SBBI: Inovasi Merek Jawara Atasi Krisis di Tengah Pandemi

SBBI: Inovasi Merek Jawara Atasi Krisis di Tengah PandemiSVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi. - Istimewa/Panitia SBBI 2020
17 Juni 2020 21:27 WIB Farida Trisnaningtyas Ekbis Share :

Harianjogja.com, SOLO—Para pelaku usaha maupun pemegang merek dituntut untuk inovatif dan kreatif di masa pandemi Covid-19. Bagaimanapun, adanya pandemi corona ini memukul telak usaha mereka. Namun bisnis harus terus berjalan. Inovasi menjadi andalan agar bisa bertahan dan memenangkan pasar. Eksistensi para pemegang merek ini dibuktikan salah satunya melalui Solo Best Brand and Innovation (SBBI) Award 2020 yang merupakan metamorfosis dari Solo Best Brand Index yang rampung digelar Rabu (17/6/2020).

Penghargaan ini menghadirkan para jawara pemegang merek di berbagai kategori. Mereka terbukti sukses mencuri hati konsumen mengingat award ini hadir lewat survei merek yang objektif dan terpercaya dan tetap dijaga sejak awal dilaksanakan SCSI pada 2001 hingga SBBI 2020.

Baca Juga: Tempat Perbelanjaan di DIY Pasang Larangan Membawa Anak-Anak saat Belanja

Para pemegang merek tak hanya memiliki produk yang berkualitas sehingga dipercaya konsumen, tetapi juga inovatif. Mereka juga memiliki strategi khusus untuk memnangkan persaingan merek yang ketat khususnya di wilayah Soloraya. Hal ini seperti yang dipaparkan tiga merek juara SBBI, yakni Mitsubishi, Bank Mandiri, dan Candi Elektronik, dalam acara kupas tuntas Brand Jawara Inovasi di Tengah Pandemi dalam Webinar via Zoom, Rabu (17/6/2020). Kupas tuntas yang dipandu oleh Direktur Pemasaran Solopos, Suwarmin, ini menghadirkan Deputy General Manager dan PR PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia, Intan Vidiasari, SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri, Thomas Wahyudi, dan CEO Candi Elektronik, Ardian A Santiko.

Adapun Mitsubishi sukses menang di dua kategori Best Brand dan Innovation. Pada Best Brand, Mitsubishi juara di sektor mobil niaga Mitsubishi L300 dan truk Fuso, sementara kategori Innovation pada mobil MPV, Mitsubishi Xpander. Sedangkan Bank Mandiri jawara kategori kartu bayar digital dan Candi Elektronik sebagai pemenang Best Brand toko elektronik lokal.

Baca Juga: Penjualan Via Daring Jadi Solusi Industri Otomotif

CEO Candi Elektronik, Ardian A Santiko, mengatakan toko elektronik miliknya berdiri pada 2011. Menurutnya, sejak awal hadir di tengah masyarakat tokonya selalu berinovasi dan pintar-pintar membaca keinginan pasar.

“Apa yang diinginkan customer dan membaca kebutuhan konsumen. Selain itu, kami selalu review vendor. Vendor yang kurang bagus, kami ganti,” ujarnya.

Ardian menggarisbawahi tipikal konsumen Solo itu suka diorangkan, maka mereka mesti dihargai atau nguwongke dalam bahasa Jawa. Candi Elektronik pun berusaha melayani konsumen dengan baik. Antara lain, pengiriman cepat dan tanggap terhadap komplain. Inilah yang membuat konsumen loyal tokonya bertambah setiap tahunnya.

Baca Juga: Bank Bapas 69 Magelang Bagikan 2 Mobil untuk Nasabah

Di sisi lain, pihaknya mencatat konsumen Soloraya tergolong cukup loyal. Mereka yang membeli produknya rata-rata kembali melakukan pesanan lagi. Dengan demikian, jumlah konsumen terus bertambah sehingga membukukan pertumbuhan penjualan double digit setiap tahunnya.

Di tengah kabar baik setelah menerima SBBI Award 2020, Candi Elektronik pun diterpa kejadian buruk. Kebakaran toko terletak di Jalan Slamet Riyadi pada Selasa (9/6/2020) dini hari WIB, menjadi musibah terberatnya.

Meskipun begitu, bisnis tetap berlanjut. Kini Candi Elektronik mengandalkan penjualan online melalui media sosial hingga market place toko. Bahkan, Candi menggeber promo spesial bertajuk Candi Now Di Rumah Lebih Murah. Ini mendorong konsumen untuk beli belanja dari rumah.

Baca Juga: BP Jamsostek Siapkan 3 Kanal untuk Klaim JHT

Sedangkan untuk inovasi produk, tokonya gerak cepat dengan menyediakan aneka produk yang dibutuhkan konsumen di masa pandemi Covid-19 ini.

“Kami optimistis sesuai data kami penjualan online naik 5 kali lipat sebelum atau sesudah kebakaran. Selain itu, market ini shifting ke online, meski belum bisa menggantikan offline tapi pasarnya makin besar. Konsumen kami pun juga meluas,” imbuhnya.

SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri, Thomas Wahyudi, mengatakan kunci untuk mempertahankan status sebagai merek terbaik ada dua, yakni inovasi dan fleksibitas.

“Dalam inovasi ini kita harus selalu dekat ke pasar, tertuju ke pasar, dan digerakkan pasar. Hal ini agar produk kami tidak jadi komoditas, jika ini terjadi maka akan ada price war. Pada industri e-money ini ada 3 komponen utama, yakni bagaimana optimalisasi saluran penjualannya, bagaimana cara isi ulang yang mudah, dan bagaimana usage,” paparnya.

Alih-alih buka cabang, Bank Mandiri memilih menggandeng retail dan e-commerce untuk menjual produk e-money. Bahkan, Bank Mandiri boleh dibilang menjadi yang pertama yang memiliki official store di market place. Selain itu, terkait top up selama ini andalkan channel Bank Mandiri, sekarang gandeng retail besar hingga market place untuk bisa memfasilitasi isi ulang.

Di sisi lain, market e-money ini masih sangat besar dan luas untuk digarap. Ini pun menjadi tujuan Bank Mandiri untuk mengarahkan masyarakat sebagai cashless society. Dalam hal ini, perluasan pasar usage. Sebelumnya, Bank Mandiri telah membuka fasilitas top up di jalur tol, setelah itu merambah ke pembayaran bidang transportasi seperti MRT, LRT, Transjakarta, parkir, hingga sebagai ID Card sekaligus e-money.

Tak hanya itu, e-money Bank Mandiri juga konsen terhadap desain kartu. Salah satunya dengan menghadirkan e-money edisi khusus mengikuti tren pasar. Tak ketinggalan, promosi yang gencar.

Di samping itu, pihaknya berupaya membangun kebiasaan baru dengan pembayaran nontunai. Hal ini mengingat di tengah pandemi Covid-19, uang tunai menjadi salah satu yang dihindari karena berpotensi menyalurkan virus. Praktis, penggunaan e-money melejit.

Pihaknya membeberkan pada Maret 2019 tercatat sebanyak 1,2 juta transaksi terjadi setiap hari dengan nominal mencapai Rp1,8 triliun. Angka ini naik pada Maret 2020 dengan 2 juta transaksi per hari dan nominal Rp3 triliun.

“Kami dukung gerakan nontunai. Kami punya harapan pasar indonesia, ini cashless society, ini bagus bagi industri keuangan lantaran mencetak uang itu biayanya sangat mahal. Ini komitmen kami supaya masyarakat maju,” katanya.

Deputy General Manager dan PR PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia, Intan Vidiasari, mengatakan ada beberapa produk yang sudah sangat populer di masyarakat. Misalnya, Colt L300, penyebutan Colt ini kemudian berlaku untuk mobil niaga dari merek lain sekali pun oleh masyarakat.

“Kami sangat menjaga konsumen. Xpander masuk 2017 dengan desain yang bagus untuk kebutuhan keluarga di kelas MPV. Ini adalah hasil survei selama tiga tahun kami. Begitu masuk, desainnya langsung melejit, beda. Kami terus tingkatkan fasilitasnya,” katanya.

Intan membeberkan produk yang ditampilkan adalah hasil survei. Sedangkan untuk pemasarannya, tidak hanya promosi, tetapi juga roadshow. Cara ini dipakai untuk memperkenalkan produk tersebut dan menjajal langsung.

Pada masa pandemi Covid-19, semuanya berubah. Hal ini termasuk sektor otomotif. Penjualan dan pemasaran offline beralih ke online. Tak dapat dimungkiri, sektor otomotif terbilang terpukul telak dengan adanya Covid-19. Maka, Mitsubishi pun memanfaatkan digital aset untuk mendongkrak penjualan. Boleh dibilang, sektor ini termasuk zona merah karena dampaknya menjeblokkan pasar hingga turun 60%. Mau tak mau, pihaknya mesti mengoreksi target.

Sebagai contoh, kapasitas produksi ditarget bisa berproduksi 2,5 juta unit mobil dalam setahun. Setah dihitung, prediksinya produksi hanya sampai 600.000 unit. Pasar pun tergerus sehingga menyisakan 25% - 30% saja.

“Kami terus melakukan pendekatan kepada konsumen. Mereka sebagai pengguna, bisa memberikan masukan kepada kami. Inovasi dan perbaikan terus kami tingkatkan,” jelasnya.

Sumber : JIBI/Solopos