Perbarindo Mulai Lakukan Polling Fund dari 53 BPR di DIY

Perbarindo Mulai Lakukan Polling Fund dari 53 BPR di DIYIlustrasi kerja sama. - Bisnis.com
11 Juni 2018 07:30 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Seusai menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan Bank Jateng sebagai Apex BPR, kini Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIY mengumpulkan dana (polling of fund). Hal ini merupakan salah satu peran lembaga Apex yaitu mengumpulkan dana, pemberian bantuan keuangan (financial assistant), dan dukungan teknis (technical support). 

Ketua DPD Perbarindo DIY Ascar Setiyono mengatakan setelah Bank Jateng resmi menjadi Apex BPR sejak 24 Mei lalu, beberapa langkah strategis telah disiapkan Perbarindo. Salah satu yang sudah dilakukan adalah mengumpulkan dana. Setelah tahapan polling fund dari 53 BPR konvesional yang ada di wilayah DIY ini selesai, dana tersebut akan diserahkan dan disimpan di Bank Jateng sebagai Apex BPR. Setelah itu, Bank Jateng akan menambahkan dana dua kali lipat dari total dana yang disetorkan oleh BPR. 

“Artinya jika BPR berhasil mengumpulkan dana Rp20 miliar, Bank Jateng akan memberi Rp40 miliar. Sehingga total dana yang dipegang oleh Apex Bank mencapai Rp60 miliar,” katanya kepada Harian Jogja, Minggu (10/6). 

Saat ditanya mengenai pemanfaatan dana, Ascar menjelaskan uang itu akan digunakan untuk dua urusan pokok, yakni membantu likuiditas BPR dan juga mengucurkan kredit kepada masyarakat khususnya untuk modal kerja jangka pendek. Penjaminan likuiditas BPR dianggap penting karena hal tersebut berkaitan dengan kemampuan BPR memenuhi kewajiban jangka pendek. Misalnya menjalankan transaksi bisnisnya sehari-hari, mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, dan memenuhi permintaan nasabah akan pinjaman. 

Sebagaimana diketahui, sebagian besar dana yang dikelola BPR bersumber dari dana pihak ketiga atau masyarakat. Simpanan tersebut harus dibayar jatuh tempo dan sebagian harus segera dibayar pada saat ditagih. Masalahnya adalah bagaimana bank dapat memenuhi kebutuhan penarikan dana oleh nasabah pada saat simpanannya jatuh tempo atau pada saat diminta. Sementara pada waktu yang sama bank harus pula menggunakan dana tersebut dengan mengalokasikannya ke dalam berbagai bentuk invesasi untuk memperoleh laba guna membayar biaya-biaya dana tersebut dan biaya operasional lainnya. ”Maka yang paling utama memang kami gunakan untuk membantu likuiditas BPR. Kalau tidak banyak BPR yang menggunakan [dana tersebut], barulah dipakai untuk modal kerja jangka pendek,” katanya. 

Ascar menambahkan PKS dengan Apex Bank ini, merupakan langkah strategis yang tidak hanya berlaku untuk saat ini saja tetapi juga hingga waktu-waktu ke depan. Ascar berharap kedua belah pihak saling bahu membahu mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki masing-masing agar bisa melengkapi satu sama lain. Bank Jateng dengan potensi sumber dana yang relatif lebih besar dan dukungan teknologi yang memadai diharapkan dapat bersinergi dengan BPR yang memiliki sebaran jaringan kantor yang lebih luas hingga ke pelosok daerah. Sehingga BPR bisa menjadi saluran Bank Jateng untuk menyalurkan kredit hingga wilayah-wilayah yang terpencil sekalipun.

Sebelumnya, Direktur Operasional dan Digital Banking Bank Jateng Rahadi Widayanto mengatakan kerja sama ini merupakan salah satu komitmen Bank Jateng untuk memajukan perekonomian di Jogja. Apalagi ia menyebut Bank Jateng juga sudah membuka cabangnya di kota ini. Rahadi berharap melalui kerja sama ini dapat menciptakan sinergi yang baik antar Bank Jateng dengan seluruh BPR di Jogja. Sehingga tidak ada saling tumpang tindih antara pihak satu dengan lainnya. "Tujuan kami sama, membangun daerah. Dengan kerja sama ini kami akan berusaha bersama-sama membangun daerah, bukan malah menjadi pesaing," ucapnya. 

Rahadi menyebut kerja sama ini akan difokuskan kepada beberapa hal utama, salah satunya untuk membangun dan memajukan UMKM. Sebab ia tak menampik UMKM merupakan salah satu lini yang berkontribusi besar untuk memutar roda perekonomian daerah. 

Ad Tokopedia