Harga Gabah Tinggi, Harga Jual Beras Medium Sesuai HET Susah

Harga Gabah Tinggi, Harga Jual Beras Medium Sesuai HET SusahIlustrasi pedagang beras - JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
12 Juni 2018 06:30 WIB Rayful Mudassir Ekbis Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga jual gabah yang mencapai Rp4.500/kg membuat Perum Bulog (Persero) bakal kesulitan menjual beras komersial kualitas medium di bawah harga eceran tertinggi (HET). 

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan kondisi harga gabah di pasar yang berkisar antara Rp4.500/kg –Rp5.000/kg membuat harga jual beras komersial Bulog akan berada di atas HET.

"Kalau melihat harga gabah kering panen [GKP] rata-rata nasional, sulit menjual [beras komersial Bulog] sesuai HET dengan pembelian harga gabah sesuai harga pasar berlaku," uajrnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) belum lama ini. 

Penyerapan beras komersial sejatinya dilakukan Bulog agar dapat meraup untung lebih saat menjual ke konsumen. Hal ini hanya bisa dilakukan setelah perusahaan pelat merah tersebut memiliki stok cadangan beras pemerintah (CBP) mendekati batas aman 1,5 juta ton. 

Secara hitung-hitungan, menurut Dwi, jika Bulog mendapatkan beras komersial dengan harga gabah sesuai harga pasar, maka usai diproduksi, harga beras akan sekitar Rp9.000/kg. 

Kemudian, untuk dijual hingga ke tangan konsumen, setidaknya Bulog akan melalui sejumlah tahapan distribusi. Jika biaya distribusi hingga ongkos lainnya adalah sekitar Rp1.500/kg, setidaknya harga akhir beras komersial Bulog adalah Rp10.500/kg alias masih di atas HET beras medium senilai Rp9.450/kg. 

Menurut Dwi, untuk mendapatkan harga gabah yang cenderung lebih murah dibandingkan dengan harga pasar, Bulog disarankan sigap melihat kondisi panen di daerah, terlebih di wilayah-wilayah dengan harga gabah di bawah rata-rata nasional. 

Dia lebih menyarankan agar Bulog menyerap beras komersial dari kualitas premium. Pasalnya, kualitas tersebut memiliki margin keuntungan yang lebih baik dibandingkan harus memaksakan untuk menjual beras komersial kualitas medium. 

Dari tingkat penggilingan kecil, instansi stabilitator pangan ini dapat menyerap beras pecah kulit untuk kemudian diolah menjadi beras premium. Langkah itu akan membuat keuntungan Bulog menjadi lebih baik. 

"Akan sulit sekali mencapai HET jika [beras komersial yang diserap Bulog adalah kualitas] medium. Kalau premium masih memungkinkan," katanya. 

Sementata itu, Direktur Pengadaan Perum Bulog Adrianto Wahyu Adi mengatakan, beras komersial yang akan diserap nantinya adalah berupa beras medium dan premium. Hanya saja beras premium akan mendominasi serapan beras komersial. Pasalnya, kualitas medium sudah terkumpul cukup banyak dan telah menjadi stok di Bulog. 

"Beras komersial ada [berupa] beras medium, sebagian besar premiun," katanya. 

Untuk beras medium, Bulog masih mengandalkan cadangan beras pemerintah (CBP) dari serapan dalam negeri. Setelah itu, Bulog akan membeli beras seharga fleksibilitas Rp8.030/kg, sehingga masih bisa dijual sesuai ketentuan pemerintah. 

Andrianto mengilustrasikan, pengadaan beras dalam negeri sepanjang awal tahun ini sudah mencapai 900.000 ton hingga Juni 2018. Angka itu terbagi atas 750.000 ton beras medium, dan 150.000 ton premium. 

Pada semester II/2018, Bulog akan lebih berkonsentrasi pada pengadaan beras premium melalui penyerapan beras untuk segmen komersial. Namun, tidak disebutkan berapa jumlah serapan beras komersil yang ditargetkan. 

"Kami sudah ada stok pembelian dari beberapa bulan terakhir waktu pasokan lebih banyak, sehingga masih ada margin untuk premium," katanya.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

Ad Tokopedia