Hunian Vertikal Tren Baru di DIY

Hunian Vertikal Tren Baru di DIYIlustrasi apartemen - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
27 Desember 2018 20:30 WIB Holy Kartika N.S. & Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—2018 Sudah hampir usai. Di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang belum stabil akibat depresiasi rupiah, bagaimana kondisi bisnis properti di DIY? 

Tren hunian vertikal kian menarik perhatian masyarakat Jogja beberapa tahun terakhir. Keterbatasan lahan dan daya tarik hidup di tengah perkotaan menjadi salah satu alasan bagi masyarakat mencari hunian yang praktis.

Property Advisor Apartemen Uttara The Icon Zajir Anggraini mengatakan dua tahun lalu, hunian vertikal masih belum diminati. Namun, setahun terakhir ini gaya hidup praktis, kenyamanan, fasilitas privat hingga lokasi hunian yang strategis di kawasan perkotaan mulai diincar.

"Banyak orang memang mendambakan hunian yang praktis dan tidak ribet. Lokasi yang dekat dengan fasilitas publik dan ikonik menjadi alasan masyarakat tertarik untuk menghuni apartemen," ujar Anggi kepada Harian Jogja di sela-sela Pameran REI Expo 2018 di Plaza Ambarrukmo, Senin (24/12).

Anggi mengatakan kebutuhan hunian di Jogja terus meningkat dengan pesat. Banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di kota ini membutuhkan hunian yang nyaman agar kelak tak hanya dapat ditempati, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang.

Apartemen Uttara The Icon berlokasi di jalur utama kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Apartemen dengan 284 unit ini menawarkan konsep fasilitas yang sesuai kebutuhan para penghuninya.

"Selain profesional muda dan pengusaha, penghuni apartemen ini adalah para mahasiswa. Fasilitas yang diberikan cukup menunjang aktivitas mereka, seperti keberadaan coworking space, serta berbagai fasilitas lain," ungkap Anggi.

Sebagian besar pengembang apartemen membidik kawasan kampus untuk mengembangkan hunian modern ini. Berbagai fasilitas yang dihadirkan pun disesuaikan dengan kebutuhan para calon penghuni potensialnya, yakni mahasiswa.

Ini pula yang mendasari Barca City menentukan lokasi pembangunan properti mereka di DIY. HOD Marketing Barca City Spunarsih mengungkapkan mixed use apartment menjadi konsep yang ditawarkan apartemen memilih lokasi di kawasan Babarsari, Depok, Sleman, ini. Tak hanya menghadirkan hunian modern, apartemen ini didukung fasilitas tempat usaha atau shophouse dan shopping galery. "Ada dua tower yang akan dibangun dan semuanya akan dilengkapi fasilitas-fasilitas modern," ungkap Sunarsih.

Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi mengungkapkan mixed use apartment ini akan terdiri dari shopping mall, service apartment hingga fasilitas bisnis. Kawasan terintegrasi ini akan menghadirkan interaksi antara berbagai fungsi yang ada di kawasan apartemen ini. "Pengembangan Barsa City ke depan, akan membuat investasi terus meningkat yang nantinya akan memberi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitarnya," kata Harun.

Pasar Menarik

Kota Pelajar memang menjadi pasar menarik pembangunan apartemen mahasiswa PT PP Properti Tbk., anak perusahaan PT PP (Persero)Tbk. Menilai Kota Jogja atau DIY menjadi pasar yang cukup potensial. Direktur Realti PT PP Properti Tbk (PPRO) Galih Saksono mengatakan ada sekitar 35.000 jumlah mahasiswa di DIY, baik dari perguruan tinggi swasta (PTS) dan negeri (PTN). Kondisi tersebut merupakan tambang emas bagi pengembang properti untuk membangun apartemen.

"Sebenarnya PPRO sudah lama ingin masuk ke DIY. Hanya saja kami sangat menghargai moratorium yang ada di sini [Jogja]," papar Galih, beberapa waktu lalu.

Seusai mengakuisisi salah satu pengembang swasta di DIY, PT PP Properti Tbk berkomitmen mengembangkan hunian untuk mahasiswa di DIY dengan konsep apartemen yang bebas penyalahgunaan narkoba.

"Selain di Yogyakarta, apartemen bebas antinarkoba yang telah kami kembangkan yaitu di apartemen Evenciio, Depok. Kemudian apartemen The Alton di Semarang, apartemen Begawan di Malang, Louvin di Jatinangor, Bandung, dan apartemen Mazhoji di Depok," jelas dia

Perusahaannya, kata Galih, mengenalkan Apartemen Tana Babarsari di kawasan Babarsari, yang merupakan apartemen pertama di DIY yang berkonsep anti penyalahgunaan narkoba.

"Pengembangan apartemen ini merupakan strategi perusahaan dalam memenuhi peningkatan kebutuhan hunian dengan nilai investasi sebesar Rp150 miliar. Langkah ini diambil perseroan agar tetap unggul dalam kompetisi bisnis properti, khususnya di Jogja," paparnya.

Project Director apartemen Tana Babarsari PPRO Rudi Wahyu PW mengatakan proyek yang terinspirasi dari kota yang mencirikan kenyamanan, kemudahan, dan keramahan, Tana Babarsari dibangun dengan nuansa apartemen mahasiswa milenial premium yang nyaman, mudah dan ramah.

Terdiri dari tiga menara, PPRO akan mengembangkan sekitar 700 unit apartemen dengan dua pilihan tipe, yaitu tipe 1 bedroom dengan luas 21 m² dan 2 bedroom dengan luas 44,75 m².

"Harga yang kami tawarkan mulai dari Rp400 juta dengan empat tipe cara kemudahan pembayaran, seperti tunai keras, installment 24 kali, installment 36 kali, dan kredit pemilikan apartemen [KPA]," jelas Rudi.

Apartemen Tana Babarsari juga telah bekerja sama dengan kelompok usaha Kompas Gramedia yang nantinya akan menyediakan lebih dari 7.000 judul buku yang dapat didownload gratis oleh para penghuninya. "Kami pun sangat menyesuaikan dengan budaya Yogya, termasuk dari sisi bangunan akan ada konsep seperti batik menjadi khas Yogja," katanya.

Rudi mengklaim seluruh perizinan apartemen sudah selesai. Apartemen telah memiliki IMB tertanggal 17 Juli 2017. Izin itu didapatkan karena pihaknya mengakuisisi terhadap salah satu pengembang swasta yang sebelumnya sudah memiliki izin bangunan sejak lama.