Desa Wisata Perlu Kader Wisata Melek Teknologi

Desa Wisata Perlu Kader Wisata Melek TeknologiWisatawan berswafoto di Bukit Mojo, Gumelem, Mangunan, Bantul./ Ist. - FIKOMM UMBY
17 Mei 2019 22:22 WIB Mediani Dyah Natalia Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—DIY memiliki banyak desa wisata berbasis wisata alam yang potensial untuk dikembangkan. Sayangnya, kesadaran pengembangan wisata saat ini masih dipahami sebatas penambahan fasilitas fisik.

Dosen ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Yogyakarta (FIKOMM UMBY), Rani Dwi Lestari menuturkan pengembangan potensi wisata seharusnya dapat dilakukan dengan konsep terintegrasi antara fasilitas fisik dan pengelolaan manajemen pariwisata.

"Dalam manajemen pariwisata, ada banyak hal yang perlu dikembangkan, di antaranya upgrading sumber daya manusia pengelola wisata untuk bisa menjadi kader wisata yang tak hanya mampu mengelola potensi wisata secara konvensional tetapi harus berbasis teknologi," kata dia dalam rilis, Rabu (15/5).

Menurutnya, pembentukan kader desa wisata menjadi hal yang penting dilakukan mengingat saat ini pengelolaan wisata khususnya desa wisata berbasis wisata alam masih dilakukan secara swadaya sehingga kesadaran untuk pengembangan wisata hanya dilakukan seadanya karena pengelola menganggapnya hanya sebagai pekerjaan sampingan.

Kondisi ini, menurut Rani, justru dapat menjadi boomerang di masa mendatang karena pengelolaan wisata menjadi tidak terarah dan akhirnya terbengkalai. "Karenanya kami berinisiatif untuk memberikan pengetahuan mengenai pengembangan desa wisata dengan konsep manajemen pariwisata berbasis Integrated Marketing Communication (IMC) dengan membentuk kader desa wisata," katanya.

Rani menjelaskan problem pengelolaan wisata di Bukit Mojo dan beberapa spot wisata alam di sekitarnya adalah tidak adanya kader sadar wisata yang melek teknologi. Hal ini menjadikan proses promosi wisata terhambat karena hanya dilakukan secara manual. Di sisi lain, wisatawan saat ini banyak memanfaatkan teknologi seperti web dan media sosial sebagai referensi mencari tempat wisata. "Pembentukan kader sadar wisata yang melek teknologi menjadi hal krusial yang harus dilakukan untuk menunjang promosi wisata yang lebih interaktif dan masif," paparnya.

 

Pariwisata Berkelanjutan

Kondisi ketimpangan teknologi tersebut juga dibenarkan oleh Ketua Pengelola Desa Wisata Bukit Mojo, John Maulana. Menurutnya, Bukit Mojo yang mengunggulkan spot swafoto wisata alam dalam beberapa waktu belakangan mengalami penurunan kunjungan wisatawan karena minimnya promosi.

"Promosi kami memang kurang gencar dilakukan karena kami tidak tahu cara memanfaatkan teknologi. Bagaimana caranya agar orang tahu bahwa kami sudah nambah fasilitas atau ada hal baru di Mojo, itu kami bingung mau dikeluarkan dimana," ungkapnya.

John berharap dengan adanya pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh FIKOMM UMBY, akan meningkatkan pengelolaan wisata khususnya promosi berbasis teknologi dan menjadikan kader wisata sebagai penopang manajemen pariwisata berkelanjutan. "Sehingga pengembangan wisata kami tidak monoton dan lebih terarah," tandasnya.

Pembentukan kader dan transfer ilmu manajemen pariwisata berbasis IMC dilakukan melalui rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen FIKOMM UMBY berkolaborasi dengan dosen di bidang keilmuan lain khususnya Teknologi Informasi. Lokasi yang dipilih adalah Desa Wisata Bukit Mojo, Gumelem, Mangunan, Bantul.

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut nantinya akan diberikan arahan materi dari pakar komunikasi pemasaran terpadu, pelatihan penggunaan teknologi informasi berbasis web dan media sosial, pengembangan potensi kekhasan wisata serta manajemen promosi dan pengelolaan wisata berbasis teknologi multimedia.