Jelang Akhir Tahun, Pemerintah Waspadai Musim

Jelang Akhir Tahun, Pemerintah Waspadai Musim Bupati Bantul Suharsono bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY saat meninjau harga bahan pokok di Pasar Bantul, Jumat (11/5/2018). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
02 November 2018 05:29 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jelang akhir tahun, Pemerintah Daerah DIY mewaspadai musim hujan yang tak kunjung tiba. Pasalnya musim kemarau yang panjang akan berpengaruh pada masa tanam komoditas pokok tertentu dan bisa menimbulkan lonjakan harga.

Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY, Arofa Noor Indriani mengaku tengah mewaspadai musim kemarau yang panjang hingga November. Hujan yang tak kunjung turun menurutnya akan berpengaruh pada masa tanam padi yang mundur. Sebab, tanaman padi butuh air yang mencukupi. Jika musim tanam padi mundur, bisa dipastikan musim panen pun mundur sehingga bisa terjadi kelangkaan komoditas pada suatu waktu.

"Kita memang harus waspada pada musim hujan yang belum juga turun ini. Prediksinya pertengahan November ini kan bakal turun. Tapi kita tidak bida melakukan apa-apa juga karena tidak bisa melawan musim," katanya kepada Harian Jogja, Rabu (31/10).

Selain padi, Arofa juga mengaku mewaspadai harga komoditas palawija lainnya seperti cabai dan bawang merah yang membutuhkan cukup air. Namun ada pula beberapa komoditas yang tersedia baik saat musim kemarau. Salah satunya telur dan daging ayam. Jika diperhatikan kini beberapa harga kebutuhan pokok seperti telur dan daging ayam mengalami penurunan meski sedikit. Arofa menyebut hal itu dikarenakan stok di tingkat produsen yang berlimpah sehingga berpengaruh pada harga di tingkat konsumen.

Di sisi lain, pihaknya juga waspada akan penurunan harga akibat surplus ini. Pasalnya jika terus terjadi, bisa jadi produsen akan mengalami kerugian karena nilai jual komoditasnya yang terlalu rendah. "Ada banyak yang harus diwaspadai terkait musim ini namun jika menurut data kami komoditas pokok terutama beras masih mencukupi hingga dua-tiga bulan ke depan," ujarnya.

Sementara untuk persiapan 2019, Arofa mengaku belum menghitung secara rigid. Sebab ada acuan yang berbeda dari Badan Pusat Statistik (BPS) tiap tahun untuk memprediksi kebutuhan masyarakat. Sementara ini, komoditas pokok yang ada diperkirakan mencukupi hingga akhir tahun sehingga dapat mengantisipasi kelangkaan bahan pokok yang biasanya terjadi pada hari-hari besar di akhir dan awal tahun.

Hal senada diungkapkan Kepala Bulog Divre DIY, Ahmad Kholisun. Menurutnya hingga saat ini, stok bahan pokok di wilayah DIY masih aman. Ada sekitar 12.400 ton beras, 2400 ton gula, 23.500 liter minyak goreng, dan 300 ton daging sapi. Khusus untuk beras, Kholisun menyebut jumlah itu akan cukup hingga Maret 2019 mendatang. Pasalnya stok beras hanya akan dipakai untuk operasi pasar saja, tidak ada mekanisme penyaluran raskin seperti program yang diterapkan sebelumnya. "Untuk stok daging yang sudah menipis, kami sudah minta tambahan kiriman dari Pusat," imbuhnya.