Diabolo, Permainan Tradisional Tionghoa yang Tetap Lestari

Diabolo, Permainan Tradisional Tionghoa yang Tetap Lestari Founder Jogja Diabolo Squad, Angela Irena memainkan Diabolo, belum lama ini. - Istimewa/Jogja Diabolo Squad
01 Juli 2020 19:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Komunitas Jogja Diabolo Squad diharapkan mampu menjadi wadah generasi milenial untuk mencintai dan menghargai akulturasi budaya. Salah satunya terkait dengan pelestarian budaya lewat permainan tradisional asal Tiongkok, Diabolo.

“Menurut saya melestarikan budaya tidak perlu susah-susah. Permainan pun bisa jadi wadah untuk memperkenalkan budaya kepada orang lain, why not? small act, big impacts,” kata Founder Jogja Diabolo Squad, Angela Irena, Rabu (1/7/2020).

Angela menceritakan bagaimana awal komunitas ini terbentuk. Ketika mengikuti ajang Pemilihan Koko Cici Jogja, dia menampilkan permainan Diabolo pada malam talent show. Sejak saat itulah dia lantas diberi gelar Cici Jogja Best Talent 2018.

“Sejak itu banyak pihak dari Jogja Chinese Art and Culture Centre [JCACC] termasuk Koko Cici Jogja dan Hoo Hap Hwee Jogja yang mendukung saya untuk membuat komunitas Diabolo ini. Saya ingat persis pada malam tanggal 11 Agustus 2018 pembicaraan tentang perintisan komunitas berlangsung di sebuah kafe di Jogja,” ucap Angela.

Dari situ terbentuklah nama Jogja Diabolo Squad. Lalu juga dibuat untuk merambah media sosial dibuat akun surel, dan akun Instagram @jogjadiabolosquad. “Saya juga secara khusus ingin mengucapkan banyak terima kasih banyak kepada Ko Ernest, Ko Edy, Ko Chandra, Ko Herman, dan Ko Endy yang ikut berdiskusi di malam itu. Setelah malam itu barulah saya mulai melakukan branding, salah satunya membuat logo serta mencari engagement yang lebih luas,” ucapnya.

Dia menjelaskan banyak kegiatan yang dilakukan oleh Jogja Diabolo Squad. Mulai dari latihan yang biasanya berbarengan juga dengan jam latihan liong dan barongsai dari Hoo Hap Hwee, jadi terkadang bercampur.

Angela mengatakan kesulitan paling dasar dalam memainkan Diabolo yaitu keseimbangan. Ketika tangan kanan dan kiri mampu mengontrol iramanya, maka Diabolo akan berputar dengan kencang.

Selain latihan, imbuh Angela, Jogja Diabolo Squad juga acap diundang untuk mengisi di sejumlah event, mulai dari yang berskala regional hingga nasional. “Selain itu, kami juga pernah diundang untuk mengisi di program salah satu televisi swasta nasional,” ucap dia.

Jaminan Regenerasi

Jika beberapa komunitas kerap dicemaskan dengan masalah regenerasi, tidak halnya dengan Jogja Diabolo Squad. Angela mengaku tidak pernah khawatir soal regenerasi, karena semua anggota JCACC secara khusus anggota Koko Cici Jogja dan Hoo Hap Hwee merupakan anggota dari Jogja Diabolo Squad juga.

Oleh sebab itu, tidak ada jumlah yang spesifik. Dia juga masih mempertimbangkan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas khususnya di Jogja. “Ke depannya ketika Covid-19 sudah mereda, kami akan mulai menyusun perencanaan baru untuk open recruitment,” ujar dia.