Advertisement
Pendampingan UMKM untuk Peningkatan Standardisasi
Ilustrasi UMKM - Bisnis Indonesia/Rachman
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Era digital yang semakin masif menuntut pelaku usaha untuk cakap dalam memanfaatkan teknologi informasi dalam mengelola bisnisnya. Kendati demikian, upaya mendukung standardisasi produk UMKM yang sesuai pasar internasional, perlu dilakukan dengan program yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha tersebut.
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY Robby Kusumaharta mengungkapkan terdapat tiga produk unggulan yang dimiliki Jogja yakni kerajinan, fesyen dan kuliner. "Ketiganya harus sudah mulai didorong untuk bisa mencapai standar pasar internasional, terlebih saat bandara baru nanti beroperasi," ujar Robby, Selasa (27/11).
Advertisement
Robby mengungkapkan UMKM yang sudah mencapai standardisasi untuk masuk pasar global, masih perlu untuk didorong. Upaya Bank Indonesia dalam menaikkan kelas UMKM dinilai sebagai langkah yang tepat.
Terlebih kini di era digital, UMKM dinilai perlu untuk semakin meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi pasar daring yang tumbuh pesat. "Sebagian besar UMKM DIY sudah memanfaatkan teknologi digital, baik [pemanfaatan teknologi digital] pada proses maupun hingga ke pemasaran," jelas Robby.
BACA JUGA
Pakar Ekonomi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY Sri Susilo mengungkapkan pembinaan UMKM harus dilakukan dengan menyesuaikan peningkatan kapasitas yang dibutuhkan oleh pelaku usaha tersebut. Susilo mengatakan selama ini pembinaan terhadap UMKM masih dilakukan secara generik.
"Artinya, peningkatan capacity building UMKM ini masih disamaratakan. Padahal setiap pelaku usaha memiliki kebutuhan yang tidak sama. Ada yang memang masih perlu didorong permodalannya, pengemasan produk atau pencatatan usaha," ungkap Susilo.
Susilo menegaskan baik pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki program pembinaan UMKM semestinya lebih jeli dalam melihat kebutuhan yang diperlukan oleh pelaku usaha. Menurut Susilo, pengembangan UMKM seperti yang dilakukan oleh Bank Indonesia, dinilai sudah tepat dalam mendorong kemajuan UMKM.
"Namun kendala program pendampingan UMKM biasanya persoalan dana atau sumber daya manusia yang terbatas, yang menjadikan pemerintah harus mengembangkan UMKM secara generik ini. Hal itu juga terjadi pada program corporate social responsible yang dilakukan perusahaan atau pihak swasta. Mestinya dalam mendorong mereka, harus dilihat case by case, jangan disamaratakan," jelas Susilo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
- Cek Saldo Minimum Mandiri, BRI, BNI Terbaru Februari 2026
Advertisement
Jadwal SIM Keliling Sleman 24 Februari 2026: Di Mitra 10
Advertisement
WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Antam Senin 23 Februari Naik Rp16.000 per Gram
- Uang Beredar M2 Januari 2026 Tembus Rp10.117,8 Triliun
- APBN Januari 2026 Defisit Rp54,6 Triliun
- Menkeu Purbaya Perpanjang Penempatan Dana Rp200 Triliun di Perbankan
- Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Dinilai Masih Sulit Tercapai
- Tarif Trump Dibatalkan, Pemerintah AS Tegaskan Perjanjian Dagang Tetap
- MUI Ingatkan Risiko Jika Produk AS Dikecualikan dari Label Halal
Advertisement
Advertisement







