Hati-hati, Tukar Uang Ilegal Berisiko Terima Upal

Hati-hati, Tukar Uang Ilegal Berisiko Terima UpalIlustrasi rupiah - Reuters
11 Juni 2018 06:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bank Indonesia terus mengimbau masyarakat untuk menukarkan uang di tempat-tempat resmi seperti perbankan umum. Mendekati Lebaran, penyerapan uang baru dialokasikan sebanyak Rp5,5 triliun. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY Budi Hanoto mengatakan dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, Bank Indonesia menggencarkan imbauan agar masyarakat menukarkan uang di tempat yang resmi. Hal itu menyusul semakin maraknya praktik penukaran uang ilegal yang bermunculan menjelang Lebaran. 

“Selama dua tahun ini, kami menggunakan channel bank supaya dapat menjangkau layanan penukaran uang yang dibutuhkan masyarakat, menyeluruh hingga ke daerah pelosok,” ujar Budi, pekan lalu. 

Penukaran uang secara ilegal, kata Budi, memiliki berbagai risiko yang akan merugikan masyarakat. Pasalnya, penukaran uang tidak resmi rawan praktik peredaran uang palsu. Selain itu, risiko salah hitung juga akan berpotensi terjadi. 

Tak hanya menjalin kerja sama dengan sejumlah perbankan. Layanan penukaran uang juga dilakukan secara jemput bola dengan mendatangi masyarakat di pusat-pusat keramaian, hingga instansi pemerintahan. 

“Kami bekerja sama dengan 60 bank, dan ada 98 titik yang dituju. Kami membuka joint kas keliling yang kurang lebih diikuti 10 bank. Kami mengatur jadwal lokasi juga,” ujar Budi. 

Budi menambahkan penukaran uang baru, terutama untuk pecahan kecil sangat dibutuhkan masyarakat. Misalnya untuk pecahan Rp2.000 yang permintaannya cukup tinggi. Hal itu disebabkan kebutuhan uang pecahan kecil ini di tingkat masyarakat diperlukan sebagai uang kembalian, uang parkir hingga sebagai angpau untuk anak-anak. 

Sementara itu, terkait stok uang baru yang dipersiapkan KPw BI DIY untuk periode Ramadan dan Lebaran mencapai Rp7,9 triliun. Budi memaparkan menjelang Lebaran, kebutuhan uang baru ini mencapai Rp5,5 triliun. 

“Per kemarin [Rabu] dari Rp5,5 triliun itu sudah terserap sebanyak Rp3,8 triliun. Kami perkirakan pada akhir pekan sisanya akan terserap dengan cepat,” kata Budi. 

Sejalan dengan semakin padatnya Jogja yang mulai didatangi para pemudik, maka mobilitas di kota ini sudah mulai padat. Budi juga mengimbau kepada perbankan untuk dapat segera memenuhi dan terus memastikan keterisian masing-masing ATM. 

“Jogja sudah mulai macet, jangan sampai masyarakat yang membutuhkan uang tunai di ATM sampai di satu ATM tidak ada isinya. Lalu mesti mencari ATM lain yang mana mereka harus menembus lalu lintas yang sedang padat dan macet. Untuk itu, kami imbau bank segera memenuhi dan memastikan ATM mereka selalu tersedia uang,” kata Budi.