon yang kayunya dapat dipanen tiap lima tahun sekali. Masalahnya klasik, karena tak dirawat dengan baik, hasil panen kopi tersebut tiap tahunnya terus merosot. Padahal tanaman kopi memang butuh perawatan lebih disertai pohon peneduh, dibebaskan dari hama, dibersihkan daunnya secara teratur, dan lain-lain.

Belum lagi pengolahan biji kopi setelah dipanen juga butuh perhatian tersendiri. Untuk menghasilkan kopi specialty atau premium, Oza menerapkan metode petik merah. Artinya hanya biji kopi berwarna merah atau yang telah matang sempurna saja yang ia gunakan untuk produksi Kopi Pacewetan. Biji-biji yang sudah dipanen dengan dilorot, akan disortasi untuk dipilih yang memiliki kualitas terbaik. Hasil sortasi tersebut akan dijemur selama kurang lebih 30 hari untuk menghasilkan kering yang pas dan dikupas dari kulitnya.

"Kami banyak menerapkan cara natural untuk mengolah. Setiap bulannya ada sekitar 20 sampai 30 kilogram kopi yang kami sangrai dengan wajan gerabah untuk menjaga citarasanya. Kami tak ingin cara pengolahan kopi yang tradisional sejak zaman dahulu itu tergerus penggunaan alat-alat canggih," katanya.

Para petani pun diajarkan untuk mengolah kopi dan merawat tanamannya dengan benar. Tak hanya itu, biji kopi mentah dibeli dengan harga cukup tinggi yakni Rp35.000 per kilogramnya. Setelah dipanen Oza menjelaskan proses produksinya dilakukan di Gubuk Kopi Pacewetan Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Pacitan. Tak jauh dari rumah produksi itulah, Kopi Pacewetan diperkenalkan ke masyarakat luas melalui konsep gubuk kopi. Para pengunjung yang datang akan mendapatkan kopi tubruk gratis. Bahkan mereka boleh menghaluskan atau mengolah kopi sendiri sesuai keinginginannya, seperti di rumahnya sendiri. Jika diproses menggunakan metode lain, pengunjung hanya perlu membayar Rp5000 per gelas.

"Kami ingin kopi specialty Pacitan ini dikenal dulu oleh masyarakat luas. Agar petani juga makin semangat karena kopinya sudah punya nama seperti specialty Gayo, Mandheling, Bajawa atau yang lainnya. Brand bisa dikesampingkan dulu, maka kami sediakan kopi gratis agar masyarakat berkenalan dulu dengan kopi asal Pacitan ini," ujar Oza.

Kini Kopi Pacewetan yang juga tergabung dengan Komunitas Kopi Nusantara mulai memiliki positioning yang jelas dalam "pergaulan" kopi specialty. Usaha yang dijalankan bersama ini telah rutin menyetok cafe-cafe, bahkan hingga kebutuhan korporasi secara berkala. Kopi Pacewetan juga rutin mengikuti acara-acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Kopi Nusantara seperti Malioboro Coffee Festival ataupun Ngopi Bareng KAI. Semangat yang telah menjadi amunisi selama kurang lebih tiga tahun ini, mulai mengangkat posisi kopi specialty Pacitan setara dengan kopi-kopi Nusantara lainnya.