Meski Sama-Sama Rugi, Pertamina Jauh Lebih Baik daripada Perusahaan Migas Lain di Dunia

Meski Sama-Sama Rugi, Pertamina Jauh Lebih Baik daripada Perusahaan Migas Lain di DuniaIlustrasi petugas memindahkan Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu SPBU yang ada di Jakarta, beberapa waktu lalu./Bisnis Indonesia - Nurul Hidayat
27 Agustus 2020 12:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mencatat kerugian sebesar US$761,23 juta atau sekitar Rp10,85 triliun (kurs 30 Juni Rp14.265). Namun, kondisi serupa juga dialami perusahaan migas lainnya di dunia. Beberapa perusahaan bahkan mengalami kerugian lebih besar.

Beberapa faktor penyebab menurunnya kinerka Pertamina antara lain harga jual di hulu yang jatuh ke bawah titik keekonomian, perubahan pola konsumsi energi terutama minyak dan gas akibat pembatasan sosial berskala besar, serta fluktuasi nilai tukar rupiah dan dolar Amerika Serikat yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan migas.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bisnis Indonesia edisi Senin (24/8/2020), Pertamina membukukan pendapatan sebesar US$20,48 miliar pada semester I/2020. Dibandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$25,46 miliar. Artinya sepanjang 6 bulan tahun ini jumlah pendapatan Pertamina menyusut 19,56%.

Perusahaan hanya berhasil meningkatkan penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak menjadi US$1,76 miliar. Jumlah ini naik 9,75% secara year-on -ear (yoy). Namun, nilainya tak signifikan untuk mengatrol total penjualan perseroan.

Pasalnya, pos lainnya mengalami penurunan. Perinciannya pendapatan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi, dan produk minyak sebagai kontributor terbesar, turun 19,82% menjadi US$16,56 miliar

Namun tidak hanya Pertamina. Perusahaan migas dunia lainnya juga mengalami hal yang sama. 

Berdasarkan grafis kondisi kinerja perusahaan migas dunia dari Kementerian BUMN yang diterima Harianjogja.com, Kamis (27/8/2020), perusahaan migas besar sekelas Chevron juga mencatatkan kerugian. Perusahaan yang berbasis di Amerika itu mengalami kerugian 4,70% dari total asetnya sebesar US$223,40 miliar. 

Kemudian Exxon Mobil juga merugi 1,10% dari total aset US$361,50 miliar. ConocoPhillips merugi 1,43%, Total rugi 8,40% dari total aset US$259,41 miliar, dan Shell rugi 18,40% dari aset besarnya senilai US$375,10 miliar. 

Selanjutnya ada Petrobas yang rugi 10,41% dari total aset US$185,38 miliar, BP, perusahaan yang berbasis di Inggris, rugi 21,21% dari total aset US$263,18 miliar. Terakhir Eni yang mencatatkan kerugian 8,66%. 

Melihat kondisi perusahaan-perusahaan migas tersebut, Pertamina masih dapat dikatakan berada di posisi yang baik. Jika dibandingkan dengan perusahaan migas besar lainnya, rasio kerugian Pertamina terhadap total aset yang dimiliki terkecil kedua setelah Exxon. 

Sementara jika dibandingkan dengan ConocoPhillips dan Eni yang memiliki total aset mendekati Pertamina, kerugian Pertamina jauh lebih kecil. Pertamina merugi 0,77% dari total asetnya US$70,23 miliar sementara ConocoPhillips rugi 1,43% dari total aset US$63,05 miliar dan Eni rugi 8,66% dari total aset US$69,50. 

Berikut ini grafis kondisi menurunnya kinerja perusahaan migas di dunia pada semester pertama 2020.

Associate Director BUMN Research Group (BRG) LM-Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan penurunan kinerja Pertamina memang tak terhindarkan sejalan dengan kondisi industri. Namun, menurutnya dampak efisiensi yang masih minim turut berkontribusi terhadap penurunan kinerja tersebut.

“Meskipun upaya efisiensi telah dilakukan, namun penurunan delta biaya jauh lebih kecil dibandingkan penurunan delta revenue yang merosot tajam. Sehingga, angka bottom line menjadi negatif,” katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia.

Sumber : bisnis.com