Data Jadi Kunci Pencegahan Oversupply Ayam

Data Jadi Kunci Pencegahan Oversupply AyamKepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan Jully Paruhum Tambunan (depan tengah), Ketua Apayo Hari Wibowo (depan paling kiri), dan Kepada Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY Yanto Apriyanto (depan dua kiri) dalam FGD Dinamika Harga Ayam dan Telur di Tingkat Peternak dan Konsumen di Hotel Santika Premiere Yogyakarta, Jogja, Kamis (18/7)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
19 Juli 2019 13:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Validnya data jumlah peternakan, kapasitas peternakan hingga produksi ayam di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi kunci untuk mencegah terjadinya oversupply ayam di pasaran. Hal itu menjadi salah satu masukan yang dihasilkan dalam Focus Group Discussion (FGD) Dinamika Harga Ayam dan Telur di Tingkat Peternak dan Konsumen di Hotel Santika Premiere Yogyakarta, Jogja, Kamis (18/7). 

Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo mengungkapkan selama ini belum ada data yang valid mengenai kondisi peternakan di DIY. Menurutnya, kelebihan suplai bisa dicegah jika ada kejelasan data baik dari pemasaran maupun produksi. Data akan menjadi pegangan pemerintah, peternak, dan pihak terkait untuk memetakan pasar yang ada di suatu daerah. Peternak pun akan lebih mudah memprediksi seberapa besar pasar daerah yang dituju sehingga mereka bisa mengira-ngira seberapa besar produksi yang akan dilakukan. Hal ini dinilai lebih efektif daripada memproduksi tetapi tidak memiliki gambaran seberapa beras konsumennya. "Misalnya soal kapasitas kandang di DIY, kami itu enggak tahu karena dari pemerintah juga tidak ada data. Berapa populasi hari ini pun kita enggak tahu," ujar dia di Hotel Santika Premiere Yogyakarta, Jogja, Kamis (18/7).

Melalui forum tersebut, Apayo mengusulkan adanya pendataan dari pemerintah agar tahu potensi produksi ayam di DIY. Pemerintah juga diminta tidak segan untuk jemput bola ke lapangan untuk mendata peternakan ayam yang ada di DIY. "Disperindag [Dinas Perindustrian dan Perdagangan] juga harus tahu konsumsi per kapita sehingga akan tahu harusnya produksi ayam itu berapa. Kalau ada data, peternak bisa memprediksi kondisi pasar. Bisa estimasi kebutuhan pasar sehingga bisa tahu harus menambah produksi atau mengurangi produksi. Pendatang [peternak yang akan masuk] juga jadi tahu potensi di DIY," papar dia.

Apayo juga menyoroti soal regulasi mengenai peternakan ayam. Selama ini aturan masih fokus ada pemotongan DOC atau cutting. Menurutnya, kebijakan tersebut masih belum efektif. Oleh karena itu diperlukan regulasi yang lebih efektif agar tidak terjadi oversuplay.

 

Regulasi Diperkuat

Kepada Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY Yanto Apriyanto mengungkapkan dalam FGD tersebut banyak masukan yang bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah. Salah satunya adanya regulasi baik dari pemerintah daerah maupun Pemerintah Pusat. "Ada pula masukan agar regulasi diperkuat. Menurut asosiasi, regulasi untuk peternakan masih kurang. Misalnya kalau ada pengurangan DOC dasar hukumnya apa," kata dia.

Yanto mengungkapkan asosiasi juga mengusulkan adanya pendataan baik dari peternak mandiri, usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), maupun peternak besar. Pihaknya pun menyabut baik usulan tersebut. Menurutnya, pendataan yang lengkap bisa membantu untuk mengatur atau menekan produksi sehingga tidak terjadi kelebihan suplai ayam di pasaran. Hal ini akan lebih menguntungkan peternak dan tidak merugikan konsumen.

Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan Jully Paruhum Tambunan mengungkapkan perlu dilakukan upaya dari tim terpadu dan satuan tugas untuk mengendalikan suplai ayam di pasaran sehingga bisa menjaga keseimbangan harga ayam baik di tingkat produsen maupun konsumen. Menurutnya, hukum demand dan suplay harus ada sehingga tidak terjadi fluktuasi harga yang tidak rasional. Ia berkomitmen ingin membawa pasar ayam ke harga yang rasional.

"Keberlangsungan peternak ayam di Indonesia sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Diharapkan juga bisa ekspor. Saat ini konsumsi daging ayam di Indonesia masih tergolong kecil karena hanya rata-rata lima kilogram (kg) per orang per tahun. Jika dibandingkan dengan Malaysia sangat kecil karena Malaysia mencapai 50 kg per orang per tahun," kata dia.