Pasar Ritel Masih Bertahan Ditengah Gempuran Bisnis Online

Pasar Ritel Masih Bertahan Ditengah Gempuran Bisnis OnlinePengunjung melihat barang elektronik disalah satu toko elektronik di Makassar. - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone)
15 Agustus 2018 06:30 WIB Holy Kartika N.S & Feni Freycinetia Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pasar daring yang semakin menggeliat tak dipungkiri mulai memberikan pengaruh terhadap pasar ritel. Kendati demikian, bisnis ritel Jogja dengan produk menengah ke atas dinilai masih bisa bertahan.

Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY Surya Ananta tak menampik secara nasional, pengaruh bisnis daring terhadap ritel secara total sekitar 2%. "Pun itu ada pertumbuhan, meskipun pertumbuhannya tidak terlalu cepat," ujar Nanan kepada Harian Jogja, Senin (13/8).

Nanan mengungkapkan tidak semua produk retail yang terpengaruh secara langsung akibat maraknya pasar daring. Produk elektronik dan gawai, kata dia, merupakan salah satu produk yang cukup terasa pengaruhnya. Pasalnya, selama produk tersebut resmi dan dikeluarkan oleh pabrik, orang akan lebih berani berbelanja produk elektronik secara daring.

Berbeda dengan produk fesyen dan kuliner atau makanan. General Manager Plaza Ambarrukmo ini mengungkapkan produk fesyen maupun produk dengan nilai menengah ke atas tidak banyak terpengaruh secara signifikan oleh produk daring.

"Pada produk fesyen, selama kategorinya produk di kelas menengah ke atas, maka pengaruhnya [bisnis daring] tidak terlalu signifikan. Karena kalau produk itu mahal, konsumen jelas akan lebih memilih melihat langsung produknya, sehingga percaya seperti apa kualitasnya," jelas Nanan.

Pertumbuhan ritel di Jogja, kata Nanan, tergantung pada jenis produk dan segmentasi pasar yang ada. Secara umum, perkembangan ritel di Jogja relatif tumbuh, kendati beberapa ritel mengalami pertumbuhan stagnan maupun ada yang menurun.

"Selama produk dan pasarnya di level menengah atas, investor dari Jakarta yang mau masuk ke Jogja masih akan terus ada. Tetapi kalau ke arah produk elektronik, pasar sudah cukup jenuh karena persaingan dengan pasar daring sangat tinggi pengaruhnya," kata Nanan.

Memaksimalkan Promosi

Ketua APPBI Stefanus Ridwan mengatakan pengelola mal tetep optimistis meski saat ini digempur oleh beragam toko online atau e-commerce. "Ya, harus optimistis dong. Apalagi, saya dapet informasi kalau penjualan ritel semester I/2018, termasuk departemen store mulai mengalami kenaikan," ujarnya ketika ditemui saat pembukaan Festival Jakarta Great Sale 2018, Minggu (12/8).

Dia mengungkapkan para pengelola pusat belanja dan toko harus kreatif dan gencar melakukan berbagai strategi penjualan. Beberapa cara yang bisa dilakukan seperti memaksimalkan promosi di media sosial, menawarkan diskon, dan lainnya.

Menurutnya, acara seperti FJGS juga dapat menarik minat konsumen untuk datang dan berbelanja di mal secara langsung, bukan sekadar di e-commerce. "FJGS dengan promo diskon demikian besar bisa jadi stimulus, asal acaranya dikembas bagus. Kalau pengelola mal atau tenant hanya diam saja ya siap-siap kegilas online shop," jelasnya.

Ketua APPBI DKI Jakarta Ellen Hidayat menilai masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di kota besar, tetap membutuhkan mal untuk rekreasi. Apalagi, pemain offline saat ini mulai merambah saluran online tanpa harus menutup tokonya di pusat belanja modern. Bahkan, sekarang pemilik online shop sudah membuka toko offline di mal besar di Jakarta. "Fenomena ini terjadi paling banyak di sektor fesyen. Kadang konsumen ingin beli online, tetapi sulit memastikan ukuran yang pas. Ini yang membuat online shop justru buka showroom di mal," katanya.