Advertisement
Ekspor Tumbuh 13,96%, Biji Vanili Primadona Baru
Kabid Perdagangan Luar Negeri Disperindag DIY Yuna Pancawati (kanan) dan Seksi Fasilitasi Ekspor Impor Theresia Sumartini (kiri) ketika ditemui di Disperindag DIY, Jogja, Selasa (12/2) sore./Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Nilai komoditas ekspor dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami peningkatan sebesar 13,96%. Komoditas yang menonjol pada ekspor 2018 adalah biji vanili.
Kabid Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati mengatakan nilai ekspor pada 2018 sebesar US$338,02 juta [Rp4,7 triliun]. Sementara pada 2017, nilai ekspor DIY sebesar US$296,61 juta [Rp4,1 triliun].
Advertisement
"Artinya ada kenaikan nilai ekspor sebesar 13,96 persen. Kalau untuk volume ekspornya justru turun 9,85 persen dari 59,24 juta kg pada 2017. Itu karena mata dagangan yang dikirim bendanya lebih kecil tetapi nilainya lebih gede," ujar dia ketika ditemui di ruangannya di Disperindag DIY, Jogja, Selasa (12/2) sore.
Sementara itu, jenis komoditas yang diekspor juga bertambah dari 78 menjadi 88 jenis. Tak hanya itu, negara tujuan ekspor barang dari DIY juga berkembang dari 111 negara menjadi 115 negara. Tujuan utama negara ekspor masih didominasi oleh Amerika Serikat berdasarkan besaran nilai ekspor dan Jerman berdasarkan volume ekspor karena banyak minat terhadap mebel. Selain itu, Jepang juga termasuk negara utama ekspor DIY.
BACA JUGA
"Kemudian, jumlah eksportir kita bertambah dari 314 menjadi 360. Ada kenaikan 14,65 persen," ujar dia.
Ia menyebutkan komoditas utama ekspor adalah tekstil, mebel kayu, sarung tangan kulit, biji vanili, dan minyak atsiri. Dari lima besar komoditas ini, biji vanili mulai mendominasi pada 2018. "Pada 2017, biji vanili ini berada di bawah peringkat 20 besar, tetapi pada 2018 ini melejit. Itu karena memang ada permintaan yang tinggi utamanya dari Eropa dan Amerika Serikat. Buyer mulai melirik ke Indonesia dan salah satunya ke DIY," tutur dia.
Ia menjelaskan meskipun ada beberapa daerah di DIY penghasil vanili, biji vanili yang diekspor berasal dari luar DIY misalnya dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, proses pengeringan dilakukan di DIY. Alasan belum memakai produk dari DIY karena kualitas biji vanili masih kalah dari luar DIY.
"Tetapi, sekarang ada UKM [usaha kecil menengah] yang sedang mencoba untuk menghasilkan biji vanili yang kualitasnya tidak kalah. Tujuan jangka panjangnya untuk mengurangi ketergantungan dengan produk luar DIY," ujar dia.
Seksi Fasilitasi Ekspor Impor Theresia Sumartini mengungkapkan komoditas minyak atsiri juga terus mengalami perkembangan permintaan dan pasar. Permintaan tiap tahun terus meningkat dan pasar berkembang dari Eropa hingga Asia.
Rencana 2019
Pada 2019 ini Disperindag akan terus menggenjot volume ekspor dan semakin mengembangkan ekspor. Pasar nontradisional pun diharapkan bisa muncul. Pasar nontradisional yang dibidik seperti Timur Tengah. Pada akhir 2018, Kementerian Luar Negeri membawa banyak buyer dari Timur Tengah ke DIY dan melihat potensi yang dimiliki. Diharapkan dari kunjungan itu, kelak akan ada kerja sama ekspor yang disetujui.
"Komoditas yang kami sodorkan ya yang potensi kita yaitu mebel dan dengan melihat pasar mereka yang juga mebel serta home decor," ujar dia.
Sementara itu, untuk impor DIY masih menggantungkan impor dari Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok. Impor ini dilakukan bukan untuk barang konsumsi, tetapi bahan baku tekstil, bahan penolong seperti aksesori. "Terkadang buyer di luar negeri pinginnya barang dengan bahan baku impor. Jadi, bahan bakunya diimpor, barangnya dikerjakan di sini, kemudian diekspor," jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Pemerintah Tanggung PPh 21 Pekerja 5 Sektor Padat Karya 2026
- Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar, tapi Produksi Anjlok
- Penjualan Tiket KAI Tembus 4 Juta pada Arus Balik Nataru
- GIPI DIY: Nataru Ramai, Lama Tinggal Wisatawan Masih Jadi PR
Advertisement
Agenda Event, Pariwisata, Konser dan Olahraga, 7 Januari 2026
Advertisement
Jadi Primadona, Umbul Pelem Klaten Raup Omzet Miliaran Sepanjang 2025
Advertisement
Berita Populer
- Libur Nataru, Konsumsi Pertamax Naik 3,5 Persen
- BI Proyeksikan Ekonomi DIY 2026 Tumbuh hingga 5,7 Persen
- Harga Emas Hari Ini 7 Januari 2026, UBS dan Galeri24 Melonjak
- Rentenir dan Pinjol Ilegal Kini Bisa Dipidana, Ini Aturannya
- Ekonomi Vietnam Tumbuh 8,02 Persen pada 2025, Tertinggi 3 Tahun
- Konsumsi Dex Series di Jateng-DIY Naik 35,6 Persen Saat Nataru 2026
Advertisement
Advertisement



