Advertisement
IDE BISNIS: Pluei Kreasikan Resin & Kayu Jadi Liontin Cantik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Beberapa tahun terakhir resin untuk aksesori kian menjadi tren. Ia digemari karena memberi hasil seperti kaca, tetapi tidak begitu rapuh atau mudah pecah. Di tangan Bayu Putro Pamungkas, resin dikombinasikan dengan kayu menjadi liontin yang cantik.
Pada awalnya, laki-laki yang akrab disapa Komeng ini hanya bermodalkan coba-coba. Ia gemar menonton tutorial di Youtube dan menemukan beberapa kreasi kerajinan resin serta kayu. Saat ditemui Harian Jogja pada Senin (3/9), ia bercerita bahwa kerajinan itu mudah dikreasikan.
Advertisement
“Kebetulan teman saya ada yang mencoba [membuat] kerajinan resin. Karena dia gagal, saya ambil aja resinnya dan iseng bikin. Awalnya aku nggak bisa bentuk, tetapi pas minta tolong orang malah nggak sesuai dengan harapanku. Akhirnya saya coba-coba ngebentuk terus.”
Komeng mengkreasikan resin dengan beberapa jenis kayu, antara lain jati dan kleresade. Jenis kayu tersebut dipilih karena tergolong kayu keras. “Awalnya saya pakai kayu sengon. Gampang bikinnya, dipatahkan pakai tangan bisa. Tapi hasilnya lembek, enggak bagus,” ujar laki-laki yang juga seorang bassist sebuah band punk di Jogja ini. Rencananya ia akan menggunakan kayu jati karena kualitasnya lebih bagus.
Bisnis ini diawali dengan memproduksi liontin yang kemudian dibagikan kepada teman-temanya. Karena responsnya positif, pada 2016 Komeng baru serius menjalankan bisnis kerajinan dan kemudian menamainya dengan Pluei.
Dibantu kekasihnya, Honey Intania Yonarizki, ia menyasar pasar kalangan anak muda yang menyukai aksesori handmade (buatan tangan) yang unik. Pluei hanya memproduksi seluruh aksesori liontin satu buah. Hal ini menjadikannya spesial karena tidak ada duanya. “Bukan limited edition lagi, tetapi sudah one and only,” kata Honey.
Untuk bahan bakunya, Komeng mendatangkan resin dari Bandung. Sedangkan bahan kayu keras ia peroleh dari Jepara dan Gunungkidul.
Sebelum dicampur resin, bagian kayu perlu dipilih yang memiliki bentuk menarik, biasanya yang memiliki tekstur lapisan warna yang beragam atau sisi patahan yang unik. Potongan kayu tersebut kemudian direbus dan dipanggang dalam oven dalam waktu tertentu untuk menghilangkan getahnya, sehingga ketika dicetak bersama cairan resin dapat meresap sempurna.
Setelah cetakan yang berbentuk kotak itu mengeras, Komeng akan menghaluskan sisi-sisinya sesuai bentuk yang dia inginkan.
Awalnya, sesuai nama bisnisnya yaitu Pluei, kata dalam bahasa Prancis yang berarti hujan, Komeng berniat konsisten dalam menyajikan liontin resin-kayu berbentuk butiran air. Namun, ia mengaku kesulitan dan seringkali ingin mengkreasikan bentuk-bentuk lain.
“Hujan kan filosofinya macem-macem, mulai dari bencana, kerinduan, atau sebuah rejeki. Aku menganggapnya kerinduan, jadi aku pengen Pluei ini selalu diingat orang,” jelas mahasiswa jurusan Hubungan Internasional ini. Berangkat dari hal ini, mereka menyasar produk resin ini sebagai salah satu pilihan kado untuk pelanggannya.
Mulanya, Komeng selalu menjual liontin resin-kayu berdasarkan bentuk yang disenanginya, dan tentu saja semuanya hanya ada satu buah stok. Namun, lama-kelamaan beberapa orang meminta dibuatkan liontin secara custom (sesuai keinginan pelanggan). Meski begitu, ia tetap bertahan dengan produk handmade dengan produk satuan untuk mempertahankan sisi istimewanya. Sesekali ia mengkreasikan kayunya dengan dicat warna lain maupun membuat versi glow in the dark.
Untuk Kado
Untuk satu produk liontin Pluei, harga yang ditawarkan berkisar antara Rp80.000-Rp90.000. Namun, untuk produk custom dibanderol mulai dari Rp100.000 tergantung kesulitan pengerjaan.
Untuk produk custom, Komeng meminta pelanggan untuk memesan jauh-jauh hari, minimal satu minggu sebelumnya.
“Karena seringnya ini buat kado, jadi kendalanya ada deadline tanggal ulang tahun. Kalau bisa pesannya jauh-jauh hari saja,” tutur Komeng.
Meski pada awalnya segmentasi pembeli Pluei ialah kalangan perempuan, rupanya realita pembelian dilakukan oleh laki-laki. “Jadinya yang banyak beli itu cowok, tapi buat kado ceweknya,” ujarnya. Sampai saat ini, pelanggan Pluei tidak hanya berasal dari Jogja, ada pula yang dari Aceh dan Kalimantan.
Hingga saat ini, Pluei bisa dipesan melalui akun Instagram @Pluei_ serta akun Facebook dan Tokopedia bernama Pluei.
Ada satu event offline yang pernah diikuti Pluei yaitu Festival Kesenian Yogyakarta 2017. Namun, saat ini mereka belum mengikuti pameran maupun festival lagi dikarenakan pengerjaannya hanya dikerjakan oleh mereka dibantu seorang teman. “Selama ini pemasaran kami bermodal relasi dan dari mulut ke mulut aja sih,” kata Komeng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
Advertisement
BPNT Kulonprogo 2026 Disalurkan, Penerima Turun Jadi 904 KPM
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
- Impor 105.000 Pikap India Diprotes Buruh, Ini Alasannya
- OJK Tegaskan Influencer Keuangan Bisa Disanksi Jika Merugikan Publik
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Harga Emas Pegadaian 26 Februari 2026, UBS Rp3,099 Juta per Gram
- Harga Pangan Hari Ini Turun, Daging Sapi Rp137.867 per Kg
- Menaker Ingatkan Sanksi bagi Perusahaan yang Telat Bayar THR
Advertisement
Advertisement







