SUPERBRAM: Terus Bergeliat di Tengah Arus Teknologi Digital

SUPERBRAM: Terus Bergeliat di Tengah Arus Teknologi DigitalPelaku UMKM yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Manunggal yang berada di kalurahan Srikayangan, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo, memproduksi Superbram, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja
15 Desember 2021 02:37 WIB Media Digital Ekbis Share :

KULONPROGO-Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi penopang penting dalam perekonomian di DIY. Namun, di tengah pandemi Covid-19, menjadi tantangan bagi UMKM. Adaptasi dengan teknologi digital, menjadi keniscayaan untuk bertahan dan berkembang.

Salah satu usaha yang terus bisa bertahan, dengan penjualan langsung dan memanfaatkan penjualan daring yaitu usaha dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Manunggal, di Pergiwatu Wetan, Srikayangan, Sentolo, Kulonprogo. KWT Putri Manunggal membuat bawang goreng, dengan mengusung brand Superbram.

Bawang goreng tanpa pengawet, dan penyedap rasa, dengan berbagai varian rasa orisinal, crispy, dan pedas ini tetap eksis. “Kami mendapatkan fasilitas untuk QRIS dari Bank BPD DIY itu, yang memudahkan konsumen dalam pembayaran, dengan barcode itu bisa pesan, bayar melalui transfer, memudahkan konsumen,” ucap Ketua KWT Putri Manunggal, Dwi Nurani, Kamis (9/12).

Dikatakan Dwi, harga bawang goreng yang stabil dan lebih diterima oleh pasar akhirnya menjadi ide bagi KWT untuk membuat produk olahan bawang merah menjadi bawang goreng. Usaha yang diusung oleh warga setempat sudah berlangsung selama sekitar lima tahun.

Sementara proses produksi bawang goreng sendiri, kata Dwi cukup sederhana. Bawang merah yang sudah dikupas diiris tipis-tipis untuk kemudian dikeringkan. Selanjutnya bawang diberikan bumbu khusus tergantung varian mana yang mau dibikin, ada original yang tanpa tambahan bumbu, crispy dengan sedikit tepung serta varian pedas yang ditambah dengan daun jeruk purut. Tahap berikutnya, yaitu menggoreng bawang hingga kering, lalu dimasukkan ke dalam kemasan.

Saat ini, Bank BPD DIY memang terus memperluas pemanfaatan QRIS, termasuk bagi UMKM. Tidak hanya mengejar jumlah merchant QRIS, namun edukasi pemanfaatan agar dapat digunakan secara maksimal turut dilakukan.

Dwi mengatakan dengan kemudahan untuk konsumen membeli produk Superbram tersebut, meningkatkan penjualan juga. “Terus terang dengan QRIS meningkatkan penjualan. Penjualan sudah ke berbagai daerah di Indonesia. Kami manfaatkan marketplace, dan media sosial, serta web juga,” ucapnya.

Untuk penjualan secara offline, saat ini produk Superbram sudah merambah ke Tomira yang tersebar se-Kulonprogo, termasuk di Yogyakarta International Airport (YIA) dan sejumlah toko atau mal di Jogja.

Dwi berharap Superbram yang awalnya pada 2018 dengan dukungan Bank Indonesia (BI) DIY, dan UGM juga, bisa terus mendapat dukungan, termasuk dari Bank BPD DIY. “Kami harap masih bisa terus digandeng. Bekerja sama, saling menguntungkan. Misal ada event Bank BPD DIY, kami bisa diajak sebagai UMKM binaan,” ujarnya. (Adv).