Advertisement
Serapan Gabah Bulog DIY Tembus 157 Ribu Ton, NTP Petani Turun
Seorang warga di Kalurahan Ngalang, Gedangsari sedang menjemur gabah di pinggir jalan alternatif Gunungkidul-Sleman. Foto diambil Senin (20/2/2023). - Harian Jogja/David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah Yogyakarta mencatat realisasi serapan Gabah Kering Panen (GKP) hingga 8 April 2026 mencapai 157.697 ton. Sementara itu, serapan beras medium tercatat 6.369 ton, atau setara total 86.478 ton beras.
Capaian ini menunjukkan tren positif di tengah momentum panen raya Maret–April 2026, di mana Bulog juga mencatat serapan GKP sebesar 110.326 ton dan beras medium 60 ton pada periode tersebut.
Advertisement
Harga dan Target Serapan
Pemimpin Bulog Kanwil Yogyakarta, Dedi Aprilyadi, menjelaskan harga pembelian pemerintah untuk GKP ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram, sedangkan beras medium Rp12.000 per kilogram.
BACA JUGA
Ia memastikan proses penyerapan berjalan lancar tanpa kendala berarti. Hal ini didukung koordinasi intensif dengan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pertanian, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kodim, hingga mitra pengadaan.
“Untuk memastikan target serapan tercapai, kami terus melakukan koordinasi dan evaluasi secara berkala,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Bulog sebelumnya memproyeksikan mampu menyerap sekitar 50.000 ton gabah per bulan selama panen raya, sehingga total serapan Maret–April ditargetkan mencapai 100.000 ton.
Target Naik dari Tahun Lalu
Secara keseluruhan, target penyerapan gabah Bulog Kanwil Yogyakarta tahun ini mencapai 195.000 ton setara beras, termasuk wilayah Cabang Magelang dan Banyumas.
Target tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang sebesar 153.000 ton, dengan realisasi mencapai 156.000 ton atau 101% dari target.
NTP DIY Turun, Daya Beli Petani Melemah
Di tengah tingginya serapan gabah, Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 sebesar 109,70 atau turun 1,11% dibanding Februari.
Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan penurunan ini menunjukkan melemahnya daya beli petani, karena harga hasil panen turun lebih dalam dibandingkan biaya yang dikeluarkan.
NTP sendiri dihitung dari perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). Pada Maret 2026, It tercatat 146,14 atau turun 0,23%.
Penurunan ini dipicu melemahnya harga sejumlah komoditas unggulan seperti salak, gabah, cabai merah, dan bawang merah.
Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga turun menjadi 133,22 atau turun 0,89%. Penurunan ini dipengaruhi harga komoditas seperti cabai rawit, kacang panjang, buncis, serta bensin.
Namun, penurunan Ib yang lebih besar secara persentase dibandingkan It justru menjadi faktor utama yang menekan NTP secara keseluruhan.
“Kondisi ini menunjukkan biaya produksi dan konsumsi rumah tangga petani turun lebih signifikan dibandingkan harga jual hasil panen,” jelas Endang.
Meski serapan gabah di DIY menunjukkan tren positif selama panen raya, penurunan NTP menjadi sinyal penting bahwa kesejahteraan petani masih menghadapi tekanan. Sinkronisasi kebijakan harga dan perlindungan petani menjadi kunci menjaga stabilitas sektor pertanian ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Konflik Timur Tengah Mereda, Wall Street Kompak Parkir di Zona Hijau
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
Advertisement
Kasus Keracunan MBG di Bantul, Dua Dapur Dihentikan Sementara
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Rangkaian Poin Penting dari Peresmian Pabrik Listrik di Magelang
- Harga Kedelai Naik Perajin Tempe Dorong Produksi Kedelai Lokal
- Prabowo Gagas Pusat Avtur dari Sawit dan Jelantah
- Guru Besar UMY: Defisit APBN Melebar Kebijakan BBM Masuk Zona Risiko
- OJK DIY Soroti Kesenjangan Literasi dan Akses Keuangan Syariah
- Harga Minyak Dunia Turun, Dampak ke BBM dan APBN Terasa
- Harga Emas Hari Ini Anjlok, UBS, Antam, dan Galeri24 Kompak Turun
Advertisement
Advertisement






