Google Investasikan 15 Miliar Dlar AS untuk Perkuat AI di Finlandia
Google investasi US$15 miliar di Finlandia untuk pusat data, energi dan AI. Proyek ini diproyeksikan menciptakan 37.000 lapangan kerja.
Sushi Keliling (JIBI/Harian Jogja/Ardhike Indah)
Peluang usaha, berbekal pengalaman bekerja sebagai koki di sebuah restoran Jepang, Budi memulai berjualan sushi.
Harianjogja.com, JOGJA-Banyak cara dilakukan untuk berwirausaha. Salah satunya dilakukan Budi Salasto yang merintis berjualan sushi makanan khas Jepang dengan berkeliling. Bagaimana kisahnya?
Berawal dari hobi memasak, setelah lulus kuliah di Jakarta, Budi mencoba peruntungan di dunia koki.
"Awalnya saya bekerja di sebuah rumah makan Jepang di Kebayoran, Jakarta" buka Budi Salasto, penggagas sushi keliling saat ditemui di Alun-Alun Kidul pada Jumat (13/3/2015).
Meskipun sudah menjadi pegawai di rumah makan tersebut, ia tetap tidak dapat menikmati bekerja mengikuti orang lain.
"Setelah itu, saya keluar dan pindah ke Jogja pada 2010," tambah pria asal Cijantung, Jakarta Timur itu.
Keinginannya untuk keluar membuahkan hasil. Sejak tahun 2012, Ia memiliki rumah makan ala Jepang di Jogja. Melihat prospek berjualan sushi semakin bagus,dia juga mengambil kesempatan berjualan secara keliling. Menurut dia, menjual sushi secara berkeliling adalah sebuah inovasi, karena belum banyak yang berdagang dengan gaya seperti itu.
"Di Jakarta ada yang menggunakan VW Combi, kalau yang menggunakan motor baru saya," ujarnya.
Gerobak bertuliskan Battousai yang dipasang di jok bagian belakang motor selalu menemani kesehariannya
berjualan.
"Battousai itu lambang X dari Kenshin. Saya sangat terinspirasi dengan tokoh tersebut," imbuhnya.
Perjalanan berkeliling Jogja menjual Fusion Japanese Food (makanan ala Jepang yang sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia) dimulai di SMP Negeri 4 Lempuyangwangi hingga Alun-Alun Kidul.
"Kalau di Alun-Alun Kidul paling hanya dari pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Kami harus bergantian dengan penjual yang lain," ujarnya.
Meski baru berdagang keliling selama dua minggu, dirinya bisa menjual 100-120 porsi sushi dari delapan macam sushi yang dijual setiap hari.
"Nasi seperti ini juga paling sebentar lagi habis," katanya sembari menunjuk tempat nasi yang isinya tinggal
seperempat.
Ia juga menceritakan ada orang Jepang pernah membeli dagangannya pada Kamis (5/3/2015).
"Dia [orang Jepang] bilang ini enak meski berbeda dengan yang ada di negaranya," ujarnya.
Sushi tidak menjadi satu-satunya dagangannya, dia membentuk satu inovasi lain yaitu membuat roti sushi.
"Roti sushi seperti roti gulung ditambah nori," jawab pria yang asli dari Jakarta.
Roti sushi isinya bermacam-macam, salah satunya coklat. Saat menjual, dia tidak mau sembarangan. Sarung tangan [handscoon] plastik selalu melapisi tangannya, sehingga sushi yang disajikan tetap bersih. Keunikan lain dari sushi keliling ini adalah tidak menggunakan wasabi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Google investasi US$15 miliar di Finlandia untuk pusat data, energi dan AI. Proyek ini diproyeksikan menciptakan 37.000 lapangan kerja.
Pemerintah menarik dan mencabut izin 25 merek beras fortifikasi karena diduga tak sesuai kandungan dan mutu pada label.
BKSDA Yogyakarta mendalami kemunculan Monyet Ekor Panjang di Hargowilis. SM Sermo ditegaskan bukan habitat alami primata tersebut.
Polisi menangkap dua pelaku pencurian Rp14,5 juta dari laci SPBU Salaman, Magelang. Keduanya dibekuk enam hari setelah kejadian.
Akhir pekan menjadi waktu yang tepat untuk sejenak melepas penat, berkumpul bersama orang-orang terdekat, sekaligus menikmati hidangan yang menggugah selera.
Turis Eropa ke Sleman naik 50% saat high season. HPI Sleman menyoroti destinasi yang mendadak tutup dan aturan booking wisata.