Omah Jamu Sebagai Bentuk Kesetiaan Warga pada Warisan Leluhur

Omah Jamu Sebagai Bentuk Kesetiaan Warga pada Warisan LeluhurWagiyanti, Ketua Kelompok Jati Husada Mulya (JHM) menunjukkan produk jamu kemasan yang dihasilkan kelompoknya di Omah Jamu, di Dusun Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Kamis (28/3)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
30 Maret 2019 13:17 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Melestarikan warisan leluhur berjualan jamu sebagai jalan mencari rezeki sudah tertanam di sebagian besar warga Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul. Kesetiaan itu masih ada sampai sekarang. Bahkan, usaha para ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok pengelola jamu Jati Husada Mulya (JHM) ini semakin berkembang seiring semakin majunya pengelolaan jamu. 

Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit batang, dan buah. Di DIY ada sebuah daerah yang terdapat banyak penjual jamu gendong. Salah satunya di Dusun Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul.

Di tempat ini terdapat Omah Jamu yang menjadi sentra produksi jamu kemasan. Omah Jamu beserta perlengkapan di dalamnya merupakan program corporate social responsibility (CSR) dari Pertamina. Omah Jamu ini kemudian dikelola oleh kelompok JHM.

"Di sini sudah turun-temurun orang berjualan jamu gendong. Penerusnya enggak hanya penduduk asli sini. Kadang ada menantu atau saudara," ujar Wagiyanti, Ketua Jati Husada Mulya kepada Harian Jogja ketika ditemui di Omah Jamu, Kamis (28/3) petang.

Ia menceritakan sebelum memiliki Omah Jamu, produksi jamu dilakukan di rumah milik Wagiyanti. Lantaran keterbatasan alat, produksi pun tidak bisa dilakukan dengan maksimal.

Pengemasan jamu ini dimulai 2012 setelah ada pendampingan dari CSR Pertamina. Pembuatan jamu kemasan dilakukan setelah kelompok ini mendapatkan sertifikat halal dari MUI dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Kelompok ini berharap dengan kemasan yang menarik, para konsumen semakin tertarik. Selain itu, Koperasi Jati Husada Mulya Mandiri akhirnya berbadan hukum.

"Namun, masalah kami tidak ada rumah untuk memproduksi jamu. Kemudian 2014, dari CSR Pertamina koordinasi dengan desa untuk dapat tanah kas desa. Akhirnya dapat lokasi di sini," kata wanita yang biasa menjajakan jamu di daerah Kasihan, Bantul.

Dengan adanya Omah Jamu, produksi jamu pun bisa lebih meningkat apalagi disediakan ruangan khusus produksi, pengemasan yang dilengkapi mesin sealer hingga show room. Dengan jamu kemasan yang beragam, pendapatan para anggota kelompok mengalami peningkatan. Dahulu kala, tiap orang mampu menghasilkan Rp50.000 per hari. Saat ini, karena mereka juga jualan jamu kemasan, pendapatan bisa mencapai Rp150.000 per hari, bahkan lebih tinggi lagi ketika barang dagangannya lebih banyak. Para anggota kulakan jamu kemasan di Omah Jamu tentu dengan harga khusus. Hal ini dilakukan agar usaha penjual jamu dan juga perputaran uang Omah Jamu tetap lancar. Bahkan, kelompok ini rutin menggelar pertemuan sepekan sekali untuk membahas perkembangan bisnis, evaluasi, dan perencanaan ke depan.

Jamu kemasan yang disediakan juga beragam di antaranya kunir putih, jahe wangi, secang, temulawak, jahe merah, kencur sunthi, dan kunir putih ombyok. Harganya pun beragam untuk setiap kemasan mulai dari Rp20.000 hingga Rp25.000. Produksi pun dilakukan ketika stok di Omah Jamu menipis dan dilakukan dengan bergiliran dalam tim yang sudah dibagi.

Namun, mereka juga tetap setia dengan jamu cair. Ada beberapa jamu cair yang dijual yakni beras kencur, kunir asem, kencur jahe, kencur sunthi, temulawak, rebusan daun sirih, jamu godok hingga uyup-uyup.

Tak hanya menerima pembelian di tempat, Omah Jamu juga kerap menerima kunjungan dari rombongan wisatawan, pendidikan. Banyak orang-orang yang ingin belajar. Terkadang, Wagiyanti juga harus mengisi kuliah umum di universitas untuk berbagi ilmu seputar jamu. 

Media Sosial

Salah satu anggota kelompok JHM Suratiem juga sudah 14 tahun berjualan jamu. Ia juga tidak mengetahui asal mula daerahnya banyak penjual jamu. Yang ia ketahui hal itu dilakukan secara turun-temurun. "Saya masih jualan keliling naik motor. Saya berangkat setelah semua urusan di rumah beres," kata dia.

Suratiem memang masih berjualan jamu cair, tetapi sembari berkeliling ia juga membawa jamu kemasan. Peminatnya pun banyak dan penghasilannya juga bisa meningkat. Jika dahulu sebelum berjualan jamu kemasan, ia rata-rata mengumpulkan Rp50.000 per hari, kini ia bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp400.000 per hari ketika bawaannya banyak.

"Alhamdulillah sekarang kalau ada perlu biaya ini itu cukup. Bisa untuk menyekolahkan anak juga," kata dia.

Para ibu-ibu rumah tangga ini juga mulai merambah bisnis secara daring melalui media sosial Instagram dan Facebook. Namun, penjualan melalui online memang belum maksimal. "Kalau online, masih disambi-sambi karena juga masih fokus ngurus anak. Inginnya sih bisa dikembangkan lagi," kata Tatik, salah satu anggota JHM.