9 Hari Terkapar di Zona Merah, Rupiah Mulai Bangkit

9 Hari Terkapar di Zona Merah, Rupiah Mulai Bangkit Karyawan menghitung uang dollar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Senin (11/3/2019). Bisnis - Nurul Hidayat
24 Maret 2020 18:27 WIB Finna U. Ulfah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Rupiah berhasil menguat meskipun tetap berada di atas level Rp16.000 per dolar AS, setelah 9 hari perdagangan berturut-turut parkir di zona merah.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (24/3/2020) rupiah ditutup di level Rp16.500 per dolar AS, terapresiasi 0,45 persen atau 75 poin. Kinerja ini merupakan penguatan rupiah untuk pertama kalinya dalam sembilan perdagangan terakhir.

Selain itu, penguatan rupiah juga bersamaan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Kinerja terbaik dipimpin oleh won yang menguat 1,34 persen, lalu diikuti oleh dolar Singapura yang menguat 0,76 persen dan peso Filipina yang naik 0,75 persen.

Dalam perdagangan yang sama, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,87 persen menjadi 101,591. Kendati demikian, level rupiah saat ini hanya berjarak 150 poin dari level terendah mata uang Garuda sepanjang sejarah.

Sementara itu, kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Selasa (24/3/2020) berada di posisi Rp16.486 per dolar AS, menguat 0,7 persen dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp16.608 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa penguatan rupiah bersama rekan mata uang Asia lainnya disebabkan oleh optimisme pasar bahwa pemerintah AS akan segera menggelontorkan stimulus untuk membantu menjaga pertumbuhan ekonominya.

“Pasar masih menunggu persetujuan stimulus pemerintah AS senilai US$2 triliun oleh Senat AS yang bisa memberikan sentimen penguatan tambahan untuk rupiah,” ujar Ariston saat dihubungi Bisnis, Selasa (24/3/2020).

Selain itu, The Fed jugas secara tiba-tiba menggelontorkan stimulus yang telah melemahkan dolar AS sehingga menjadi momentum penguatan aset berisiko, termasuk rupiah.

The Fed membeli obligasi dalam jumlah tak terbatas guna menjaga biaya pinjaman tetap rendah serta menyiapkan program untuk memastikan aliran kredit ke perusahaan juga pemerintah negara bagian dan lokal aman.

Ariston menjelaskan bahwa rupiah saat ini masih menguji level Rp16.300 per dolar AS. Jika rupiah gagal menembus level tersebut maka mata uang Garuda berpotensi terkoreksi menuju level resisten Rp16.575 per dolar AS.

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rupiah berpotensi kembali melemah pada perdagangan Kamis (26/3/2020) seiring dengan bertambahnya kasus positif virus corona atau COVID-19 di Indonesia.

Hingga Selasa (24/3/2020) pukul 17.00 WIB, jumlah kasus baru virus corona bertambah 107 menjadi total 686 pasien terjangkit. Selain itu, korban meninggal juga meningkat menjadi 55 orang.

“Ini yang akan menjadi sentimen negatif terhadap rupiah pada perdagangan selanjutnya, karena rilis data virus corona kemungkinan terus meningkat,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (24/3/2020).

Dia memperkirakan pada Kamis (26/3/2020), rupiah bergerak di kisaran Rp16.450 per dolar AS hingga Rp16.750 per dolar AS.

Adapun, berdasarkan data Bank Indonesia (BI) aliran modal asing yang keluar dari Indonesia sejak awal tahun hingga periode 23 Maret 2020 telah mencapai Rp125,2 triliun. Dalam media briefing Selasa (24/3/2020), BI berkomitmen untuk terus melakukan kerja sama dengan pemerintah guna menstabilkan nilai tukar rupiah.

Sumber : Bisnis.com