PSEL Mundur ke 2028, Jogja Andalkan Gerakan Mas JOS Tekan Sampah
Pengelolaan sampah Jogja diklaim terkendali meski proyek PSEL mundur ke 2028. Produksi 300 ton per hari ditekan lewat Gerakan Mas JOS.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi./IST
Harianjogja.com, JOGJA— Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY menyebut deflasi di DIY yang sudah terjadi tiga kali tahun ini menandakan terjadinya kelesuan daya beli masyarakat.
Ketua Komtap Pembinaan dan Pengembangan Sekretariat Kadin DIY, Timotius Apriyanto mengatakan saat ini perekonomian global penuh ketidakpastian.
Ia menyebut ekonomi nasional juga sedang tidak baik-baik saja berdasarkan beberapa indikator makro. Menurutnya salah satu dampak langsung yang dirasakan industri adalah terkait dengan kepercayaan pasar. "Deflasi ini indikator kelesuan," ujarnya, Jumat (5/7/2024).
BACA JUGA: Cara Membeli Tiket Kereta Bandara Jogja, Pilih yang Rp20.000 atau Rp50.000
Timotius menggambarkan inflasi bulanan itu ibarat tensi darah tidak baik jika capaiannya terlalu tinggi dan terlalu rendah. Oleh karena itu perlu dijaga agar tetap stabil oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY.
Lebih lanjut dia mengatakan, penurunan daya beli masyarakat ini berdampak pada konsumsi, yang mana menjadi salah satu faktor perhitungan pertumbuhan ekonomi. Selain faktor belanja masyarakat, investasi, dan kinerja ekspor.
Menurutnya pertumbuhan ekonomi nasional banyak didukung oleh belanja pemerintah, baik untuk Pemilu dan program lainnya. Serta belanja pegawai di berbagai kesempatan.
"TPID DIY mestinya berperan, saya kira deflasiya perlu dilihat detailnya dulu," jelasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat sepanjang 2024 DIY sudah mengalami deflasi tiga kali. Pada Januari 2024 terjadi deflasi 0,02%, kemudian berturut-turut Mei dan Juni 2024 masing-masing 0,08% dan 0,25%.
BACA JUGA: Jadwal Kereta Bandara Jogja Hari Ini, Jangan Salah Pilih
Kaprodi S3 Ilmu Ekonomi FEB Universitas Gadjah Mada (UGM), Catur Sugiyanto mengatakan kemungkinan ada dua sebab dari deflasi ini. Berkaitan dengan kredit yang menurun dua bulan terakhir khususnya kredit non usaha dan pembelian dolar AS.
"Namun saya belum mencermati dengan teliti data-data ini."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengelolaan sampah Jogja diklaim terkendali meski proyek PSEL mundur ke 2028. Produksi 300 ton per hari ditekan lewat Gerakan Mas JOS.
Talud Sungai Gajah Wong di Bantul ambrol dan mendekati jembatan. DPRD DIY mendesak penanganan darurat sebelum musim hujan tiba.
Barantin membentuk satgas 24 jam untuk mengawasi hewan kurban jelang Idul Adha 2026 dan memastikan lalu lintas ternak aman.
Polres Ponorogo menggeledah ponpes di Jambon usai pimpinan pesantren jadi tersangka pencabulan santri. Polisi sita sejumlah barang bukti.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.