Rupiah Diprediksi Menguat

Rupiah Diprediksi Menguat Nasabah menghitung uang di sebuah Money Changer, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - JIBI/Bisnis Indonesia/Himawan L. Nugraha
23 Juni 2019 22:47 WIB Finna U. Ulfah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Rupiah diprediksi menguat pada perdagangan pekan depan, seiring dengan optimisme ekonomi dalam negeri akan tumbuh lebih baik dan prospek derasnya arus modal yang akan masuk ke Indonesia.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rupiah diprediksi melanjutkan penguatan dari sesi perdagangan sebelumnya seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang lebih baik menyusul langkah Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 6% dan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin.

"Kebijakan ini dinilai dapat meningkatkan likuiditas perbankan sehingga meningkatkan pertumbuhan kredit menjadi 10-12%," ujar Ibrahim sepert dikutip dari keterangan resminya, Minggu (23/6/2019).

Tidak hanya itu, Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan sinyal adanya penurunan suku bunga menunggu waktu yang tepat menjadi katalis positif bagi rupiah karena penurunan suku bunga tersebut akan menggairahkan, baik dunia usaha maupun rumah tangga untuk berekspansi.

Apalagi, mengingat Indonesia baru saja menerima kenaikan rating dari Standard and Poor's (S&P) dari semula BBB- menjadi BBB+. Hal tersebut dinilai Ibrahim menjadi jaminan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan prospek derasnya arus modal masuk ke Indonesia.

Penguatan rupiah juga akan didukung dari melemahnya dolar AS imbas dari sinyal The Fed yang akan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (21/6/2019), rupiah berada di level Rp14.155 per dolar AS, terapresiasi 0,19% atau 28 poin melawan dolar AS.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.070 per dolar AS hingga Rp14.210 per dolar AS pada perdagangan Senin (23/6/2019) seiring dengan fokus pasar yang menanti pertemuan AS dan China di KTT G20 pada 28-29 Juni mendatang.

Kedua pemimpin negara AS dan China sepakat untuk bertemu di sela-sela pertemuan KTT G20 untuk memulai kembali negosiasi perang dagang yang telah tereskalasi sejak Mei.

Walaupun demikian, mayoritas analis telah memperingatkan bahwa peluang terobosan yang menentukan perang dagang AS dan China tersebut masih sangat rendah.

Di sisi lain, rupiah cenderung akan bergerak terbatas akibat ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang meningkat sehingga menghilangkan selera investor untuk berinvestasi aset berisiko, termasuk rupiah.

Sebagai informasi, pada Jumat (21/6), Pemerintah AS menarik kembali perintah untuk menyerang Iran setelah sempat menyutujui pihak militernya melakukan konfrontasi langsung dengan Iran akibat salah satu pesawat tanpa awak (drone) AS ditembak jatuh oleh rudal Iran.

Sebelumnya, ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah adanya serangan terhadap dua kapal tanker minyak di dekat Selat Hormuz, titik rute pengiriman minyak. Pemerintah AS menyalahkan Iran atas serangan kapal tanker, tetapi Iran membantah memiliki peran apa pun atas peristiwa tersebut.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia