Jangan Lirik Pinjol untuk Berobat! Kenali Segitiga Proteksi

Jangan Lirik Pinjol untuk Berobat! Kenali Segitiga ProteksiIlustrasi - thisisaustralia.com
28 September 2021 12:17 WIB Aziz Rahardyan Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dalam piramida perencanaan keuangan, produk asuransi sebagai salah satu langkah manajemen risiko memiliki segitiga proteks. Saat sakit, misalnya, bisa mengeluarkan banyak uang dan berdampak pada pinjaman online (pinjol) jika tidak memiliki asuransi.

Rizqi Syam, Financial Planner PT Solusi Finansialku Indonesia (Finansialku.com) menjelaskan bahwa pada umumnya piramida perencanaan keuangan yang paling awal, yaitu pengelolaan cash flow di layer pertama, kemudian ketersediaan dana darurat, proteksi ada di layer ketiga, baru investasi, dana pensiun, dan terakhir distribusi warisan.

"Beberapa klien saya lihat sering melewatkan layer ketiga, menganggap remeh proteksi atau transfer risiko, langsung lari ke investasi. Padahal setelah terjadi sesuatu dan biaya rumah sakit membengkak, sebanyak apapun dana darurat dan investasi kita bisa habis nanti," ujarnya dalam diskusi virtual bersama PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life), dikutip Senin (27/9/2021).

Segitiga proteksi sendiri terdiri dari proteksi sakit dari asuransi kesehatan, proteksi penyakit kritis, dan tentunya asuransi jiwa.

Rizqi mengungkap, bahwa asuransi kesehatan menjadi yang paling urgen karena risikonya yang paling dekat, apalagi di era new normal ini. Oleh sebab itu, asuransi kesehatan penting buat yang baru mulai bekerja.

Pasalnya, Rizqi sempat menemui klien Finansialku yang bertanya dan 'curhat' karena frustasi terjerat pinjaman online (pinjol) untuk menutupi biaya kesehatan ayahnya.

"Asuransi kesehatan penting, karena bagaimana pun kalau sakit, kita mau yang terbaik berapa pun harganya. Apa masih memikirkan aset sedang naik atau turun, dan bagaimana menjualnya? Pasti tidak. Akhirnya ada juga yang tergoda melirik pinjaman yang paling mudah, pinjol ilegal salah satunya. Maka, proteksi ini penting buat kenyamanan," jelasnya.

Menurutnya, minimal memiliki BPJS Kesehatan terkait hal ini. Namun, kalau sudah bekerja dan lebih mapan, baiknya melengkapinya dengan asuransi yang milik pribadi sesuai kebutuhan sedini mungkin.

"Kedua, asuransi untuk critical illness untuk memproteksi kualitas hidup kita. Karena dari hasil penelitian menunjukkan 85 persen masyarakat Indonesia mengalami kebangkrutan ketika mengalami penyakit kritis," tambahnya.

Ketiga, yaitu asuransi jiwa yang memberikan perlindungan risiko finansial terutama untuk keluarga. Oleh sebab itu, bagi pria yang sudah memiliki tanggungan dan memiliki dana darurat cukup, proteksi jiwa bisa menjadi prioritas.

Turut hadir, Khumaira selaku Corporate Business Executive IFG Life sepakat bahwa kehidupan memiliki beragam risiko tidak terduga, bahkan dari usia muda sekalipun.

Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh mengabaikan risiko dan harus rasional untuk memproteksi diri dengan asuransi. Menurutnya, cara yang paling simple untuk mengantisipasi rsiko adalah dengan memulai membeli asuransi sedini mungkin agar risiko dapat teralihkan.