Industri Plastik Tolak Gerakan Jakarta Tanpa Plastik

Industri Plastik Tolak Gerakan Jakarta Tanpa PlastikIlustrasi penolakan penggunaan kantong plastik. - JIBI/Dwi Prasetya
10 Agustus 2018 01:30 WIB Anggara Pernando Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Para pengusaha yang bergabung dalam Inaplas menolak rencana Pemerintah Jakarta untuk memulai gerakan Jakarta Tanpa Plastik.

Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Edi Rivai menuturkan konsumsi per kapita plastik di Indonesia sangat jauh dibandingkan dengan negara kawasan seperti Singapura, Malaysia, hingga Thailand. Negara tetangga ini menurut data Inaplas telah menggunakan produk plastik rata-rata 60 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan Indonesia17 kilogram per kapita. Artinya, kata dia masih terdapat peluang ekonomi yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan optimalisasi produk yang berbahan plastik seperti negara tetangga.

“Memang bedanya kita belum dapat mengelola sampah plastik dengan baik dibandingkan negara lain yang sudah maju. Untuk itu kita harus bijak dalam menyikapi permasalahan sampah ini,” kata Edi di Jakarta, Kamis (9/8).

Dia mengingatkan plastik serta sampah yang berserakan merupakan benda mati. Produk yang mengotori lingkungan ini tidak bisa berjalan sendiri ke jalanan, sungai dan sampai ke laut.

“Sampah terjadi karena diawali oleh perilaku kita sendiri dan pengelolaan sampah yang belum terpadu di Indonesia, mulai dari pengumpulan, pemilahan hingga ke tempat pembuangan akhir,” katanya.

Apalagi, kata Edi, plastik merupakan material yang memiliki banyak fungsi. Selain tahan lama, dapat diproduksi skala massal, murah, ringan, ketahanan gas dan uap air yang baik. Plastik memiliki keunggulang dibandingkan material lain karena mudah didaur ulang bahkan dibandingkan material lain seperti kertas atau kaleng.

Sebagai gambaran, Inaplas mencatat produksi plastik kantong 360.000 metrik ton per tahun. Untuk produksi ini dibutuhkan setidaknya 300.000 tenaga kerja padat karya, belum lagi di rangkaian rantai proses lanjutannya pemasaran dan industri kecil lainnya. “Jika terhenti [akibat gerakan Jakarta bebas plastik] maka akan berdampak sosial dan ekonomi yang sangat besar,” katanya.

Dia mengatakan dengan proses pemilahan sampah lalu dikelola secara baik dan tepat guna maka tidak perlu ada pelarangan penggunaan plastik. Bahkan jika kantong belanja mengikuti SNI 7818, maka produk kantong belanja plastik mudah terurai. Selain mudah di ambil dan dipakai ulang.

Sebelumnya dalam kesempatan terpisah, Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian menyampaikan penopang utama pertumbuhan industri pengolahan nonmigas di II/2018 antara lain industri karet, barang dari karet dan plastikyang tumbuh sebesar 11,85%, kemudian diikuti industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 11,38%. Untuk industri makanan dan minuman 8,67%, serta industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 6,39%.

Sumber : Bisnis Indonesia