Advertisement
Peluang Ekspor Daging Ayam Terbuka Lebar, Ini Kendalanya
Ilustrasi. - Bisnis/Endang Muchtar
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Beberapa waktu lalu, terjadi oversupply ayam di pasaran. Untuk menangani hal tersebut, salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni dengan pendataan dan merambah pasar ekspor.
Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan Jully Paruhum Tambunan mengungkapkan peluang ekspor ayam dari peternak dalam negeri masih terbuka lebar. Ia mengungkapkan pasar yang menjanjikan yakni Arab Saudi dan Singapura serta beberapa negara di Asia Tenggara lainnya.
Advertisement
"Misalnya di Arab Saudi, peluangnya besar karena potensi dari Indonesia yakni dua juta masyarakat kita melakukan ibadah haji dan umrah. Ini jadi peluang, daripada mereka di sana makan ayam cepat saji, lebih baik konsumsi ayam dari Indonesia sendiri," kata dia, Kamis (18/7).
Ia mengatakan daging ayam dari Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Ayam di Indonesia memang lebih kecil tetapi tekstur daging lebih kenyal dan rasanya enak. Selain Arab Saudi, Singapura juga menjadi potensi tujuan ekspor. Namun, ia mengakui ekspor ke Singapura masih dikuasi Malaysia yang harga daging ayamnya lebih murah dibandingkan Indonesia.
BACA JUGA
Laju Impor
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yanto Apriyanto mengungkapkan peternak di DIY selama ini belum pernah merambah ke pasar ekspor. Pasalnya hasil produksi masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal DIY dan untuk menahan laju impor. "Selain itu harga daging ayam di luar negeri negeri lebih murah. Hal ini dipengaruhi faktor harga pangan seperti jagung. Ini jadi kendala sendiri," tutur dia.
Ia mengungkapkan pengusaha ternak ayam yang berskala besar diharapkan berusaha untuk ekspor dan merambah pasar luar negeri. Sementara, peternak kecil diharapkan jangan sampai kalah dengan pengusaha besar.
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo pesimistis dengan ide ekspor ke luar negeri karena harga ayam di Indonesia lebih mahal. "Kecuali kalau ada cold storage dahulu baru dikirim ke luar negeri. Tetapi ya harganya pasti ditekan," jelas dia.
Selain itu, saat ini hasil produksi dari DIY juga hanya untuk memenuhi kebutuhan di DIY dan tidak bisa ke luar daerah. Pasalnya kebutuhan daerah lain sudah tercukupi dari produksi daerah itu sendiri. Hal yang lebih memungkinka yakni mengurangi impor untuk melindungi peternak lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
Advertisement
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
- Tiket Kereta Lebaran Daop 6 Jogja Tersedia 309 Ribu, Ini Daftarnya
- Trump Ancam Naikkan Tarif Impor Tanpa Persetujuan Kongres
- Impor 105.000 Pikap India Diprotes Buruh, Ini Alasannya
- OJK Tegaskan Influencer Keuangan Bisa Disanksi Jika Merugikan Publik
- LPS: Bank Syariah Kini Lebih Kompetitif dari Bank Konvensional
- Harga Emas Pegadaian 26 Februari 2026, UBS Rp3,099 Juta per Gram
- Harga Pangan Hari Ini Turun, Daging Sapi Rp137.867 per Kg
Advertisement
Advertisement








