Jogja Belum Kecipratan Turis IMF

Jogja Belum Kecipratan Turis IMFIMF. - Binis Indonesia
04 Oktober 2018 07:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia (IMF-WB) yang akan berlangsung pada 8-14 Oktober di Bali digadang-gadang mampu memberikan kontribusi pada kunjungan wisata pada daerah-daerah lainnya. Pasalnya per 29 September 2018, telah ada sekitar 22.000 orang yang terdaftar dengan komposisi 11.093 orang merupakan warga negara asing. Namun sayangnya hingga kini Jogja belum kecipratan kedatangan para turis asing ini.

Ketua DPD Asita Yogyakarta, Udhi Sudiyanto mengakui belum ada satu pun peserta IMF-WB di Bali yang memesan perjalanan wisata ke Jogja seusai acara rampung. Padahal menurutnya jauh-jauh hari, Asita telah menyiapkan tawaran paket-paket wisata dan disampaikan kepada panitia IMF-WB. Pasalnya memang sudah ada konsorsium yang terjalin dengan mitra bisnis maupun panitia. Udhi menyebut paket wisata tersebut sebenarnya telah dimasukkan pada buku panduan peserta IMF-WB beserta tawaran paket wisata dari daerah lainnya. Selain itu juga akan dimasukkan dalam pamflet maupun iklan audio visual yang nantinya bisa dilihat oleh para peserta. "Bahkan panitia juga telah melakukan promosi saat masa pra-penyelengaraan," katanya kepada Harian Jogja, Rabu (3/9).

Sayangnya, usaha yang dilakukan tersebut belum membuahkan hasil hingga kini. Tercatat belum ada satu pun peserta IMF-WB yang memesan paket wisata. Meskipun menurut Udhi sudah ada beberapa peserta yang menghubungi untuk sekedar bertanya akan paket wisata yang ditawarkan. "Belum ada yang nyantol sampai sekarang. Namun memang kita kan harus lihat jadwal mereka bagaimana. Apa ada waktu untuk berwisata atau tidak, itu tergantung pada delegasi masing-masing," ucapnya.

Udhi menjelaskan paket-paket wisata yang ditawarkan masih mengangkat highligt pariwisata Jogja. Yakni Prambanan, Borobudur, dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selain itu, opsi wisata Tebing Breksi juga ditampilkan mengingat minat wisatawan asing terhadap objek wisata ini juga meningkat. Pilihan lainnya, menurut Udhi difokuskan pada jenis wisata heritage dan menonjolkan potensi desa wisata. Misalnya paket wisata heritage tour dengan menggunakan sepeda. Para wisatawan dapat menikmati suasana perdesaan dan tempat-tempat bersejarah di Jogja dengan mengendarai sepeda.

Udhi mengakui sebagai salah satu kota wisata, Jogja belum banyak dikenal oleh para turis mancanegara. Berbeda halnya dengan Bali yang menjadi rujukan turis dari berbagai bangsa dan negara. Meskipun belum ada satu pun peserta IMF-WB yang memesan paket wisata ke Jogja, Udhi tak kecewa. Sebab menurutnya, gelaran IMF-WB bisa jadi pintu gerbang untuk mengenalkan Jogja kepada pasar wisata dunia yang lebih luas.

"Yang penting misi kami memperkenalkan Jogja dulu ke wisatawan asing karena memang belum terlalu dikenal. Memang tidak semua peserta IMF ini kenal dan melirik Jogja tetapi dengan promosi ini kami ingin membuka mata mereka bahwa ini lho ada Jogja yang jaraknya hanya satu jam [perjalanan udara] dari Bali," imbuhnya.