Pelaku Kreatif Didorong Komersialkan Kekayaan Intelektual

Pelaku Kreatif Didorong Komersialkan Kekayaan IntelektualPlt Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri Bekraf Fahmy Akmal ketika menyosialisasikan program Katapel di Canting Restaurant, Galeria Mall, Jogja, Rabu (6/3)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
09 Maret 2019 10:30 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong para pelaku kreatif di Indonesia termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mengomersialkan kekayaan intelektualnya atau intellectual property (IP).

Bekraf pun mengadakan roadshow sosialisasi program Katapel di tiga kota di Indonesia untuk menjaring pemilik IP untuk diangkat dan diperkuat nilai jualnya di dalam dan luar negeri. Plt Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri Bekraf Fahmy Akmal mengungkapkan Katapel merupakan program yang digagas Deputi Pemasaran Bekraf untuk menjembatani pelaku kreatif atau pemilik IP dengan para ahli di bidang pemasaran lisensi IP.

"Katapel memiliki makna sebagai pelontar yang membuat benda yang dilontarkan melesat jauh. Sesuai filosofi tersebut, diharapkan program ini membuat pelaku kreatif semakin maju dan melesat tinggi, baik dari segi wawasan memasarkan karya maupun pendapatan dan pengembangan bisnisnya," ujar dia kepada wartawan di Canting Restaurant, Galeria Mall, Jogja, Rabu (6/3).

Ia mengatakan pogram yang bekerja sama dengan Perkumpulan Pop Culture Indonesia dan Danumaya Dipa ini memasuki penyelenggaraan tahun kedua. Progam ini akan digelar pada 9-12 April 2019 di Jakarta. Namun, sebelum itu, dilakukan roadshow di tiga kota, yakni Bandung (4/3), Jogja (6/3), dan Surabaya (20/3).

Di Jogja, roadshow Katapel dilaksanakan di Canting Restaurant dengan 100 peserta. Menurutnya, antusiasme peserta sangat tinggi dan melebihi kuota.

Tiga kota tersebut dipilih menjadi lokasi pelaksanaan roadshow karena berdasarkan data pendaftaran terbuka Katapel Batch 1, banyak sekali potensi kreator lokal. Namun, ada yang belum berkesempatan terpilih menjadi peserta workshop karena belum memenuhi kriteria.

 Program Director Katapel.id Mayumi Haryoto mengungkapkan melalui roadshow ini diharapkan pelaku kreatif lokal mendapat pengetahuan tentang cara memonetisasi atau mengomersialisasikan kekayaan intelektual karya yang dimiliki, langsung dari ahli yang kredibel di bidangnya.

"Selain itu, kegiatan ini sekaligus untuk persiapan seleksi pendaftaran terbuka workshop Katapel Batch 2 yang dibuka mulai 6 Maret melalui web www.katapel.id," ujar dia.

Ia menjelaskan peserta yang lolos workshop akan dikurasi dan dipilih 20 besar yang kemudian disaring lagi menjadi lima besar. Mereka akan dikirim ke ajang lisensi kekayaan intelektual internasional untuk bertemu investor guna merambah pasar domestik maupun internasional.

Sementara itu, Katapel Batch 1 yang dilaksanakan pada 31 Oktober-3 November 2018, telah terpilih 15 IP untuk mengikuti demo day dan dipilih lima terbaik untuk mengikuti trade show berskala internasional, yakni Hong Kong International Licensing Show (HKILS) pada 7-9 Januari 2019. Lima besar IP terbaik tersebut, di antaranya Tahilalats, HeyBlo, Komik Ga Jelas, Garudayana, dan Emak-Emak Matic.

Melalui keikutsertaan dalam HKILS, berbagai tawaran business and licensing deals diperoleh dari beragam negara, seperti Indonesia, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan, dan Filipina. "Tak hanya mengikuti trade show, lima besar Batch 1 juga mendapat keuntungan untuk mengikuti mentoring program selama 12 bulan, yakni berupa bimbingan dalam mengembangkan IP dan meraih licensing deals yang dimentori oleh tim Katapel," jelas dia.

Creator Emak-Emak Matic Andi Taru Nugroho NW mengaku dengan mengikuti Katapel wawasannya semakin luas dan bisa membuka peluang usaha yang lebih lebar. Ia pun menyadari pentingnya melindungi IP. "Mindset creator perlu diubah. Jangan hanya fokus pada kreasinya saja tetapi juga perlu melindunginya. Selain itu, produk yang dihasilkan bisa dikembangkan. Misalnya Emak-Emak Matic, tidak hanya berhenti di gim, tetapi juga ada komik dan lainnya," kata dia.