Inflasi Rendah, BI Berpeluang Memangkas Suku Bunga

Inflasi Rendah, BI Berpeluang Memangkas Suku BungaGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (16/5/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan
12 Juni 2019 11:07 WIB Hadijah Alaydrus Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Sejalan dengan rendahnya inflasi dan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, Bank Indonesia (BI) membuka ruang kebijakan moneter yang akomodatif. Yakni dengan memangkas suku bunga acuan.

Gubernur BI Perry Warjiyo meng­ung­kap­kan, arah kebijakan akomodatif tersebut akan diambil dengan memperhatikan sejumlah perkembangan, di antaranya kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal perekonomian domestik.

“BI akan terus mencermati kondisi pa­sar keuangan global dan stabilitas eks­ternal perekonomian Indonesia, dalam mem­pertimbangkan terbukanya ruang kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya men­dorong ekonomi dalam negeri,” ujar Perry, Selasa (11/06/2019).

Sejalan dengan itu, BI juga masih terus menjalankan kebijakan makro prudensial yang akomodatif melalui berbagai instrumen, termasuk financing to funding ratio (FFR).

"Kami juga akan terus mendorong pendalaman pasar keuangan untuk mendukung pembiayaan ekonomi.”

Kepala Ekonom PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro berpendapat bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi BI untuk memangkas suku bunga.

Pasalnya, rating kredit Indonesia dari S&P meningkat, sinyal penurunan suku bunga oleh Amerika Serikat (AS), pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil surat utang AS, penurunan harga minyak, dan pemotongan suku bunga yang sudah dilakukan oleh sejumlah bank sentral di Asia.

“Kami ragu jika faktor-faktor ini akan kembali terjadi pada waktu bersamaan lagi tahun ini, sehingga bulan ini [Juni] adalah waktu yang tepat bagi bank sentral untuk memotong suku bunga dari level 6%,” ujar Satria.

Di sisi lain, Satria menilai pemotongan suku bunga oleh BI akan tergantung pada momentum sehingga pergerakan nilai tukar rupiah tetap stabil.

Sumber : bisnis.com