Ideologi Ekstrem Masuk Ruang Digital, Amir Mahmud Ingatkan Pentingnya Pancasila
Ideologi ekstrem menyasar ruang digital. Amir Mahmud menilai Pancasila, literasi, dialog dan ketahanan sosial penting menjaga persatuan bangsa.
Seorang pengunjung sedang memilih koleksi Gerai Hawa di Griya Muslim Annisa, Sabtu (2/5/2015). Jogja memiliki pangsa pasar fashion muslim. Sayangnya, hanya saja pemain busana ini di Jogja masih sedikit.(JIBI/Harian Jogja/Abdul Hamied Razak)
Info belanja, selebritis, Teuku Wisnu membuka Gerai Hawa untuk busana muslim di Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA- Pesatnya perkembangan islamic fashion mendorong merek baru masuk ke Jogja. Produk-produk pakaian syar'i tersebut menyasar kelas menengah di Kota Gudeg ini.
Owner Brand Gerai Hawa Teuku Wisnu mengatakan, Hawa mengusung konsep busana muslim yang simple, berdasarkan syariah namun tetap elegant. Produk yang dihasilkan seperti koko, gamis dan khirmar, katanya, tidak hanya didesain secara modern tetapi dapat digunakan untuk semua usia. Baik remaja, anak muda maupun dewasa.
"Busana muslim untuk wanita, terdiri dari gamis modern dan khimar terulur hingga menutup dada yang sesuai ketentuan syar'i. Sementara untuk busana pria kami tawarkan baju koko," kata Teuku Wisnu usah membuka Gerai Hawa di Griya Muslim Annisa, jalan Urip Sumoharjo, Jogja, Sabtu (2/5/2015).
Wisnu menjelaskan Jogja merupakan kota ketiga yang menjadi market Hawa. Sebelumnya, ia membuka gerai di Balikpapan dan Batam. Sementara, ia fokus menggarap tiga kota sebagai basis marketnya sebelum membuka gerai di kota lain. Menurutnya, pangsa pasar fashion muslim di Jogja cukup besar. Hanya saja, model dan karakteristik Jogja dengan Balikpapan dan Batam berbeda.
"Kalau Balikpapan nggak suka warna-warna gelap. Di sini warnanya bisa dikombinasikan. Kami targetkan penjualan sebanyak-banyaknya," kata Wisnu.
Ia mengatakan dalam sebulan setidaknya ada enam model baru yang ditawarkan kepada konsumen. Desain pakaian yang ditawarkan merupakan karya istrinya, Shireen Sungkar.
"Sasaran konsumen kami menengah atas. Namun, untuk menengah ke bawah masih bisa mengakses karena harganya juga terjangkau," ujarnya.
Sementara, Creative and Merchandising Director Margaria Alfita Ratna Hapsari menjelaskan, koleksi Hawa hadir di Griya Muslim Annisa karena memiliki kesamaan misi yang sama. Produk yang dihasilkan, katanya, mampu menjawab kebutuhan fashion muslim Jogja yang menginginkan busana muslim syar'i dan elegant.
"Kami ingin berbisnis sambil berdakwa, menciptakan produk berkualitas, bercita rasa tinffi dan inovatif," tukasnya.
Menurut Manager Griya Muslim Annisa Praptini, di Jogja pangsa pasar fashion muslim sangat besar. Sayangnya, lanjut dia, para pemainnya sangat jarang muncul.
"Kehadiran Gerai Hawa di Annisa, diharapkan terus menjadi butik busana muslim yang mengerti kebutuhan trend fashion Islami saat ini. Kami ingin terus aktif dan dinamis di Jogja," harap Atin, sapaan akrabnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ideologi ekstrem menyasar ruang digital. Amir Mahmud menilai Pancasila, literasi, dialog dan ketahanan sosial penting menjaga persatuan bangsa.
Pemkab Aceh Barat menyiapkan 10.000 masker untuk mengantisipasi kabut asap kiriman. Aktivitas masyarakat dan sekolah masih normal.
Ribuan warga Portugal berunjuk rasa menuntut kenaikan upah, perbaikan pensiun, layanan publik, dan perumahan dengan harga terjangkau.
DLH Gunungkidul menghentikan program pakan monyet ekor panjang pada 2027 karena dinilai tak efektif mencegah konflik dengan warga.
DJP mencatat 5.600 wajib pajak masuk cakupan pajak minimum global dengan tarif 15%. Pemerintah menghadapi tantangan penerimaan dan daya saing investasi.
BGN menginvestigasi dugaan penganiayaan di KPPG Bogor dan menyiapkan sidang etik kepegawaian terhadap terduga pelaku berinisial GD.