Natagreen Kembangkan Masker Herbal dari Nata de Coco

Natagreen Kembangkan Masker Herbal dari Nata de CocoIntan Mutia Swastika - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
24 Agustus 2019 11:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berawal dari bisnis nata de coco, Intan Mutia Swastika memanfaatkan nilai guna nata de coco menjadi perlengkapan kecantikan, khususnya masker sebagai pilot project.   

Sejak 2003 menyelami bisnis nata de coco, Intan mengaku perjalanannya membangun merek menemui sejumlah tantangan. Namun dengan ketelatenan dan kepekaan membaca situasi maupun tren, ruang usahanya berkembang pesat dari waktu ke waktu. Pada satu titik, Intan pun mulai berpikir untuk mengembangkan usahanya pada bentuk usaha lain, yaitu masker dari nata de Coco dengan mengusung nama produk Natagreen.

Pemilihan usaha produk kecantikan bukan tanpa alasan. Intan melihat peluang besar pada bisnis ini. Baik di DIY maupun secara nasional. “Kosmetik besar sekali peluangnya. Saya jadi wanita pasti penginnya tampil cantik. Wanita mana yang tidak mau tampil cantik. Istilahnya wanita milih enggak makan untuk berdandan,” ucap Intan, Jumat (23/8).

Produk masker yang ia perkenalkan mulai pada akhir 2018 melewati proses riset yang cukup panjang. Diungkapkannya itu semua untuk menjamin kualitas produk masker itu. Produk masker Natagreen juga memiliki pembeda dan keunggulan tersendiri.

“Aman semua jenis kulit apapun, dipakai jenis kelamin, usia berapapun dan keunggulannya ini herbal. Secara ekonomis dia lebih hemat karena bisa dipakai tiga kali,” katanya.

Target pasar yang coba digaet Natagreen secara umum. Namun Intan tetap melihat, biasanya pembeli di usia 20-40 tahun atau masa mulai memperhatikan penampilan dan sudah mulai produktif bekerja.

Produk yang dapat dibeli melalui online melalui media sosial atau marketplace dan offline dengan harga Rp37.500 itu telah merambah pasaran tidak hanya di DIY, tetapi juga telah sampai keluar daerah.

Intan mengungkapkan dalam penjualan juga menggunakan sistem jaringan. Dia menyarankan pemakai menjadi agen. “Prinsip kami bekerja bukan mencarikan orang lain, kita bekerja untuk diri kita sendiri dan untuk orang di bawah kita. MLM (multi level marketing) kan lebih cenderung ke atasnya,” ujar perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Magister Manajemen UGM itu.

Selain produk masker yang menjadi pilot project untuk produk kecantikan yang sudah dikembangkan oleh Intan, ada juga sabun dan beauty lotion. Intan tidak ingin berhenti pada produk yang telah dikeluarkan saat ini. Ke depan dengan Natagreen, Intan akan lebih mengembangkan produk kosmetik yang sifatnya perawatan dan dekoratif. Diharapkannya juga dapat semakin menjadi pilihan masyarakat.

“Pada prinsipnya kalau saya mengembangkan produk itu, ketika saya enggak bisa saya harus bisa. Kalau saya ingin bisa saya harus belajar, berarti kalau saya pengin tahu, saya harus mencari tahu,” ujarnya.