Advertisement
Di Balik Perhiasan Bantu My Dee, Ada Cerita di Setiap Untaiannya
Atiek Kusuma menunjukkan salah satu koleksi My Dee ketika ditemui dalam Grebeg UMKM DIY 2019, Atrium Plaza Ambarrukmo, Sleman, Kamis (14/11)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Atiek Kusuma memproduksi perhiasan kalung berbahan batu alam. Produk yang ia beri nama My Dee tak sekadar perhiasan. Ada cerita di setiap untaiannya.
Atiek Kusuma mengawali bisnisnya justru karena hobi memakai kalung, tetapi tidak pernah menemukan kalung yang sesuai seleranya seperti bahan yang digunakan, kualitas, kerapihan. Sekitar 2005 ia mulai membuat kalung sendiri dari bahan yang ia suka yakni batu alam. Ketika dipakai, teman-temannya pun tertarik dan ingin membeli.
Advertisement
"Sekitar 2006, mulai ada yang tertarik. Saya sadar ini bisa dijual. Kemudian mulai 27 Oktober 2007 saya mehadirkan My Dee," kata dia kepada Harian Jogja ketika ditemui dalam Grebeg UMKM DIY 2019, Atrium Plaza Ambarrukmo, Sleman, Kamis (14/11).
Menurutnya, ketika membuat kalung ia belajar sendiri dan mencari cara sendiri dengan bertanya ke teman dan browsing di Internet. "Saya menetapkan pasar di premium. Saya gunakan batu alam dan setiap desain hanya dibuat satu buah. Jadi, enggak ada yang ngembarin," kata dia.
Ia mengungkapkan setiap produk memiliki cerita sendiri. Hal itu menambah nilai jual pada produknya. Salah satunya soal seri kalung Borobudur sebanyak tiga kalung yang terdiri dari kalung soal Borobudur, Buddha, dan biksu. "Misalnya untuk Borobudur, itu cerita soal Borobudur. Ada bentuk yang mengambarkan teratai karena Borobudur itu dikelilingi teratai. Kemudian ada dua kepala Buddha yang melambangkan yin dan yang. Setiap bentuk saya pikirkan benar-benar maknanya. Jadi enggak asal buat," kata dia.
Ada pula kalung soal konservasi alam, keindahan Tana Toraja. Dan perjuangan para romusha dalam kalung Daludarba. Ia memang selalu melakukan riset ketika membuat sebuah karya agar cerita yang diangkat akurat. Terkadang ide muncul terlebih dahulu baru mencari bahan, terkadang sebaliknya. "Kalau semua sudah ada, proses pembuatannya cepat. Ada empat pekerja yang membantu saya, dua di produksi, satu admin, dan satu marketing. Untuk produk yang sangat premium, saya kerjakan sendiri," kata dia.
Ia juga memiliki bank ide. Setiap ada ide yang muncul langsung ditulis atau disketsa. Bank ide itu sangat membantu ketika akan memproduksi kalung yang unik. Produknya dijual dengan harga mulai Rp500.000.
Produknya pun digandrungi banyak orang. Penjualan di Indonesia hampir semua daerah. Untuk ke luar negeri penjualan melalui diaspora. Ia mengaku belum merambah ekspor. Namun, ketika mengikuti Trade Expo Indonesia, ia berkesempatan bertemu buyer yang cocok dengan konsep jualannya yakni produk premium dan bukan produk yang diproduksi massal.
Ia mengatakan dua tahun ikut Grebeg UMKM. Ia juga menjadi binaan Bank Indonesia. Untuk laporan keuangan pun menjadi lebih teratur. Ia mengaku terbantu baik dari sisi manajemen, kemasan, permodalan, hingga pemasaran. "UMKM harus mau maju. Penjualan penting, tetapi bukan satu-satunya. Link itu penting. Jaga kualitas juga penting. Kualitas harus stabil. Meskipun banyak order kerapihan tetap hsrus dipertahnkan," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
BNNK Sleman Edukasi Narkoba lewat Upacara Bendera, Sasar 4.142 Siswa
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen, Bank Mandiri Catat Aset Rp2.829 Triliun
- Pegadaian Klarifikasi Kelangkaan Emas Fisik di Sejumlah Gerai
- Ekonomi DIY 2025 Tumbuh Tertinggi di Jawa, Capai 5,94 Persen
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
- Kemiskinan DIY Turun 3.030 Orang, Gini Ratio Membaik
Advertisement
Advertisement



